HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Iran bebaskan 85 ribu tahanan karena Covid-19, Indonesia?

penjara
Ilustrasi – Jubi/Pixabay

Oleh: Aleksius G.

Virus corona atau Covid-19 dianggap mudah diatasi oleh sebagian negara di belahan dunia, termasuk Indonesia. Beberapa pekan lalu, masyarakat Indonesia di daerah-daerah, baik di Papua, maupun daerah lainnya berharap agar dilakukan lockdown atau social distancing (kini phsycal distancing) mengingat penyebaran virus corona begitu cepat.

Selain itu, pada awal Januari lalu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan jajaran pemerintahannya menyebut bahwa Indonesia bebas dari virus corona. Akan tetapi, pertengahan Maret 2020, beberapa pejabat menteri, seperti Mentri Perhubungan Budi Karya (Cnbcindonesia.com, 15 Maret 2020) positif terjangkit Covid-19 dan diikuti beberapa pejabat dan artis Indonesia.

Bulan ini juga pemerintah menetapkan “libur nasional” selama 14 hari hingga akhir Maret sampai penyebaran virus corona benar-benar terhenti, bahkan negara-negara di dunia juga menetapkan lockdown di negaranya. Intansi-instansi pemerintahan, sekolah-sekolah, dan swasta hanya diperbolehkan bekerja dari rumah, serta menghindari tempat-tempat keramaian untuk sementara waktu. Masyarakat betul-betul hanya diperbolehkan bekerja dan beraktivitas di dalam rumah selama masa pandemi Covid-19.

Hingga 24 Maret 2020, menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia seperti diberitakan sejumlah media massa, bahwa jumlah kasus Covid-19 di Indonesia sebanyak 686 orang positif, 55 orang meninggal dunia dan 30 lainnya sembuh, sedangkan di seluruh dunia sebanyak 382.420 yang positif Covid-19, 16.569 meninggal dunia dan 102.513 lainnya sembuh.

Jumlah itu tidak sedikit dan tidak main-main. Penyebaran Covid-19 sangat cepat dan menyerang ribuan nyawa manusia tanpa memandang bulu.

Pemerintah Republik Indonesia semestinya melihat persoalan ini dengan serius. Di semua sektor harus dipertimbangkan dengan jelas, cermat dan tegas.

Loading...
;

Bila tidak ditangani dengan serius, maka negara Indonesia akan goncang, mengingat kematian nyawa manusia mendekati atau melebih negara-negara yang terjangkit Covid-19 ini.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Indonesia telah membeli obat pencegahan Covid-19 di China sebanyak sembilan ton dengan jumlah uang yang begitu besar. Dengan adanya obat itu, tentu dapat menekan jumlah kamatian akibat Covid-19.

Sikap dan kebijakan negara Indonesia sudah baik. Namun, lockdown perlu dibicarakan kembali, meski lockdown justru membatasi perekonomian Indonesia, sebab obat pencegahan (bisa saja) dibagi sementara lockdown-nya tidak dibatasi sementara waktu; apakah akan berdampak buruk bagi negara dan rakyat Indonesia atau sebaliknya.

Sekiranya negara Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara Italia, Iran dan negara-negara lainnya yang menyebabkan kematian massal tiap hari akibat Covid-19.

Berdasarkan informasi dari ABC.net.au (22 Maret 2020), negara Iran untuk sementara membebaskan 85 ribu tahanan dengan 10 ribu lebih yang dijadwalkan untuk menerima pengampunan. Hal itu dilakukan karena dikhawatirkan bahwa virus corona baru bisa menyapu penjara yang penuh sesak di negara Timur Tengah itu.

“Iran membebaskan 85.000 tahanan untuk mencegah penyebaran virus corona, tetapi akademisi Australia tetap berada di balik jeruji besi.”

Kekhawatiran Iran bahwa penjara menjadi tempat yang mudah terkena virus karena besukan atau kunjungan keluarga yang belum tentu tidak bersentuhan dengan sesama yang positif Covid-19.

Jumlah tahanan di seluruh Indonesia di atas rata-rata atau sekitar 10 ribu orang. Artinya satu nyawa yang terkena virus saja, melayangkan nyawa seribu orang dalam tahanan. Hal ini perlu diantisipasi kedepannya oleh negara.

Kalau bisa negara mengambil kebijakan untuk membebaskan seluruh tahanan di Indonesia dengan membuat catatan dan jaminan dari negara. Dengan demikian, Covid-19 tidak memandang manusia.

Sudah otomatis virus corona tersebut, penyebarannya sangat cepat dan akibatnya sangat fatal atau mematikan nyawa manusia. Negara perlu mengambil kebijakan dengan cepat dan tepat. (*)

Penulis adalah mahasiswa Papua, tinggal di Jayapura

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top