Jaksa tuntut Obby Kogoya 6 bulan penjara, 1 tahun percobaan

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Jayapura, Jubi – Obby Kogoya (22), seorang mahasiswa Papua yang menempuh studi di Yogyakarta, dituntut Jaksa penuntut umum enam bulan kurungan penjara dan satu tahun hukuman percobaan, pada sidang tuntutan ketiga di Pengadilan Negeri Yogyakarta, Senin (19/6/2017).

Obby adalah salah satu dari delapan mahasiswa Papua yang ditangkap dan dibawa ke Polda DIY dalam peristiwa pengepungan Asrama mahasiswa Papua Kamasan di Yogyakarta 18 Juli 2016 silam, saat hendak berlangsungnya aksi mendukung keanggotaan West Papua di Melanesian Spearhead Group (MSG).

Jaksa tuntut Obby Kogoya 6 bulan penjara, 1 tahun percobaan 1 i PapuaObby dituduh melakukan penganiayaan dan pemukulan terhadap aparat kepolisian dan ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan melanggar pasal 212 jo. 213 KUHP Sub 351 ayat 2 KUHP. Anehnya, dari berbagai foto yang tersebar di media sosial justru tampak Obby lah yang menjadi korban kekerasan dan penyiksaan aparat kepolisian Yogyakarta pada waktu itu.

“Setelah sidang tuntutan ditunda selama 2 kali, pada sidang tuntutan yang ketiga (19/6) ini jaksa penuntut umum menyimpulkan bahwa Obby Kogoya secara nyata melakukan perlawanan terhadap petugas sehingga melanggar pasal 212 KUHP dan menuntut pidana penjara kurungan selama 6 bulan, 1 tahun percobaan,” demikian ungkap Emanuel Gobay, salah seorang pengacara Obby Kogoya dari LBH Yogyakarta kepada Jubi Senin (19/6/2017).

Tim pengacara dari LBH Yogyakarta sejak awal menolak tuntutan tersebut sejak pertama kali mempraperadilankan kepolisian Daerah Yogyakarta atas penangkapan Obby yang dinilai sewenang-wenang.

Baca Aparat Bersenjata Di Sidang Putusan Praperadilan Obby Kogoya

Loading...
;

Tuntutan hukum kepada Obby ini sejak awal memang terkesan dipaksakan dan diwarnai banyak tekanan. Pada sidang putusan praperadilan 30 Agustus 2016, hakim menolak permohonan tim pengacara, dan sempat membiarkan aparat bersenjata masuk ke ruang sidang bahkan berdiri di belakang majelis hakim.

Kasus Obby ini juga dianggap tim pengacara sengaja dibiarkan berlarut-larut. Selain penundaan sidang tuntutan sebanyak dua kali, sejak awal kepolisian seperti mencari-cari kesalahan Obby karena tidak memiliki bukti.

Baca Tidak ada bukti, LBH Yogyakarta minta cabut status tersangka Obby Kogoya

Baca juga Korban jadi tersangka, Obby Kogoya disidangkan perdana

Berlarut-larutnya proses ini, menurut LBH Yogyakarta, membuktikan bahwa polisi kesulitan mencari barang bukti serta saksi-saksi, yang sedari awal sebetulnya juga tidak dimiliki pihak kepolisian.

Sebelumnya Humas Polisi Daerah (Polda) DIY, AKBP Anny Pudjiastuti menyatakan bahwa Obby dituduh menganiaya dan menyebabkan seorang aparat terluka dengan barang bukti sebuah panah.

Sementara menurut LBH Yogyakarta yang mendampingi proses di kepolisian, barang bukti yang ada tidak mendukung tuduhan tersebut.  Barang bukti yang ada hanyalah singkong yang dibeli dari pasar untuk makanan mahasiswa Papua yang terkurung di Kamasan, tidak ada anak panah seperti yang dituduhkan.

Terkait tuntutan Jaksa tersebut, Obby Kogoya bersama LBH Yogyakarta akan membuat pledoi secara tertulis dan akan disampaikan pada sidang selanjutnya, yang dijadwalkan Senin 3 Juli 2017.

Natalius Pigai, komisioner Komnas HAM yang melakukan pemantauan kasus tersebut sudah menyatakan ada indikasi pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh polisi kepada mahasiswa Papua saat aksi damai pada 15 Juli 2016 lalu. Salah satunya adalah tindakan penyiksaan terhadap Obby Kogoya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top