Mahasiswa ISBI Papua ciptakan tari dari motif lukisan kuno Tutari

papua tari tutari isbi
Mahasiswa ISBI Papua menampilkan pertunjukan seni tari tentang tari kehidupan berburu di masa lalu suku Tutari di Situs Megalitik Tutari di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. -Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua menciptakan tari yang diinspirasi dari motif lukisan kuno di Situs Megalitik Tutari, di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Rektor ISBI Papua Prof. Dr. I Wayan Rai S, MA mengatakan motif lukisan tutari menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa ISBI Papua untuk mengeksplorasi dan menggarap tari baru. Tari kreasi tersebut langsung dipentaskan langsung di lokasi objek wisata bersejarah tersebut.

“Kalau orang menari kan biasa di panggung, tapi ini digarap langsung di lingkungan ini,” katanya kepada Jubi di Situs Megalitik Tutari Sentani, Kamis (29/10/2020).

I Wayan menjelaskan sumber inspirasi tarian  bersumber dari lukisan yang berada di Situs Megalitik Tutari, seperti lukisan manusia, flora, fauna, geometri, dan benda budaya.

“Dulu mereka menggarap dari laut, dari gunung, tapi sekarang ini dari lukisan megalitik,” katanya.

Menurut I Wayan, sumber penciptaan tari banyak. Karena itu mahasiswa seni harus mengeksplorasikan diri dengan melihat lukisan dan yang menarik lalu diekspresikan ke dalam bentuk tari.

Loading...
;

“Saya arahkan mereka melihat lukisan, apakah itu ikan atau lainnya, itulah yang diekspresikan dalam tari,” ujarnya.

Tujuan kegiatan langsung di Tutari, kata Rektor, adalah untuk memperluas wawasan baru bagi mahasiswa ISBI Papua dan membuat koreografi tari baru berdasarkan “site-specific” (spesifik-situs). Artinya, dipentaskan dari tempat di mana situs megalitik itu berada supaya mahasiswa mempunya pengalaman baru.

Melalui eksplorasi tersebut, mahasiswa belajar tentang arkelogi demi menemukan konsep-konsep baru tentang penciptaan.

“Lukisan sebagai sumber penciptaan dan Bukit Tutari seolah-olah sebagai tempat pentas mereka,” katanya.

Cara seperti itu, katanya, akan merangsang mahasiswa mencari kemungkinan-kemungkinan untuk membuat karya baru. Mereka akan dirangsang oleh lukisan-lukisan di batu dan tempat di situs Tutari.

“Ini akan berbeda ketika mereka pindah ke bagian yang lain, batunya beda, tempatnya beda, itu hasilnya akan berbeda lagi,” ujarnya.

I Wayan berharap mahasiswa ISBI Papua bisa kembali ke masa lampau untuk mencintai dan memelihara warisan budaya nenek moyang. Dari warisan tersebut diekspresikan ke dalam motif kekinian.

“Mereka datang ke sini, melihat dan mempelajari, dengan mempelajari mereka mencintai,” katanya.

Kegiatan seperti itu akan bisa menginspirasi munculnya karya-karya baru, seperti musik, kriya, lukis, dan patung dari situs Tutari.

“Kita mulai dari sini, mudah-mudahan bisa menemukan yang lain, bertambah luas wawasan mereka,” katanya.

Dosen Seni Tari ISBI Papua Ida Bagus Gede Surya Perandantha, S.Sn,M.Sn mengatakan, karya tari kreasi mahasiswa tersebut merupakan pertunjukan seni kontemporer menggunakan pendekatan penggarapan koreografi “site-specific”. Site itu “tempat” dan “specific” itu khusus, sekaligus spesial.

Tempat tersebut special dan khusus karena memiliki keunikan tersendiri, yakni lukisan-lukisan di atas batu.

“Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dalam karya ini,” katanya.

Melalui tari tersebut, kata Ida Bagus, mahasiswa bisa mengeksplorasi keberadan batu-batu dengan adanya motif tertentu. Motif tersebut memberi rangsang visual bagi penari untuk diinterprestasi atau dihadirkan ulang dalam bentuk karya tari.

Nantinya, kata Ida Bagus, melalui pertunjukan tari tersebut akan direkonstruksi atau menginterprestasi kembali kehidupan masa lampu melalui adegan berburu. Selain itu bahasa-bahasa dahulu yang divisualisasikan dengan bahasa vokal tidak berkalimat.

“Karyanya hanya berdurasi empat menit saja sebagai titik tolak penciptaan, mudah-mudahan mereka dapat menjadi insprasi dan akan diteruskan oleh mahasiswa yang ada di sini,” ujarnya.

Motif-motif yang ditonjolkan dalam karya tari tersebut, kata Ida Bagus, merupakan motif binatang air, seperti ikan, kura-kura, dan soasoa.

Keberadan batu, katanya, menjadi hal yang menarik untuk dieskplorasi. Bagi seniman batu bukan hanya benda mati, tapi memiliki nilai, sehingga nilai tersebut bisa dihidupkan kembali.

Sebagai orang yang bergelut di bidang seni, Ida Bagus berharap para seniman di Papua lebih menyadari dan mencinta alam sekitarnya. Sehingga penciptaan seni selanjutnya berbasis dari alam.

Melalui pementasan tersebut masyarakat semakin sadar bahwa Papua sangat kaya secara arkelogis dan bernilai tinggi. Kemudian masyarakat Papua bisa melestarikan, memperkenalkan, dan menjaga situs-situs mereka dari tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab.

Salah seorang penari yang juga mahasiswa tari ISBI Papua, Frans Junias mengharapkan pemuda lebih banyak belajar mengenal budaya melalui situs Tutari.

“Karena situs Tutari merupakan sumber ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk pemuda di Tanah Papua,” katanya.

Situs Megalitik Tutari terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Diberi nama Tutari karena berada di Bukit Tutari dan konon suku yang pernah mendiami wilayah sekitar situs tersebut adalah suku Tutari

Lokasi situs seluas 60 ribu meter persegi dikelompokan menjadi 6 sektor. Sektor 1, 2, dan 3 adalah lokasi batu lukis.

Peninggalan berikutnya adalah batu bongkahan berbentuk arca di sektor 4 dan batu berbaris di sektor 5. Sedangkan di sector 6 terdapat 110 batu berdiri yang berbentuk lonjong dan ditopang oleh batu-batu kecil. (CR-7)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top