Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Insiden di depan RSUD Paniai harus jadi pembelajaran

Insiden RSUD Paniai, Papua
Yuve saat dirawat di RSUD Paniai di Madi, karena terluka dalam kericuhan antara polisi dan warga yang merusak portal di depan rumah sakit itu. - screenshot video
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sekretaris II Dewat Adat Papua versi Konferensi Masyarakat Adat di Biak, John NR Gobai berharap insiden pembubaran warga di depan Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Paniai di Madi menjadi pembelajaran bagi seluruh aparat keamanan. Penertiban warga agar mematuhi protokol kesehatan Covid-19 harus disampaikan secara santun, demi menghindari salah paham yang berisiko menjadi konflik antara warga dan aparat keamanan.

Hal itu dinyatakan Gobai menyikapi terjadinya kericuhan antara polisi dan warga di Madi, Paniai, pada Senin (10/6/2020). Saat itu, sekelompok warga merusak portal di depan RSUD Paniai, karena marah melihat warga bernama Sarah Yeimo terluka di sana. Seorang warga lain, Yuven Magay terluka saat polisi membubarkan massa. Kedua warga sempat diobati di RSUD Paniai, dan bisa pulang setelah diobati di sana.

Gobai meminta setiap aparat keamanan yang menjaga portal jalan tidak menghalangi pergerakan warga setempat. “Saya harap ini jadi pelajaran, agar kita tidak membatasi orang pulang ke rumahnya atau kampungnya,” kata Gobai kepada Jubi pada Jumat (12/6/2020).

Insiden di depan RSUD Paniai harus jadi pembelajaran 1 i Papua

Baca juga: Kapolda Papua diminta mengevaluasi tim pengamanan Covid-19 di Paniai

Gobai menyatakan portal jalan yang dipasang pada masa pandemi Covid-19 ditujukan untuk membatasi pergerakan orang dari luar daerah. Jika warga setempat merasa dipersulit melintasi portal jalan, mereka bisa salah paham, dan hal itu rawan menimbulkan konflik fisik di antara warga dan aparat keamanan. “Yang perlu menjadi perhatian kita adalah orang yang baru datang ke sebuah kabupaten, di mana saja di Papua,” kata Gobai.

Menurutnya, pembatasan dan pemeriksaan warga yang melintas akan sulit dilakukan jika portal jalan ditempatkan di rute perlintasan warga setempat menuju tempat aktivitas sehari-hari, misalnya pergi ke kebun atau ke pasar. Gobai meminta rincian yang sepertinya sepele itu diperhatikan, khususnya di kabupaten yang tidak memiliki kasus infeksi virus korona.

“Masyarakat yang menjadi korban [insiden di depan RSUD Paniai pada Senin] adalah masyarakat yang rumahnya di sekitar Madi, tempat pos [portal jalan pemeriksaan] Covid-19 di depan RSUD Paniai. Bijaknya, portal itu dibuka, biarkan warga setempat bisa melintas pergi dan pulang ke kampungnya,” ujar Gobai.

Loading...
;

Gobai meminta pemerintah memahami warga telah jenuh menjalani berbagai pembatasan aktivitas yang diterapkan untuk mencegah penularan virus korona. “Kita harus jujur, bahwa masyarakat mulai jenuh dengan pembatasan sosial. [Masyarakat juga jenuh dengan imbauan ‘stay at home’, walaupun maksud pemerintah baik, demi mencegah [penularan] Covid 19,”ujar Gobai.

Baca juga: Semprotan water canon Satgas Covid-19 tewaskan warga, Papua butuh payung hukum pembatasan sosial

Anggota Majelis Rakyat Papua utusan Sinode Gereja Kemah Injil di Tanah Papua, Pdt Nikolaus Degey mengatakan insiden di depan RSUD Paniai harus menjadi bahan bagi Kepala Kepolisian Daerah Papua untuk mengevaluasi polisi yang bertugas dalam tim pengamanan Covid-19 Paniai. “Saya memdesak Kapolda mengevaluasi kinerja anggota di lapangan, supaya [polisi tidak] bertindak berlebihan kepada masyarakat sipil,” kata Degey kepada Jubi, Jumat.

Degey menyatakan Yuven Magay dan Sarah Yeimo terluka dalam insiden itu, namun ia belum bisa memastikan penyebab warga terluka. “Beritahulah kalau masyarakat salah, jangan dengan kekerasan. Kalau kekerasan, itu bisa memicu konflik aparat dengan masyarakat yang lebih besar. [Jika itu terjadi], korbannya pasti masyarakat, [jumlahnya bisa] lebih banyak,” kata Degey.

Kantor Berita Antara pada Kamis (11/6/2020) melansir pernyataan Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw yang memastikan tidak ada warga yang tertembak dalam insiden Senin itu. ”Saya sudah mengecek ke Paniai, tidak ada warga yang mengalami luka tembak,” ujar Waterpauw kepada Antara.

Baca juga: Versi Polda Papua soal meninggalnya Justinus Silas Dimara

Menurut Waterpauw, insiden saat warga bernama Sarah Yeimo melintas lewat parit di samping portal jalan, dan terluka karena potongan kawat berduri di parit itu. Warga yang melihat Sarah Yeimo terluka marah, dan merusak portal jalan yang didirikan untuk membatasi pergerakan orang pada masa pandemi Covid-19. Sejumlah polisi yang berjaga di portal itu sempat mundur dan kembali ke Markas Kepolisian Resor (Polres) Paniai.

Kasat Samapta (Polres) Paniai Iptu Harsat Muthalib lalu datang ke lokasi, dan mencoba menenangkan warga. Para warga itu sempat membubarkan diri dan pulang. Sekitar pukul 16.45 WP, sekitar 50 warga kembali mendatangi portal itu, dan merusaknya dengan kapak dan parang. Warga kembali menarik diri setelah polisi dan tentara berjaga di portal itu.

Waterpauw menyatakan sekitar pukul 17.30 WP polisi melihat ada enam motor turun dari arah Pugo. Polisi melihat para penumpangnya membawa busur dan panah, sehingga polisi melepaskan tembakan peringatan. Keenam motor itu akhirnya tidak melanjutkan perjalanan mereka. ”Saya pastikan, tidak ada anggota atau warga yang mengalami luka tembak,” tegas Waterpauw.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top