HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Ini kiat Dinkes Papua hadapi KLB

Sekretaris Dinkes Papua, Silwanus Sumule - Jubi/Humas Dinkes Papua.
Ini kiat Dinkes Papua hadapi KLB 1 i Papua
Sekretaris Dinkes Papua, Silwanus Sumule – Jubi/Humas Dinkes Papua.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua berupaya untuk menghindari atau mengatasi kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di Papua.

Untuk mengatasi hal tersebut Dinkes Papua telah menetapkan standar kebijakan baru dengan cara mengirim Tim Krisis Kesehatan Dinkes Papua bekerjasama dengan Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) ke daerah tersebut untuk mengecek atau melakukan assessment (penilaian) awal.

Ini kiat Dinkes Papua hadapi KLB 2 i Papua

“Tim Krisis Kesehatan dan UP2KP tiba, mereka melakukan assessment awal, mereka akan menghubungi teman-teman di kabupaten, apakah kasus ini bisa diatasi oleh Dinkes Kabupaten atau tidak. Jika bisa diatasi kabupaten, maka Dinkes Papua akan memantau. Tetapi jika tidak bisa, maka itu akan ditake-over oleh Dinkes Papua. Setelah itu, kita akan turunkan Tim Daerah Terisolir ke daerah itu untuk bekerja 3-4 bulan untuk memetakan permasalahan berdasarkan assessment awal dari Tim Krisis Kesehatan dan UP2KP itu,” kata Sekretaris Dinkes Papua, Silwanus Sumule dalam rilis yang diterima Jubi, Senin (15/4/2019).

Kata Silvanus, Tim Daerah Terisolir tersebut bekerja dalam dua aspek yaitu aspek kuratif dan rehabilitatif di mana akan dilakukan pelayanan dan pengobatan.

“Tim ini akan ditarik dan diganti dengan tim Satgas Kijang dan Terapung. Tugas Satgas Kijang ini bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Jadi tugas mereka kompleks selama dua tahun. Kita juga bekerjasama dengan Tim Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan. Setelah tim ini selesai, selanjutnya tugas pelayanan kesehatan ini kita serahkan kepada kabupaten setempat. Nah itulah konsep besar mensinkronkan antara Tim Dinas Kesehatan dan Tim Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Dikatakan, kasus KLB di Papua harus dibedakan antara KLB akibat bencana seperti Banjir Bandang Sentani, 16 Maret lalu dengan KLB yang bersifat insidentil yang kerap terjadi di pedalaman Papua.

Untuk itu, kata dia, pihak Dinkes Papua telah memetakan wilayah-wilayah yang potensial terjadi KLB insidentil itu, khususnya di kabupaten dengan cakupan imunisasi Measles, Rubella dan Polio (MRP) yang sangat rendah.

“Ketika KLB Asmat pecah awal 2018, kami mendeteksi ada sekitar 13 kabupaten di Pegunungan Tengah Papua yang berpotensi KLB. Kalau tidak segera dilakukan intervensi imunisasi, bisa pecah KLB lagi di daerah itu, terutama akibat polio,” katanya.

Berdasarkan data per 13 April 2019, cakupan MRP di Provinsi Papua masih mencapai 66,78 persen. Dari 29 kabupaten/kota, baru tujuh kabupaten yang menyelesaikan cakupan MRP di atas 95 persen sesuai permintaan Kementerian Kesehatan dan enam kabupaten dengan cakupan 80-90 persen. Terdapat sembilan kabupaten yang cakupannya berada di bawah 25 persen di mana lima kabupaten memiliki cakupan paling rendah yakni Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Tolikara, Deiyai, dan Nduga.

“Problem utama memang di geografi dan karakteristik wilayah yang sulit dijangkau petugas kesehatan. Tapi buktinya Mappi bisa sampai di atas 95 persen. Mengapa, karena ada kemauan dan dukungan dari Pemda dan Dinkes setempat. Jadi paling utama adalah dukungan dan komitmen dari pimpinan daerah. Kalau ada Pemda yang mau sewa pesawat, koordinasi antara kepala dinas kesehatan kepala Puskesmas berjalan, saya yakin imunisasi ini akan segera selesai,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai berharap Dinas Kesehatan di kabupaten membuat perencanaan yang baik dan mengalokasikan anggaran yang cukup bagi sektor kesehatan. Salah satunya, membentuk tim kesehatan bergerak  untuk menjangkau pelayanan bagi masyarakat di daerah yang sulit dijangkau dengan mengambil contoh Satgas Kijang.

“Saya pernah membuat perhitungan, kalau saja kita bisa menyiapkan dana 1 tahun Rp 1,5 miliar untuk menyewa pesawat, dalam waktu satu setengah tahun, imunisasi di sana sudah selesai. Kalau itu semua dibebankan kepada Provinsi Papua, tentu berat. Nah yang jadi masalah suku Korowai masuk dalam beberapa kabupaten,” kata Giyai.

Menurut Aloysius, selama 2015-2017, terjadi sejumlah kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) di antaranya di Kabupaten Asmat, Distrik Mbua dan Yigi-Kabupaten Nduga, Distrik Tigi Barat Kabupaten Deiyai, Distrik  Samenage dan Korowai-Kabupaten Yahukimo, dan Distrik Okbab- Kabupaten Pegunungan Bintang.

“Kematian yang terjadi umumnya dengan pola yang sama yakni menimpa bayi dan anak-anak, terjadi di daerah terisolir Papua, petugas kesehatan tidak ada di situ, fasilitas kesehatan minim, penduduk menyebar dengan jarak sangat jauh dan terjadi gizi buruk di situ. Ini harus jadi perhatian semua kabupaten, terutama yang pernah mengalami KLB,” ujarnya. (*)

Editor       : Edho Sinaga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top