Follow our news chanel

Jumlah pengungsi di Distrik Gome terus bertambah

Salah satu warga Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua, ditandu untuk mengungsi ke Kampung Yenggernok di Distrik Gome demi menghindari penyisiran yang dilakukan aparat keamanan. - IST
Jumlah pengungsi di Distrik Gome terus bertambah 1 i Papua
Salah satu warga Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua, ditandu untuk mengungsi ke Kampung Yenggernok di Distrik Gome demi menghindari penyisiran yang dilakukan aparat keamanan. – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Hingga Senin (2/9/2019) penyisiran sejumlah kampung di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua, oleh aparat keamanan berlanjut. Jumlah warga yang memilih meninggalkan kampungnya dan mengungsi ke Kampung Yenggernok di Distrik Gome terus bertambah, dan telah mencapai kisaran 1.500 jiwa.

Aparat keamanan mulai menyisir sejumlah kampung di Distrik Gome pada 24 Agustus 2019 lalu, untuk mengejar kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang dipimpin Goliat Tabuni dan Anton Tabuni. Penyisiran itu seketika membuat 800 warga sipil mengungsi ke di Kantor Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia atau GKII di Kampung Yenggernok, Distrik Gome.

Salah satu warga Distrik Gome yang keberatan disebutkan identitasnya menyatakan jumlah pengungsi telah bertambah lagi menjadi sekitar 1.500 orang. “Sekarang sudah ada sekitar 1500 jiwa yang mengungsi. Mereka berasal dari banyak kampung di Gome,” katanya, kepada Jubi melalui sambungan seluler, Senin (2/8/2019).

Berdasarkan pengamatannya masyarakat yang mengungsi ialah itu berasal dari Kampung Misimaga, Agiyome, Gome, Kelanungin, Ninggabuma, Tegelobak, Upaga, Wako, dan Yonggolawi. Sebagian pengungsi ditampung di tenda darurat yang didirikan di halaman Kantor Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia atau GKII di Kampung Yenggernok. Sebagian lainnya tinggal di Gereja Samaria, dan tersebar di rumah 17 warga di Yenggernok.

Menurutnya, warga yang mengungsi sempat bakar batu dengan para polisi di Yenggernok. “Di Kampung Yenggernok, Kapolda Papua kirim sembilan ekor babi, mereka masak. Setelah kami melakukan pesta, pengungsi bertambah,” katanya.

Salah satu pengungsi, Mama Waker mengeluh dalam beberapa hari terakhir persediaan makanan bagi para pengungsi semakin menipis. “Kami mau ambil makanan di kebun, tetapi sulit karena aparat kemanan menduduki kebun kebun masyarakat. Terpaksa kami tunggu bantuan beras dan supermi dari pemerintah” katanya.

Loading...
;

Salah satu relawan pengungsi di Yenggernok, Torius Tabuni menyatakan sejak penyisiran aparat keamanan dimulai pada 24 Agustus 2019 lalu telah menerima informasi kematian empat warga sipil di Gome.  Seorang warga bernama Ginobinok Tabuni (60) meninggal dunia setelah terjebak di dalam honai yang terbakar di Kampung Upaga pada Sabtu (24/8/2019), dan telah diperabukan keluarganya keesokan harinya.

Minanggen Wakerkwa (60) meninggal Senin (26/8/2019) saat mengungsi di dalam hutan, dan telah makamkan keluarganya. Seorang siswa SMP bernama Yul Magai (18) meninggal tertembak. “Siswa kelas tiga SMP tertembak ketika hendak ke sekolah tanpa menggunakan pakaian seragam. Ia meninggal pada 28 Agustus 2019. Seorang nenek yang belum diketahui usianya meninggal di tempat pengungsian pada 31 Agustus 2019, karena faktor usia dan sakit,” kata Torius Tabuni.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top