Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Jangan mengatasnamakan agama untuk merusak Papua

Albert Wanimbo ketika menyampaikan orasinya dalam unjukrasa menolak keberadaan Jafar Umar Thalib di Papua - Jubi / Hengky Yeimo
Jangan mengatasnamakan agama untuk merusak Papua 1 i Papua
Unjukrasa menolak keberadaan Jafar Umar Thalib di Papua – Jubi / Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Jayapura, Jubi – Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Papua Albert G Wanimbo menyatakan tidak boleh ada orang mengatasnamakan agama untuk merusak keberagaman di Papua. Wanimbo menyatakan tradisi warga di Papua untuk hidup berdampingan tanpa membedakan etnis dan agama bisa rusak jika orang seperti Ja’far Umar Thalib dibiarkan menyebarkan pandangan intoleran.

“Negara harus berani mengusir orang-orang seperti Jafar Umar Talib dari Papua. Keberadaannya telah mengoyak perdamaian di antara warga dengan berbagai latar belakang agama dan etnis di Papua. Papua merupakan tanah yang damai, aman bagi siapapun yang ada ada di tanah Papua, namun jangan dibiarkan orang seperti Ja’far menyebarkan cara pandang intoleran,” kata Wanimbo, Minggu (10/3/2019).

Jangan mengatasnamakan agama untuk merusak Papua 2 i Papua

Pada 27 Februari 2019, Ja’far Umar Thalib dan sejumlah pengikutnya merusak rumah seorang warga Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, bernama Hanok Duwiri dan Hermina Aninam dan memukul seorang anak di bawah umur.

Kekerasan dan perusakan itu sempat menimbulkan reaksi warga yang marah, sehingga para warga menutup akses jalan utama di Koya Barat. Selain itu, sejumlah unjukrasa juga terjadi di Jayapura, menolak keberadaan JUT dan pengikutnya di Papua. Ja’far Umar Thalib bersama enam orang pengikutnya-IJ, AR, AD, AJT, M, dan AY-telah ditetapkan sebagai tersangka penggunaan kekerasan terhadap orang dan barang, sebagaimana diatur Pasal 170 ayat (2) angka 1 KUHP sejak 28 Februari 2019.

Wanimbo menyebut kekerasan yang dilakukan para pengikut Ja’far Umar Thalib itu membahayakan keragamakan di Papua. Ia mengibaratkan Papua sebagai miniatur Indonesia, karena orang dengan latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda ada di Papua.

“Sejak lama orang asli Papua hidup berdampingan dengan orang asli Papua yang lain, dan hidup berdampingan dengan para pendatang di Papua. Kami warga Papua telah tahu untuk memilah dan memilih mana yang baik dan buruk bagi kami,” ujar Wanimbo.

Loading...
;

Sementara itu, aktivis perdamaian dari LSM Ilalang, Munawir mengurai bahwa masalah di Papua bukan masalah agama atau radikalisme. Munawir menegaskan persoalan di Papua adalah masalah bagaimana pemerintah membangun dan menyejahterakan warga Papua.

“Kami menolak pihak yang mengembangkan konflik ataupun kekerasan untuk merusak keberagaman Papua. Kami meminta aparat penegak hukum menindak tegas kekerasan yang telah terjadi,” kata Munawir.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top