Follow our news chanel

Jelang FBLB 2019, pemerhati soroti konsep acara, manfaat ke masyarakat, dan lokasi  

Seorang wisatawan asing ketika melihat pernak-pernik khas lokal yang di jual oleh masyarakat - Jubi/Agus Pabika
Jelang FBLB 2019, pemerhati soroti konsep acara, manfaat ke masyarakat, dan lokasi   1 i Papua
Seorang wisatawan asing ketika melihat pernak-pernik khas lokal yang di jual oleh masyarakat – Jubi/Agus Pabika

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tiga puluh tahun sudah usia Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang akan diselenggarakan di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya Papua 7-10 Agustus 2019 mendatang.

Di usianya yang makin matang ini, harapan akan dampak yang lebih besar, konsep acara yang lebih membumi, dan lokasi penyelenggaraan yang dinamis menjadi sorotan para pemerhati.

Seorang fotografer Papua, Sonny Wanda, yang selalu aktif hadir dalam hampir setiap pergelaran festival di Wamena, menyoroti sejauh mana manfaat ekonomis yang sudah diterima masyarakat lokal dari penyelenggaraan FBLB.

“Jangan sampai masyarakat lokal hanya dijadikan objek sesaat dalam momen festival yang dihadiri banyak wisatawan lokal dan internasional ini,” kata dia kepada Jubi, Kamis (4/7/2019).

Wanda menyoroti penyelenggara dan jajaran Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), khususnya bagian teknis, terkait sisi transparansi pendapatan daerah yang diterima dari FBLB.

“Setiap even festival yang berlangsung di Jayawijaya terutama FBLB harus ada transparansi dari OPD teknis dalam hal ini soal pendapatan daerah melalui even internasional ini. Dan apakah ada regulasi di daerah yang berpihak soal pendapatan sehingga berdampak kepada masyarakatnya,” kata Wanda.

Loading...
;

Menurut dia, dengan adanya kejelasan itu masyarakat jadi bersemangat untuk berperan aktif dalam even tersebut.

“Selain itu pemda dan panitia penyelengara juga harus transparan soal banyak tamu wisatawan yang masuk ketika even berlangsung, apakah semua pendapatan masuk ke daerah atau tidak?” katanya.

Otentik dan beragam

Wanda juga mengusulkan panitia lokal perlu memperhatikan jalannya acara agar tidak monoton. Selain itu yang terpenting baginya acara harus tetap mempertahankan kemurnian dan inti dari festival budaya dengan tidak mencampuradukannya dengan pameran pembangunan dan stand-stand produk makanan cepat saji.

“Alangkah baiknya stand pameran itu dibangun untuk masyarakat lokal agar mereka memamerkan hasil usaha lokal mereka baik itu kerajinan, ekonomi mikro, usaha tani, perkebunan, dan lainnya, agar mereka mendapat pemasukan yang baik demi kesejahteraan mereka,” lanjutnya.

Lokasi 

Jelang FBLB 2019, pemerhati soroti konsep acara, manfaat ke masyarakat, dan lokasi   2 i Papua
Flyer Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2019 – Jubi/festivallembahbaliem.id

Ditemui terpisah, Dominikus Sorabut, Ketua Dewan Adat Papua (DAP), kepada Jubi di kantor DAP Expo Waena, Kamis, (4/7/2019), mengatakan festival tertua di Wamena ini sudah jadi langganan tujuan wisatawan domestik dan internasional.

Oleh karena itu dia mengingatkan FBLB mulai perlu memperhatikan tempat pergelaran festival agar punya daya tarik baru tersendiri. Sorabut berpandangan Walesi bukan satu-sarunya tempat yang bisa mewakili Lembah Baliem dalam festival.

“Soal tempat tidak harus dilakukan satu tempat saja seperti di Welesi, pusat festival di beberapa titik seperti di Wosilimo, Konam, dan beberapa titik lainnya harus dibuka sehingga setiap tahun itu bisa di-rolling karena itu juga bagian dari menyejahterakan rakyat lokal,” kata Dominikus.

Lanjutnya, dengan dilakukan perputaran tempat festival akan dapat menambah kesejahteraan masyarakat lokal dan menerima dampak positif baik dari ekonomi maupun pariwisata.

“Bila semua tempat dibuka tentunya akan menekan angka kriminal karena hari ini di Wamena marak pencurian, pembunuhan, minum mabuk, seks bebas, sehingga (aktivitas even) akan menekan hal tersebut, (apalagi) festival juga akan memberikan kita pendidikan dasar bagaimana hidup baik, memahami hukum-hukum adat,” katanya.

Terkait putaran tempat, Sonny Wanda juga setuju dengan pertimbangan agar tidak monoton di satu tempat saja.

“Wamena memiliki banyak tempat untuk mengelar even ini. Tidak hanya itu, wisatawan maupun fotografer yang datang pun tidak hanya fokus pada satu tempat, mereka akan mencari objek wisata lain dari daerah sekitar even itu berlangsung,” kata Wanda.

Dampak cultural

Sorabut mengapresiasi inisiasi pemerintah daerah yang menurutnya sudah luar biasa walaupun partisipasi rakyat sebagai masyarakat adat masih harus dicek.

“Masyarakat adat yang masuk dalam even itu seberapa besar? Kita tidak harus melihat partisipasi mereka saat even (belaka) namun dampak dari even itu apa? Yang mereka (masyarakat adat) tampilkan (tuangkan) di tempat ferstival tersebut akan diterapkan di tempat mereka atau tidak?” kata Sorabut.

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) sudah dilaksanakan sejak tahun 1989.

Dikutip dari situs resmi FBLB, festivallembahbaliem.id, festival selama ini dikatakan sudah memberi banyak dampak positif bagi Papua dan sudah menjadi ikon pariwisata Papua di mata dunia.

Atraksi kolosal perang-perangan, tari-tarian tradisional (ethai), dan seni merias tubuh dengan ragam aksesoris karya suku Hubula, pertunjukan alat musik tradisional (pikon dan witawo), atraksi memasak tradisional (bakar batu), permainan anak (puradan dan sikoko), lempar sege, dan karapan babi adalah gelaran budaya adalah acara inti yang selalu ditampilkan dan dilombakan setiap tahun saat festival berlangsung.(*)

Editor     : Zely Ariane 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top