HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Jejak kekerasan di Nduga, jendela kecil untuk melihat kekerasan di Papua – [1/2]

Pertemuan bupati dan wakil bupati Nduga di halaman Gereja Kingmi, Jemaat Weneroma bersama masyarakat yang mengungsi di Wamena beberapa waktu lalu.– Jubi/ Islami
Pertemuan bupati dan wakil bupati Nduga di halaman Gereja Kingmi, Jemaat Weneroma bersama masyarakat yang mengungsi di Wamena beberapa waktu lalu. – Jubi/ Islami.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Konflik bersenjata di Kabupaten Nduga, Papua, dan gelombang pengungsian ribuan warga sipil yang menghindari dari konflik itu, telah berlangsung delapan bulan. Konflik itu berawal dari pembunuhan 16 pekerja PT Istaka Karya oleh kelompok bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya pada 2 Desember 2018 lalu.

Sejak saat itu, aparat gabungan TNI/Polri melakukan operasi untuk mengejar kelompok Egianus Kogoya. Sejak saat itu pula, kabar kematian, penembakan, dan pengungsian terus mewarnai pemberitaan berbagai media di Papua. Selama rentang waktu itu, Markus Haluk merampungkan sebuah buku berjudul “Konflik Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua”. Buku yang menelusuri lini masa panjang kekerasan terhadap orang Nduga itu diluncurkannya di Jayapura pada 19 Juli 2019 lalu.

Aktivis United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) itu menyebut bukunya sebagai “jendela kecil untuk melihat Nduga.” Akan tetapi, kekerasan di Nduga juga sebuah jendela kecil dari kekerasan yang selalu berulang di Papua. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari dua tulisan serial “Jejak kekerasan di Nduga, jendela kecil untuk melihat kekerasan di Papua”.

 

Jejak kekerasan di Nduga

“Apa yang terjadi hari ini, bukanlah suatu peristiwa yang berdiri sendiri. Ada peristiwa di masa sebelumnya yang melatarbelakangi peristiwa hari ini,” kata Markus Haluk saat membincang ‘jendela kecilnya” yang menelusuri jejak kekerasan di Nduga, Rabu (14/8/2019).

Loading...
;

Haluk mencatat, sedikitnya ada enam peristiwa kekerasan yang menyasar orang Nduga. Ia membilang operasi militer di Kabupaten Jayawijaya pada 1977-1978 sebagai awal dari rangkaian panjang kekerasan terhadap orang Nduga. Operasi militer itu terjadi ketika wilayah yang hari ini menjadi Kabupaten Nduga masih menjadi bagian dari Kabupaten Jayawijaya. Haluk mengutip laporan The Neglected Genocide: Human Rights Abuses Against Papuan in the Central Highlands, 1997-1998, yang dipublikasikan Asian Human Rights Commission pada 2013. Laporan itu menyatakan sekurang-kurangnya 4.146 orang, diantaranya dari Suku Nduga meninggal dunia.

Kekerasan berikutnya terjadi pada 1981, ketika para prajurit pos militer di Woema, wilayah di dekat Akimuga, menyerah para warga yang dituduh terlibat Organisasi Papua Merdeka (OPM). Penyerangan itu memicu gelombang pengungsian dari Woema dan wilayah sekitarnya menuju Mapenduma, Nduga. Seperti nasib pengungsi Nduga hari ini, banyak diantara pengungsi tahun 1981 itu meninggal di pengungsian, karena hidup dalam kondisi yang tidak layak dalam jangka waktu lama. Banyak pula pengungsi Nduga yang meninggal dalam perjalanannya ke Mapenduma.

Peristiwa kekerasan berikutnya terjadi pada 1996, saat militer menggelar operasi militer pembebasan rombongan 26 orang peneliti WWF, Unesco, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang disandera kelompok bersenjata Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya saat meneliti Taman Nasional Laurentz. Dalam operasi pembebasan yang dipimpin Komandan Kopassus Brigadir Jenderal Prabowo Subianto pada 8 Januari hingga 9 Mei 1996 itu, 20 warga terbunuh, lima warga lainnya hilang, 182 rumah dan 15 gereja dibakar. Lebih dari 2.000 warga mengungsi, namun jumlah itu hanya menghitung para pengungsi dari Bela, Alama, dan Mapenduma. Jumlah pengungsi dari wilayah Nduga lainnya tidak terhitung.

Kekerasan terhadap orang Nduga tidak hanya terjadi di Nduga. Pada 7 Desember 2000, sekelompok orang menyerang Markas Kepolisian Sektor Abepura di Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Polisi membalas serangan itu dengan mendatangi dan merusak sejumlah asrama mahasiswa di kawasan Abepura, termasuk asrama para mahasiswa dari Nduga. Sejumlah 23 mahasiswa asal Nduga ditangkap, tujuh diantaranya perempuan. Sejumlah dua mahasiswa yang ditangkap, Ory Ndoronggi dan Jonny  Karunggu, meninggal karena disiksa.

Pada 4 April 2003, gudang senjata Komando Distrik Militer 1702/Jayawijaya di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, dibobol. Pembobol berhasil membawa lari 29 pucuk senjata. TNI melakukan pengejaran dan pencarian senjata dengan menggelar operasi selama tiga bulan. Laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan sembilan warga terbunuh dalam operasi itu. Sejumlah 23 warga lainnya ditangkap dan disiksa, termasuk tujuh anak-anak. Ribuan warga sipil mengungsi, 36 orang diantaranya meninggal karena kelaparan. Pengejaran dan pencarian senjata itu lagi-lagi berimbas kepada orang Nduga.

Haluk juga menulis peristiwa 16 Desember 2017, ketika aparat TNI/Polri melakukan penembakan terhadap warga di Yigi, Kabupaten Nduga. Kekerasan itu dipakai untuk memadamkan penolakan pembangunan Jalan Wamena-Nduga. Pada 1 Januari 2018, prajurit Batalyon 756 TNI dilaporkan  melakukan pemukulan, kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak perempuan di bawah umur dan mahasiswa asal Yigi dan Mbua.

Peristiwa berikutnya adalah rangkaian kekerasan yang melibatkan Egianus Kogoya. Pada 22 Juni 2018, kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang dipimpin Egianus Kogoya menembaki pesawat pengangkut logistik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur Papua. Pada 25 Juni 2018, kelompok Egianus menembaki pesawat twin-otter Trigana pengangkut logistik Pilkada dan 15 orang polisi yang diperbantukan untuk mengamankan Pilkada di Nduga. Pilot pesawat itu, Ahmad Kamil (27), mengalami luka di punggung. Pada hari yang sama, sekelompok orang bersenjata menyerbu permukiman warga di sekitar bandara Kenyem, Nduga. Hendrik Sattu Kola dan istrinya, Margareta Polli, tewas. Anak mereka yang berumur enam tahun, Arjuna Kola, dibacok dengan senjata tajam dan kepalanya terluka parah. Seorang warga lainnya, Zaenal Abidin, tewas.

Pada 11 Juli 2018, aparat gabungan TNI/Polri melakukan penyisiran dari darat dan udara di Alguru, Nduga, daerah yang mereka anggap sebagai basis pertahanan kelompok Egianus Kogya. Pada 12 Juli 2018, Pdt. Zakheus Kogoya melaporkan penemuan 3 jenazah warga sipil di Alguru.

Kekerasan, sumber kekerasan berikutnya

Kekerasan demi kekerasan tersimpan dalam ingatan orang Nduga. Operasi militer di Kabupaten Jayawijaya pada 1977-1978, penyerangan warga sipil Woema 1981, operasi militer Mapenduma 1996, peristiwa Abepura Berdarah 2000, pembobolan gudang senjata Wamena 2003, penembakan warga penolak jalan trans Papua pada 2017, hingga penyisiran darat dan udara pada 11 Juli 2018.

Sejak 1977 hingga Juli 2018, ingatan orang Nduga tentang aparat keamanan bersenjata adalah ingatan tentang kekerasan dan kematian. Ingatan itu menyuburkan trauma warga sipil Nduga terhadap aparat keamanan, baik TNI ataupun Polri.

Ketika para warga sipil Nduga mengetahui aparat gabungan TNI/Polri akan menggelar operasi untuk mengejar kelompok bersenjata Egianus Kogoya yang membunuh pekerja PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 lalu, trauma itu menyergap para warga sipil Nduga. Mereka akhirnya memilih mengungsi, berjalan ratusan kilometer menuju sejumlah kabupaten tetangga, seperti Lanny Jaya, Jayawijaya, Yahukimo, Asmat, dan Mimika.

Tim solidaritas peduli konflik Nduga konflik Nduga dan gelombang pengungsian itu telah membuat korban berjatuhan. Theo Hesegem, Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua yang juga relawan tim solidaritas Nduga menyebutkan, 182 korban meninggal sejak 4 Desember 2018 hingga akhir Juli 2019.

Hasegem merinci, korban perempuan dewasa yang meninggal 21 orang, laki-laki dewasa 69 orang, anak perempuan 21 orang, anak laki-laki 20 orang, balita perempuan 14 orang, balita laki-laki 12 orang, bayi laki-laki 8 orang, bayi perempuan meninggal 17 orang. Menuru Hesegem, dari 182 orang itu mereka meninggal akibat adanya kekerasan fisik yang dilakukan aparat gabungan TNI-Polri, ada yang dibakar hidup-hidup dalam rumah, meninggal di hutan karena lapar, anak-anak yang terindikasi meninggal itu karena kedinginan, sakit dan kelaparan.

“Sejumlah 182 orang meninggal ini data di pengungsian termasuk yang ada di Wamena, Timika, Paro, dan tempat lainnya,” kata Theo Hesegem pada 1 Agustus 2019 lalu. Besar kemungkinan, jumlah korban akan bertambah, karena pemerintah belum berhasil menangani para pengungsi yang tersebar di banyak kantong pengungsian.

Sejak Desember 2018, Egianus Kogoya menjadi nama yang paling kerap disebut dalam rangkaian kekerasan dan konflik bersenjata antara kelompoknya dan aparat gabungan TNI/Polri. Seluruh kekerasan dan gelombang pengungsian sejak Desember 2018 itu seolah berpangkal kepada Egianus Kogoya seorang.

Penelusuran Markus Haluk justru menemukan fakta bahwa Egianus Kogoya bukan pangkal dari rangkaian kekerasan yang terjadi di Nduga. Egianus Kogoya adalah pelaku kekerasan yang terbentuk dari berbagai kekerasan yang berulang kali mendera rakyat sipil di Nduga. “Egianus itu anak yang lahir dalam perang,” ungkap Markus Haluk.

Haluk menyebut Egianus Kogoya adalah anak Silas Kogoya. Bersama Daniel Yudas Kogoya, Silas Kogoya memimpin kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional di wilayah Nduga, menjadi bagian dari kelompok Kelly Kwalik yang pada 1996 menyandera rombongan peneliti LIPI di Taman Lorentz.

“Yang harus dicatat, Silas Kogoya dan Daniel Yudas Kogoya sebenarnya berlatar belakang warga sipil. Pada tahun 1977, mereka sedang menjalani kursus penginjilan di Tiom, kini ibukota Kabupaten Lanny Jaya,” kata Haluk.

Ironisnya, laku keduanya mencari jalan Tuhan di Tiom itu justru mengantarkan mereka menjadi saksi kekerasan operasi militer 1977 yang membunuh banyak rakyat Papua. “Mereka melihat tentara menjatuhkan di Jibalia, Distrik Agimuga, melihat banyak warga sipil Papua tewas karena bom itu. Silas Kogoya serta Daniel Yudas Kogoya terguncang, dan berikrar, ‘Tuhan, izinkan kami memegang Alkitab di tangan kiri, biarkan tangan kanan kami membawa senjata untu membela rakyat kami.’ Mereka melawan setelah melihat kekerasan yang dilakukan tentara,” kata Haluk, Rabu (14/8/2019).

Egianus Kogoya, anak Silas Kogoya, tumbuh dan menjadi dewasa dalam rangkaian kekerasan yang terus terulang di Nduga. “Dia meneruskan perjuangan ayahnya yang berupaya mempertahankan serta merebut kembali hak politik rakyat Papua,” kata Haluk. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca juga: Jejak kekerasan di Nduga, jendela kecil untuk melihat kekerasan di Papua – [2/2]

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa