Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Injil dan noken bagi peradaban suku Arfak (Bagian II)

Injil dan noken bagi peradaban suku Arfak (Bagian II) 1 i Papua
Perempuan arfak saat memperlihatkan cara mengayam noken khas Arfak. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Manokwari, Jubi – Suku besar Arfak, 122 tahun silam adalah salah satu suku di Papua (Irian Jaya) yang tidak dapat didekati karena hidup dalam peperangan dan dianggap ganas.  Sejarah peradaban suku Arfak 122 tahun silam memberikan inspirasi tentang perjalanan panjang  yang tidak terlepas dari doa dan harapan para penginjil untuk menjangkau suku ini.

Bagian dalam tulisan ini tentang sejarah peradaban suku Arfak dari pesisir sampai pegunungan oleh pemberitaan injil dan hubungannya dengan noken atau monga (dalam bahasa Arfak) yang masih dipertahankan sampai saat ini sebagai warisan budaya.

Injil dan noken bagi peradaban suku Arfak (Bagian II) 2 i Papua

Suku Arfak di pesisir Manokwari lebih dulu menerima injil melalui pengajaran guru Petrus Kafiar (1897) atau 42 tahun setelah Pekabaran Injil di Mansinam. Sedangkan sebagian besar suku Arfak di daerah pegunungan, baru menerima injil  pada tahun 1955 atau 100 tahun setelah pakabaran injil di Mansinam, mereka adalah Walter Erikson dan Edward Tritt, dua penginjil kebangsaan Amerika.

42 tahun setelah pekabaran injil di Mansinam oleh Ottow dan Geissler pada 5 Februari 1855, Petrus Kafiar guru injil pertama di tanah Papua,  bertolak dari pulau Mansinam ke daratan Manokwari tanggal 11 Februari 1897. Petrus Kafiar menepi dipesisir utara Manokwari  yang saat ini disebut Amban pantai dan memulai pengajaran tentang injil saat itu.

Suku Arfak sendiri terdiri dari empat sub suku yaitu Hattam, Meyah, Sough dam Moile. Dalam catatan F.J.S. Rumainum, menjelaskan tentang guru Petrus Kafiar, putra Papua pertama yang menjadi guru penginjil (1864-1926). Dalam pekerjaan penginjilannya, Petrus Kafiar berhasil menjangkau suku Meyah, salah satu sub suku Arfak yang berdiam dipesisir utara Manokwari.

Kekuasaan pemerintahan Belanda saat itu, sangat mempengaruhi para misionaris dalam menjalankan misi penginjilan di wilayah Papua (Irian Jaya).  100 tahun  setelah pendaratan Injil di Mansinam, dua missionaris kebangsaan Amerika, Walter Erikson dan Edward Tritt tiba di Manokwaari dengan  misi penginjilan, namun oleh para Zending Belanda saat itu meminta kedua misionaris itu pergi ke gunung yang tertutup awan karena di sana belum ada gereja. Sedangkan di wilayah pesisir dan dataran Manokwari sudah banyak bangunan gereja hasil penginjilan Petrus Kafiar.

Loading...
;

Seiring dengan misi penginjilan dari para missionaries, 122 tahun silam, kaum wanita suku Arfak juga dibekali dengan  seni mengayam tas rajutan (noken) atau dalam bahasa Arfak “Monga” secara berkesinambungan, turun temurun terus digeluti oleh remaja hingga perempuan dewasa.

Hingga saat ini, Monga/Noken dianggap sebagai warisan sejarah peradaban suku Arfak yang memiliki arti luas.  Monga/Noken bagi suku Arfak, diidentikan dengan sosok perempuan yang mampu menampung semua harapan dan masa depan generasi penerus suku Arfak.

Sebagai bentuk menjaga kelestarian Monga/Noken, Bupati Pegunungan Arfak, Yosias Saroi tanggal 24 Februari 2019 lalu secara resmi menetapkan Kabupaten Pegaf sebagai Kabupaten Ramah Monga/Noken. Selain itu Pegaf juga ditetapkan sebagai Kabupaten bunga. Monga/noken dan bunga, bagi Bupati Saroi, adalah kebanggaan Pegaf yang ke depan akan dikembangkan untuk melengkapi potensi wisata pegunungan.

Bastian Salabai, Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Theologia Erikson-Tritt (STT-ET) di Manokwari mengatakan,  Distrik Minyambouw, Anggi dan Testega di kabupaten Pegunungan Arfak merupakan tempat sejarah awal mulainya pekabaran injil oleh para  missionaries yang melahirkan Gereja Persekutuan Alkitab Indonesia (GPKAI).

Mantan Bupati Manokwari ini mengisahkan, awalnya, Erikson dan Tritt coba memberitakan injil di daerah dataran pesisir Manokwari, namun para zending Belanda saat itu mengarahkan jari mereka ke gunung yang tertutup awan (Pegunungan Arfak). Mereka katakan bahwa di pesisir pantai sudah banyak Gereja, tapi di gunung yang tertutup awan di sana belum ada gereja.

Saat itulah Erikson dan Tritt mulai menjangkau pegunungan Arfak, dan setelah itu, mereka kembali menyisir pantai hingga di Saukorem, arah barat pesisir Manokwari. Dalam misi pelayanan setelah di Saukorem, mereka akhirnya jadi martir di sana. Darah martir Erikson dan Tritt, kata Salabai, saat ini berubah menjadi tempat yang namanya Kabupaten Maybrat. Disitulah tempat kuburan Erikson dan Tritt.

“Sejak awal pekabaran injil oleh Ottow dan Geissler, banyak misionaris mulai berdatangan, mereka buka tiga pos penginjilan di wilayah pegunungan Arfak yaitu  Minyambouw Anggi dan Testega. Tiga tempat inipun penginjilan dilakukan  dalam tiga  bahasa daerah masing-masing sub suku, yaitu bahasa Hattam di Minyambouw, bahasa Meyah di Testega dan bahasa Sough di Anggi,” ujar Salabai.

Jadi sejarah GPKAI lahir setelah Ottow dan Geissler (Mansinam 1855), dengan demikian sampai hari ini, Minyambouw, Testega dan Anggi  jadi pusat pekabaran injil untuk suku Hattam, Meyah, dan Sough.

Dampak dari pekabaran injil, kata Salabai, saat ini  anak-anak suku Arfak mulai diberkati Tuhan, dan salah satu anak asli Arfak yang menjadi Gubernur adalah Dominggus Mandacan.  Ia juga sebelumnya dua periode menjabat Bupati Manokwari, dilanjutkan ke Bastian Salabai satu periode dan  Demas Paulus Mandacan Bupati Manokwari saat ini.

“Anak-anak Arfak jadi pemimpin dinegerinya sendiri karena dahulu orangtua mereka menerima dan menghormati injil,” ujarnya  mengisahkan.

Sementara Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan selaku kepala suku besar Arfak, sangat mendukung pengembangan potensi noken tersebut.

“Kami semua lahir dan pernah digendong dengan noken, ini fakta sejarah. Jadi bagi saya sebagai kepala suku besar Arfak di Papua Barat noken wajib dilestarikan,” katanya. (*)

 

Editor       : Edho Sinaga

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top