Follow our news chanel

John Jones, mantan Pengawas Pantai PD II yang ditinggalkan di Kiribati itu tutup usia

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – John Jones, Takapuna man, orang terakhir Pengawas Pantai pada Perang Dunia II, meninggal akhir minggu lalu di usia 96 tahun.

“Saya merasa sangat sepi,” kata dia setelah menyerahkan karangan bunga itu di Takapuna Anzac pada 2012 lalu, “dan saya rasa terserah percaya atau tidak, tiga orang sahabat saya ini akan segera saya temui.”

Jones adalah salah seorang operator radio Selandia Baru yang ditinggalkan oleh pemerintah Selandia Baru mengurus dirinya sendiri di Karabati setelah Jepang terlibat perang.

Mayoritas lainnya, yang sudah lebih dulu bekerja di Pos Selandia Baru termasuk tiga karib Jones, dieksekusi dengan pedang Jepang. Jones, bila bisa dibilang begitu, cukup beruntung karena dikirim ke sebuah kamp penjara perang di Jepang.

Jones yang akan dikuburkan 13 Februari mendatang itu telah lama berjuang menuntut dibangunnya tugu bagi kawan-kawan sesama Pengawas Pantai yang dieksekusi tersebut. Akhirnya dia berhasil dan tugu memorial permanen diluncurkan di Wellington tahun 2014.

Pengawas Pantai adalah sukarelawan tanpa senjata yang dikirimkan ke pelosok Kepulauan Gilbert, yang sekarang disebut Kiribati, sesaat sebelum Jepang terlibat Perang Dunia Kedua.

Loading...
;

 

Tugas mereka adalah mengirimkan laporan terkait pergerakan militer Jerman ke pasukan sekutu. Jones adalah salah satu dari tujuh Pengawas Pantai di gugusan Butaritari sebelah utara. Masa-masa saat serangan ke Pearl Harbour pada Desember 1941, dia ditangkap dan dibawa ke kamp penjara di Jepang.

Tujuh belas lainnya dipenggal oleh Jepang di gugusan Tarawa setelah ditangkap bulan Agustus dan September 1942, sebagai tindakan balas dendam atas serbuan Amerika di gugusan itu.

Seorang pemuda 18 tahun, Ron Third, berbasis di PUlau Ocean, yang sekarang disebut Banaba, mati dalam pengejaran setelah pulau itu dikepung oleh Jepang bulan Agustus tahun yang sama.

Lima orang sipil lainnya—tiga orang Inggris, seorang Australia dan seorang Selandia Baru—juga dibunuh dalam pembantaian Tarawa.

Jelang akhir perang, selagi masih jadi tahanan, Jones mendengar dari orang Amerika yang ditangkap terkait apa yang terjadi pada teman-temannya. Sejak itu dia terus dihantui kengerian diseputar kematian teman-temannya itu. 

Rasa bersalah dan duka mendera sepanjang hidupnya, bersama kemarahan atas ketiadaan pengakuan terhadap jasa para Pengawas Pantai itu.

“Mereka itu tentu tidak mau dengarkan saya. Mesti naik ke pentas yang juga bukan tempat saya,” ujar Jones yang bertahun-tahun tak pernah ikut serta dalam peringatan Anzac Day (hari peringatan bagi semua tentara Australia dan Selandia Baru yang mati dalam perang). Memorinya terlalu menyakitkan, ujarnya.

 

Namun pada peringatan Hari Anzac 2012, menyadari bahwa waktunya sudah tidak banyak lagi, dan 70 tahun sudah berlalu sejak karibnya itu dibunuh, Jones akhirnya melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan: meletakkan karangan bunga.

“Inilah karangan bunga pertama saya buat mereka,” kata Jones yang ingin masyarakat Selandia Baru lainnya mengetahui sahabat-sahabatnya itu. “Setiap tahun saya merasa semakin sedih atas segala hal.”

Jones yakin, pemerintahan yang baru, akan tetap diam terkait orang-orang yang dieksekusi itu, tak mau buat masalah dengan Jepang pasca perang.  

Peristiwa di Hari Anzac 2012 itu dilihat oleh para pemimpin NZ Post—penerus langsung dari department Post dan Telegraph yang lama. 

 

Brian Roche, pejabat eksekutif, membuat pertemuan dengan Jones dan memutuskan pembangunan tugu memorial itu.

“Mereka adalah para pegawai kami yang secara sukarela melakukan pekerjaan itu. Diantara mereka ada yang tidak kembali. Rasanya tepat kami menghargai kontribusi mereka.”

Memorial itu bertuliskan: “Mengenang 17 Pengawas Pantai Selandia Baru yang dieksekusi oleh Tentara Jepang, 15 Oktober 1942 di Betio Islet, Tarawa Atoll, Gilbert Islands, di Kiribati saat ini.”

“Selama Sembilan bulan sebelumnya, diketahui 7 orang Pengawas Pantai di gugusan sebelah itara ditangkap sebelum Natal 1941, mereka memberi laporan setiap hari namun tak mendapat pertolongan dari luar dan tak punya jalan melarikan diri.”

“Bersama kenangan abadi tiga orang sahabat terbaik saya, Rex, Arthur dan Cliff.”

“Dari Pengawas Pantai, Butaritari Atoll, Kiribati.”(*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top