Follow our news chanel

Previous
Next

Jauh dari kampung halaman, kisah ketangguhan orang I-Kiribati di Wagina

Joseph Teia. - SPREP
Jauh dari kampung halaman, kisah ketangguhan orang I-Kiribati di Wagina 1 i Papua
Joseph Teia. – SPREP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pada 1964, Joseph Teia belia mengucapkan selamat tinggal ke kampung halamannya di Pulau Gilbert di Kiribati, menaiki sebuah kapal, dan datang ke Kepulauan Solomon, sejak itu ia tidak pernah lagi kembali ke Gilbert. Dia baru berusia tujuh tahun ketika dia meninggalkan Kiribati.

Karena saat itu ia masih kecil, Teia tidak mengerti mengapa ia harus meninggalkan rumahnya dan ayahnya di Kiribati untuk pergi ke tempat lain. Ayahnya lalu meninggal dunia ketika dia masih kecil, dan meski dia tidak mengingat ayahnya sama sekali, dia tetap merupakan orang yang penting dalam hidup Teia.

Satu-satunya kenangan yang dimiliki Teia tentang kehidupan yang ia tinggalkan, adalah perjalanan panjang yang ditempuh untuk sampai di ke Kepulauan Solomon, yang dulunya dikenal sebagai British Solomon Islands Protectorate (BSIP).

“Saya ingat ada empat rumah besar di pulau ini ketika kita sampai. Kita yang datang dari Kiribati tinggal di rumah-rumah itu. Pulau itu penuh dengan semak belukar dan tidak ada rumah untuk kita tempati. Kita harus membersihkan daerah itu sendiri dan kemudian kita mulai membangun rumah-rumah kita,” renung Teia.

Pada waktu itu Wagina hanyalah sebuah pulau berhutan lebat dengan berbagai pepohonan, rawa-rawa dan batu-batu juga menghiasi pinggiran pantainya.

Menceburkan diri ke dunia yang sangat berbeda dari yang mereka tinggalkan, orang-orang I-Kiribati itu dihadapkan dengan tantangan dalam beradaptasi kepada lingkungan mereka yang baru.

Loading...
;

“Orang-orang dari Guadalcanal, Malaita, dan saya pikir dari Isabel juga, mereka datang untuk membantu kita membangun rumah-rumah. Kita tidak tahu bagaimana membangun rumah dari pohon kelapa atau sagu, karena kita hanya terbiasa dengan daun pandan. Jadi mereka datang dan membantu kita,” tuturnya.

Satu-satunya ikatan yang ada di antara orang-orang Gilbert itu dan kampung halaman yang mereka tinggalkan adalah lautan. Di rumah baru mereka, ada banyak sumber daya kelautan dan orang-orang Gilbert masih bisa terus memancing dan menyelam seperti dulu.

Joseph Teia sudah menetap di Pulau Wagina selama 55 tahun, ia juga sempat menghabiskan sedikit waktu tinggal Gizo di Provinsi Barat).

Sekarang Teia memiliki empat anak, tiga diantaranya masih bersekolah. Semua anak-anaknya sekarang tinggal di Honiara dan ia membiayai pendidikan mereka dengan uang yang ia dapat dari menjual rumput laut, teripang, dan sumber daya laut lainnya.

“Istri saya meninggal jadi sekarang saya hidup sendiri. Tapi ada keponakan-keponakan saya di sini yang juga membantu saya menimba air dari sumur dan mencuci pakaian untuk saya kenakan.”

Krisis air bersih akibat pertumbuhan populasi

Seiring waktu, populasi masyarakat di Wagina berkembang. Naiknya jumlah penduduk berarti meningkatnya ancaman atas mata pencaharian mereka. Akses ke air bersih juga merupakan salah satu dari berbagai ancaman itu.

Sungai yang dulunya mereka andalkan sebagai sumber air bersih, ketika mereka tiba di Wagina tidak lagi bersih dan telah terkontaminasi dengan limbah plastik dan sampah lainnya. Air kali yang dulunya jernih dan sejuk kini telah menjadi keruh dan kotor, akibat bertambahnya populasi dan pembukaan lahan.

Sebagian besar sumur-sumur air di pulau itu terkontaminasi bakteri E.coli, jadi air itu tidak lagi aman untuk dikonsumsi orang.

“Satu-satunya sumber air bersih yang kita miliki adalah dari tangki penampungan air hujan. Tetapi sebelumnya, kita juga dulu mengumpulkan air minum dari sumber-sumber lain,” kata Teia.

Pada 2018, inisiatif dari badan regional lingkungan hidup Pasifik, Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme (SPREP) melakukan proyek adaptasi perubahan iklim berbasis ekosistem (PEBACC), melalui analisis dan pemetaan ESRAM di Wagina. Hasil dari studi menekankan pentingnya suatu panduan dalam pengelolaan sumber daya air bersih untuk membantu masyarakat dalam mengelola dan menjaga kualitas air.

Peluncuran panduan itu dilakukan pada akhir pekan 19 Oktober 2019. Pedoman dasar ini berfungsi untuk membantu masyarakat Wagina melindungi sumber air bersih terbatas yang mereka miliki saat ini.

“Selama lebih dari 50 tahun terakhir, bagian dari kegiatan sehari-hari saya termasuk menimba air dari sumur air. Sampai sekarang, saya masih menimba air dari sumur. Saya harap saya bisa melihat sistem perpipaan air bersih dipasang di desa ini saat saya masih hidup. Kalau tidak, saya ingin generasi masa depan menikmati keuntungan yang belum saya nikmati dalam hidup saya,” kata Teia sambil tersenyum.

Penambangan bauksit

Saat ditanyai apakah berita mengenai peluang penambangan bauksit di pulau itu adalah berita yang baik, Teia menolak gagasan itu dengan tegas.

“Saya tidak ingin melihat operasi pertambangan dilakukan di pulau ini. Pulau ini sangat kecil. Jika mereka menambang 60% pulau dan masyarakat hanya dialokasikan 40%, bagaimana kita bisa bertahan hidup? Lautan akan terkontaminasi, dan sungai! Kekhawatiran saya adalah untuk generasi masa depan orang-orang di pulau ini.”

Secara umum, ada satu ancaman lain bagi orang-orang yang tinggal di atol yang rendah seperti Wagina.

“Dulu, ada pulau-pulau yang biasa kita kunjungi ketika kita pergi memancing. Sekarang beberapa pulau mulai tenggelam di bawah permukaan laut. Beberapa pulau bahkan setengahnya sudah tenggelam di bawah permukaan air laut,” kata Teia.

Bayangan yang menakutkan tentang relokasi adalah sesuatu yang tidak ingin dilalui oleh orang-orang Wagina lagi. Pulau-pulau yang jauh di Kiribati hanyalah mimpi bagi orang-orang tua di Wagina. Bagi yang lebih muda, kampung halaman leluhur mereka merupakan pulau yang bisa mereka panggil rumah.

“Ini rumah kita sekarang. Jika sesuatu terjadi pada kita, kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan atau ke mana kita bisa pergi.” (SPREP/ PACNEWS)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top