Follow our news chanel

Jumlah penutur bahasa daerah di Papua dan Papua Barat semakin berkurang

Peneliti Muda Balai Bahasa Papua saat mendampingi salah satu pengunjung di stand Balai Bahasa Papua belum lama ini - Jubi/Ramah
Jumlah penutur bahasa daerah di Papua dan Papua Barat semakin berkurang 1 i Papua
Peneliti Muda Balai Bahasa Papua saat mendampingi salah satu pengunjung di stand Balai Bahasa Papua belum lama ini – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Jumlah penutur dari 384 bahasa daerah yang ada di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat semakin berkurang, sehingga risiko kepunahan bahasa daerah semakin meningkat. Jumlah penutur sebagian besar bahasa daerah di Papua dan Papua Barat tinggal 100 – 500 orang per bahasa daerah, menyebabkan pelestarian kembali bahasa daerah semakin sulit dilakukan.

Peneliti Muda di Balai Bahasa Papua, Yohanes Sanjoko menjelaskan jumlah bahasa daerah yang telah terindentifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat mencapai 384 bahasa. Dari 384 bahasa daerah tersebut, sejumlah 290 bahasa daerah diindentifikasi di Papua, dan sejumlah 94 bahasa daerah diidentifiaksi di Papua Barat.

“Kebanyakan bahasa daerah di Papua ini memiliki jumlah penutur yang sangat sedikit, berkisar 100 hingga 500 orang. Di Papua, hanya ada beberapa bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur yang banyak, hingga ribuan orang penutur, seperti bahasa Mee misalnya. Bahasa Dani juga memiliki penutur yang sangat banyak, mencapai lebih dari 100 ribu orang penutur,” kata Yohanes di Jayapura, Senin (29/4/2019).

Yohanes mengakui, banyak bahasa daerah di Papua memiliki risiko kepunahan tinggi, dengan tingkat klasifikasi risiko kepunahan yang berbeda-beda. Kategori bahasa daerah yang berada di ambang kepunahan misalnya, adalah bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur kurang dari sepuluh orang. Bahasa daerah diklasifikasi memiliki tingkat risiko kepunahannya sangat berbahaya jika hanya memiliki 10-100 penutur.

Selain itu, ada bahasa daerah yang diklasifikasikan memiliki tingkat risiko, cukup berbahaya (100-500 penutur), berbahaya (500-1.000 penutur), kurang aman (1.000-5.000 penutur). Sebuah bahasa daerah dinilai memiliki risiko kepunahan yang relatif aman jika memiliki lebih dari 5.000 orang penutur. Mengacu kepada klasifikasi risiko kepunahan bahasa itu, sebagian besar bahasa daerah di Papua berada pada klasifikasi risiko kepunahan “cukup berbahaya”, karena hanya memiliki 100 – 500 orang penutur.

Yohanes menyatakan terdapat sejumlah kemungkinan yang menyebabkan sebuah bahasa daerah punah atau penuturnya berkurang. Penyebab itu antara lain bencana alam, kehidupan urban di perkotaan, ataupun pemakaian lingua franca yang meluas, seperti penggunaan bahasa Indonesia di berbagai wilayah di Papua.

Loading...
;

“Fenomena di daerah perkotaan atau pinggiran perkotaan, para penutur bahasa daerah beralih menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa bahasa daerah di Kota Jayapura misalnya, semakin kehilangan penutur,” kata Yohanes.

Situasi itu juga tergambar dari dari penelitian Summer Institute of Linguistic (SIL) Papua yang hingga 2013 mencatat keberadaan 275 bahasa daerah yang ada di Tanah Papua. Dari jumlah itu, hanya 130 bahasa daerah yang masih aktif dan digunakan masyarakat. Sekitar 145 bahasa lainnya dalam posisi terancam punah, atau sudah punah.

SIL Papua telah melakukan penelitian kelestarian bahasa daerah di Tanah Papua sejak 1963, dan memperbarui penelitian kelestarian bahasa itu setiap sepuluh tahun sekali. Pada 2013, SIL Papua melaporkan sejumlah bahasa daerah yang punah, seperti bahasa Dusnar dan Tandia di wilayah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, atau bahasa Tofanma di wilayah Namla, dan  bahasa Saponi di Kabupaten Waropen, Papua. (Baca: SIL : 130 Bahasa Ibu Masih Aktif)

Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru menyatakan Pemerintah Kota Jayapura telah berupaya melestarikan bahasa daerah yang ada di Kota Jayapura, antara lain dengan kurikulum muatan lokal di sekolah. “Dengan cara ini peserta didik lebih bergairan belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata untuk mengembangkan kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain (seperti bahasa daerah),” ujar Rustan Saru.

Menurut Rustan Saru, anak bisa dibiasakan untuk memakai bahasa daerah, antara lain diawali dengan mengenali pengucapan salam dalam bahasa daerah, dan mengenal kosa kata pergaulan sehari-hari, misalnya sapaan terhadap lawan bicara. “Kurikulum muatan lokal bertujuan meningkatkan relevansi bahan ajar dan penggunaan bahasa daerah setempat,” jelas Saru. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top