Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Ini problem perlindungan anak di tengah pandemi menurut KPAI

papua
Ilustrasi perempuan dan anak, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan tiga masalah perlindungan anak di masa pandemi Covid-19. Ketiga masalah itu meliputi perlindungan anak dari penyalahgunaan gawai, kesehatan, dan pendidikan.

“Ketiganya perlu dicermati oleh pemerintah,” kata Ketua KPAI, Susanto, dalam sebuah diskusi virtual, Minggu (16/8/2020) kemarin.

Susanto mengatakan isu pertama adalah perlindungan anak dari gawai, lantaran anak-anak semakin lekat dengan perangkat elektronik itu selama masa pandemi ini. Temuan KPAI menunjukkan sebanyak 22 persen anak melihat tayangan dan iklan tidak senonoh melalui gawai. Sedangkan 5 persen anak dikirimi foto tidak senonoh, dan 3 persen dikirimi video tidak sopan.

“Jadi, harus benar-benar dipastikan suara anak yang masuk KPAI disampaikan bagaimana tanggung jawab negara agar anak-anak tidak terpapar konten-konten berisiko,” kata Susanto menambahkan.

Baca juga : Pengendara ojek daring diminta patuhi perlindungan anak

Hakim bebaskan korban kriminalisasi kasus pembunuhan Istaka Karya  

Loading...
;

KPAI sebut beasiswa produsen rokok eksploitasi terselubung

Masalah perlindungan dari aspek kesehatan saat ini banyak anak yang terpapar Covid-19. Hal itu berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang menyebutkan setiap hari ada 100 anak tertular Covid-19.

“Ini harus menjadi perhatian besar dan PR kita, kalau kita tidak melakukan advokasi maka dikhawatirkan upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 pada anak semakin defisit,” kata Susanto menjelaskan.

Sedangkan terkait dengan pendidikan anak saat pandemi terjadi karena dampak pemberlakukan skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang menimbulkan sejumlah konsekuensi pada anak. Susanto menyebut hasil survei KPAI yang mengungkapkan 25,4 persen anak menggunakan perangkat (gawai) seperti ponsel, tablet, maupun komputer jinjing lebih dari 5 jam per hari. Selain itu , 76,8 persen anak menggunakan perangkat tersebut selain untuk belajar.

Namun sebanyak 79 persen anak mengaku tidak memiliki aturan menggunakan perangkat tersebut. Hal itu diakui banyak anak di Indonesia yang tidak memiliki gawai untuk melangsungkan kegiatan belajar jarak jauh.

“Belum lagi, sebagian mereka mengaku kesulitan mencari sinyal karena faktor demografis maupun tidak mampu membeli kuota internet karena tekanan ekonomi,” katanya.

KPAI telah membahas sejumlah isu tersebut dengan pihak terkait. Meliputi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, hingga dinas pendidikan di masing-masing wilayah. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top