Follow our news chanel

Previous
Next

Insiden penghadangan mahasiswa eksodus dilaporkan ke polisi

Kelompok Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura menghadang 27 mahasiswa eksodus yang akan diberangkatkan kembali ke kota studi di luar Papua oleh PAK-HAM Papua, Sabtu (11/1/2020). - Dok. Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura
Insiden penghadangan mahasiswa eksodus dilaporkan ke polisi 1 i Papua
Kelompok Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura menghadang 27 mahasiswa eksodus yang akan diberangkatkan kembali ke kota studi di luar Papua oleh PAK-HAM Papua, Sabtu (11/1/2020). – Dok. Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Insiden penghadangan mahasiswa eksodus yang akan berangkat meninggalkan Papua untuk melanjutkan kuliahnya pada Sabtu (11/1/2020) akhirnya dilaporkan ke polisi. Penghadangan itu membuat 16 mahasiswa eksodus batal berangkat meninggalkan Papua, sehingga belum dapat melanjutkan kuliahnya.

Hal itu disampaikan, Ketua Tim Pemulangan Mahasiswa Eksodus asal Papua, Alexander Mauri kepada jurnalis Jubi, Senin (13/1/2020). “Kemarin setelah dengar penghadang, saya cek di Bandara Sentani. [Saya] lihat sendiri adik-adik ini menangis ketakutan karena diancam. Saya arahkan buat laporan polisi,” kata Mauri.

Ia mengatakan pihaknya mengarahkan para mahasiswa eksodus yang gagal berangkat untuk melapor kepada polisi, karena merekalah yang mengalami kerugian akibat penghadangan itu. “[Kelompok yang menghadang] sudah merampas boarding pass [mahasiswa eksodus yang akan diberangkatan. Itu] merugikan mahasiswa eksodus yang akan meninggalkan Papua,” kata Mauri.

Sejak persekusi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua terjadi di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019, ribuan mahasiswa Papua yang berkuliah di luar Papua melakukan eksodus dan pulang ke Papua. Kepolisian Daerah Papua memperkirakan jumlah mahasiswa eksodus yang meninggalkan berbagai perguruan tinggi di luar Papua itu mencapai 3.000 orang. Sementara Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura menyatakan jumlah mahasiswa eksodus di Papua mencapai 6.000 orang.

Pasca eksodus itu, sebagian besar mahasiswa eksodus bertahan di Papua, dan sebagian kecil lainnya kembali ke kota studi di luar Papua untuk melanjutkan kuliah. Sejak Agustus 2019, kelompok Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura terus menyeru agar semua mahasiswa eksodus solid dan bertahan di Papua. Akan tetapi, mereka belum pernah menghadang atau menghalangi mahasiswa eksodus lain yang ingin kembali ke kota studinya masing-masing.

Situasi berbeda terjadi pada Sabtu, ketika sejumlah orang dari kelompok  Posko Induk Mahasiswa Eksodus di Jayapura menghadang 27 mahasiswa eksodus yang akan berangkat menuju kota studi. Para anggota kelompok  Posko Induk Mahasiswa Eksodus bahkan sempat mengejar para mahasiswa eksodus yang telah tiba di Bandara Sentani.

Loading...
;

Mauri menyatakan nilai kerugian material yang ditimbulkan penghadangan itu mudah dihitung. Harga tiket untuk satu mahasiswa eksodus yang ingin kembali ke berbagai kota studi di luar Papua berkisar Rp2,5 juta. Mauri menegaskan jika pihak yang menghadang pemberangkatan mahasiswa eksodus tidak meminta maaf, mereka harus diproses secara hukum.

“Saya minta tetap diproses hukum. Kecuali adik-adik [yang menghadang itu] mau komunikasi dengan kita, punya itikad baik, mau minta maaf kepada mahasiswa [yang menjadi] korban, ok kita bisa melakukan pencabutan laporan polisi,” ujarnya.

Ia menyatakan prihatin insiden penghadangan itu. Ia berharap kelompok  Posko Induk Mahasiswa Eksodus yang melakukan penghadangan pada Sabtu mau berkomunikasi dengan pihaknya. “[Mari] kita komunikasikan, [kekeliruannya] di mana? Kita bicara bersama. Kita berhenti [memakai] cara-cara lama ini,” kata Mauri.

Meskipun ditentang kelompok  Posko Induk Mahasiswa Eksodus, Mauri menyatakan pihaknya tetap akan memberangkatan mahasiswa eksodus yang ingin kembali berkuliah di berbagai kota studi di luar Papua. Mauri menyatakan hal itu dilakukan semata-mata demi alasan kemanusiaan dan masa depan para mahasiswa eksodus yang ingin kembali berkuliah.

Ketua Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua, Matius Murib membenarkan insiden penghadangan mahasiswa eksodus pada Sabtu lalu telah dilaporkan kepada polisi. Menurutnya, laporan itu dibuat mahasiswa eksodus yang menjadi korban karena gagal berangkat ke kota studi.

Matius Murib menyatakan para penghadang telah mengejar para mahasiswa eksodus ke Bandara Sentani, dan merampas tiket serta boarding pass mahasiswa yang akan berangkat ke kota studi. “Tiket dan boarding pass dirampas di bandara,” kata Murib kepada Jubi, Senin.

Murib menyatakan tidak mengetahui kelanjutan dari laporan polisi itu. Ia menyerahkan kelanjutan laporan itu kepada polisi. “Saya sendiri tidak tahu, tunggu polisi saja,” kata Murib.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top