Follow our news chanel

Isu siswa SMA akan demo dianggap sengaja dihembuskan

Isu siswa SMA akan demo dianggap sengaja dihembuskan 1 i Papua
Persimpangan jalan Sudirman-jalan Irian tepat di dekat SMA Negeri 1 Wamena, Jumat (1/11/2019) pagi nampak sepi dari aktivitas anak sekolah-Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Kapolres Jayawijaya, AKBP Tonny Ananda Swadaya mengatakan adanya isu pelajar dari sejumlah SMA di Wamena akan melakukan aksi demo damai ke SMA Negeri 1 Wamena 1-2 November 2019, sengaja dihembuskan untuk merusak jalannya proses pendidikan di Jayawijaya.

Sebelumnya pada Kamis (31/10/2019) sore muncul pesan berantai (broadcast) di berbagai grup WhatsApp yang menyebutkan sejumlah pelajar dari berbagai SMA akan melaksanakan aksi demo damai dengan sasaran aksi SMA Negeri 1 Wamena pada Jumat hingga Sabtu (1-2) November 2019.

pada pesan berantai itu disebutkan, pihak SMA Negeri 1 Wamena dituntut untuk menghentikan proses belajar mengajar sebagai wujud kepedulian sesama pelajar di Kota Wamena, disebabkan sekolah lain belum melangsungkan kegiatan belajar mengajar.

“Itu merupakan berita-berita hoaks. Kami menindaklanjuti berita itu, untuk itu kami tingkatkan patroli pengecekan di sekolah-sekolah, mengeluarkan imbauan ke RRI agar tidak mudah terpengaruh dan terpancing dengan berita provokasi demo,” kata Tonny Ananda kepada wartawan saat ditemui di RRI Wamena, Jumat (1/11/2019).

Menurutnya, ada kelompok-kelompok sengaja untuk melumpuhkan pola pendidikan di Jayawijaya. Dimana, pola yang digunakan selalu anak sekolah, ibaratnya anak sekolah ini jati dirinya masih labil dan mudah terpengaruh, sehingga itu yang mudah dimanfaatkan.

“Dengan maksud agar siswa ini jadi ketakutan, merasa trauma dalam melakukan aktivitas pendidikan jadi berfikir takut ada gangguan, takut ada upaya jemput paksa,” katanya.

Loading...
;

Kapolres juga menyebut, isu kecemburuan terhadap SMA Negeri 1 Wamena karena telah melakukan proses belajar mengajar sangat tidak mendasar, karena dari pantauannya sekolah-sekolah sudah mulai melakukan pembelajaran.

“Jika terjadi sesuatu, saya tidak segan-segan akan tindak tegas dan terukur untuk kelompok-kelompok yang sengaja mengacaukan sehingga proses aktivitas belajar mengajar lumpuh,” katanya.

Sementara itu Kepala SMA Kristen Wamena, Rasinus mengatakan memang sekolahnya masuk dalam salah satu siswanya akan ikut dalam aksi demo tersebut.

Namun hal itu dianggap tidak masuk akal, karena menurut dia hingga kini masih banyak siswa siswinya yang belum masuk sekolah dan masih merasa takut.

“Untuk datang ke kota dan ke sekolah saja anak-anak tidak berani apalagi mau ikut demo, saya rasa itu tidak masuk akal,” katanya saat dihubungi.

Pada Jumat (1/11/2019) siswa yang hadir saat bersamaan digelarnya ibadah dengan Persekutuan Gereja-gereja Jayawijaya (PGGJ) di sekolah, hanya dihadiri tidak sampai 30 orang siswa.

Bahkan hingga kini, menurutnya proses belajar mengajar di sekolahnya itu belum berjalan. Sejak kejadian 23 September 2019 setiap hari hanya dilakukan kegiatan bersih-bersih sekolah, bermain, olahraga dan pada Oktober melakukan kegiatan bulan bahasa.

“Memang hingga kini suasana di sekolah kami masih mencekam, apalagi berada di pinggiran kota. Bahkan dalam seminggu terakhir ini baru 25-30 siswa yang hadir, dibandingkan sebulan setelah kejadian itu tidak sampai 10 orang siswa yang datang ke sekolah,” kata Rasinus. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top