Follow our news chanel

Previous
Next

Interpretasi foto Dubes Tiongkok di Kiribati

Duta Besar Tiongkok untuk Kiribati, Tang Songgen melangkah di atas punggung laki-laki muda sebagai bagian dari upacara penyambutan secara adat di Pulau Marakei, Kiribati. - Facebook

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Ben Doherty

Sebuah gambar telah dikritik sebagai lambang meningkatnya pengaruh Tiongkok di Pasifik, tetapi orang-orang Kiribati membela tradisi itu adalah bagian dari upacara penyambutan tradisional mereka.

Sebuah foto yang dilaporkan menunjukkan Duta Besar Tiongkok untuk Kiribati melangkah di atas punggung laki-laki muda sebagai bagian dari upacara penyambutan di negara kepulauan itu telah memicu perdebatan tentang interpretasi orang-orang asing atas adat istiadat lokal, serta perbincangan geopolitik tentang pengaruh Tiongkok yang terus meningkat di Pasifik.

Duta Besar Tiongkok, Tang Songgen, mengunjungi Pulau Marakei di Kiribati awal bulan ini.

Potret kedatangannya yang diabadikan tersebut menunjukkan duta besar itu berjalan diatas satu baris panjang punggung laki-laki muda yang terbaring di tanah di depannya.

Sambul melangkah, duta besar itu memegang tangan dua perempuan yang mengenakan pakaian adat.

Loading...
;

Gambar yang salah interpretasi dan di luar konteks

Meski sejumlah pengamat berpendapat bahwa gambar tersebut adalah lambang dari pengaruh Tiongkok yang semakin meningkat di negara kepulauan itu (Pemerintah Kiribati mengambil langkah kontroversial dan tiba-tiba mengalihkan aliansi diplomatiknya dari Taipei ke Beijing September lalu), banyak i-Kiribati membela foto itu secara daring, menekankan bahwa kebiasaan tersebut adalah ada tradisional mereka dan foto tersebut telah dengan sengaja di salah interpretasikan.

Atase pertahanan Amerika Serikat untuk lima Kepulauan Pasifik, termasuk Kiribati, Komandan Constantine Panayiotou, juga berkomentar secara daring: “Saya tidak bisa membayangkan satu pun skenario dimana berjalan di atas punggung anak-anak adalah perilaku yang pantas oleh duta besar negara mana pun (atau orang dewasa manapun!).”

Anggota Parlemen dari Australia, Dave Sharma, seorang mantan diplomat yang sempat bertugas di misi Australia di Papua Nugini, berkata dia terkejut melihat gambar itu. “Saya akan sangat kaget jika ada perwakilan dari Australia yang berpartisipasi dalam upacara seperti ini,” tegasnya kepada ABC.

Kepala kantor Australia untuk Pasifik mengklasifikasikan pada hari Selasa beberapa pekan lalu, bahwa Komisaris Tinggi Australia di Kiribati saat ini, Bruce Cowled, tidak pernah berpartisipasi dalam upacara adat yang serupa.

Namun, banyak i-Kiribati menerangkan bahwa kebiasaan tersebut merupakan adat yang dipegang di banyak pulau di negara itu, dan bahwa upacara penyambutan secara adat yang resmi itu telah dinilai di luar konteks.

“Ini adalah bagaimana pulau kita menghormati tamu yang datang,” menurut Adlih Ztuhcs. “Jika ada orang asing yang menikah kedalam satu keluarga, laki-laki di keluarga perempuan akan berbaring di tanah sebagai tanda penyambutan. Sedangkan untuk perempuan, laki-laki akan memanggulnya dipundak ke tempat tujuan mereka. Adat upacara penyambutan yang sama dilakukan bagi semua orang dan sering dilaksanakan saat upacara pernikahan dan kunjungan pertama. Jangan memanipulasi fakta dan memaksanya untuk sesuai dengan kisah kita.”

Kepulauan Pasifik harus bisa memiliki menentukan sendiri budayanya

Dr. Katerina Teaiwa, profesor di College of Asia and the Pacific di Australian National University, berkata meskipun simbolisme itu bisa menjadi meyakinkan, orang-orang Marakei tampaknya menunjukkan rasa hormat dan keramahtamahan, bukan ditaklukan.

“Orang-orang Marakei dapat menyambut pejabat-pejabat asing menggunakan cara apa pun yang ingin mereka gunakan, mereka terkenal masih memegang erat banyak adat istiadat di tanah mereka. Semua orang harus lebih tenang mengenai hal ini, dan lebih menghormati keragaman dari budaya Pasifik, orang-orang Kepulauan Pasifik harus bisa memiliki menentukan sendiri budayanya.

“Orang-orang Pasifik dapat menentukan sendiri adat mana yang ingin dipertahankan atau diubah kembali untuk zaman ini, dan mana yang harus diubah karena ada unsur kekerasan, diskriminatif, dll. Saya selalu kagum dengan i-Kiribati yang terus menghormati abara – tanah kita – walaupun ada kehadiran pemerintahan kolonial.”

Kunjungan untuk mempererat hubungan antara Tiongkok-Kiribati

Tang, yang ditunjuk sebagai Duta Besar Tiongkok untuk Kiribati pada Maret lalu, membagikan pernyataan daring tentang kunjungannya ke Tabiteuea Utara, Tabiteuea Selatan, dan Marakei awal bulan ini.

“Tim kedutaan besar disambut dengan hangat dan diterima di pulau-pulau tersebut oleh tetua, dewan-dewan pulau, serta masyarakat setempat. Kita disambut dengan upacara tradisional, diundang untuk hadiri acara di maneaba (rumah pertemuan) setempat.”

Pernyataan itu selanjutnya menerangkan bahwa “tujuan utama tujuan kita adalah agar hubungan antara Tiongkok-Kiribati dapat lebih menguntungkan bagi banyak warga Kiribati.”

Sebagai bekas jajahan Inggris yang terdiri dari tiga kepulauan, terbentang di samudra seluas seluruh India, Kiribati memiliki keunggulan strategis yang signifikan di era persaingan AS-Tiongkok di Pasifik.

Kekhawatiran AS kembali di-sulut tahun lalu, dimana Presiden Kiribati Taneti Maamau membuat keputusan mendadak dan kontroversial untuk mengalihkan pengakuan diplomatik Kiribati kembali ke Tiongkok, setelah 17 tahun mengakui dan beraliansi dengan Taiwan.

Militer AS telah mengutarakan kekhawatiran mereka bahwa Kiribati mungkin akan memperbolehkan Tiongkok untuk membangun fasilitas dengan fungsi ganda (militer dan sipil) di pulau terbesarnya, Pulau Christmas, yang berjarak hanya 2.000 km dari selatan Hawai’i, dimana Armada Pasifik AS berbasis.

Kiribati dilaporkan sudah mulai mengembangkan infrastruktur penangkapan ikan di Pulau Christmas dalam kemitraan dengan sebuah perusahaan asal Tiongkok, tetapi Presiden Maamau menegaskan kepada Guardian bulan ini bahwa “pemerintah ini tidak pernah berkeinginan atau berencana untuk mengizinkan Tiongkok membuka sebuah pangkalan di Kiritimati [Christmas].” (The Guardian)

Ben Doherty adalah reporter Guardian Australia. Ia adalah pemenang tiga penghargaan Walkley.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top