Kain tenun masyarakat adat ini disebut mendunia

Proses merajut kain tenun, pixabay.com

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Kain tenun produksi masyarakat adat Baduy disebut memikat pasar dunia setelah  berbagai lembaga pemerintah hingga pihak swasta telah membantu promosi ke piahk luar.

“Kita menerima laporan bahwa produk kain tenun Baduy sudah menembus pasar dunia,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Dedi Rahmat, Jumat, (4/12/2020).

Baca juga : Tiga jenis kain khas Bali ini mulai punah 

Pewarnaan kain tenun Bali gunakan abu vulkanik 

Batik khas Kota Jayapura belum berkontribusi untuk perekonomian

Ia mengaku Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lebak telah mempromosikan kain tenun Baduy ke sejumlah negara di Benua Eropa. Selain itu, Lembaga Kementerian Pariwisata juga kalangan pengusaha, termasuk desainer muda Amanda I Lestari menampilkannya di London Fashion Week, Inggris.

Loading...
;

“Dengan melalui kerja sama itu kini produk kerajinan tenun Baduy bisa menembus pasar dunia,” kata Dedi menambahkan.

Saat ini, harga kain tenun Baduy di kawasan kerajinan masyarakat Baduy di Kampung Kadu Ketug Desa Kanekes Kabupaten Lebak berkisar antara Rp150 ribu sampai Rp1,5 juta per potong dengan ukuran 3 meter persegi.

Kini pmda setempat mengoptimalkan pembinaan kain tenun Baduy guna meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Pembinaan dilakukan di antaranya dengan pelatihan hingga magang ke sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sedangkan keunggulan kain tenun Baduy adalah keragaman motifnya, seperti motif poleng hideung, poleng paul, mursadam, pepetikan, kacang herang, maghrib, capit hurang, susuatan, suat songket, smata (girid manggu, kembang gedang, kembang saka), adu mancung, serta motif aros yang terdiri dari aros awi gede, kembang saka, kembang cikur dan aros anggeus.

“Motif kain tenun Baduy memberikan kecintaan terhadap alam yang begitu penuh kekayaan,” kata Dedi menjelaskan.

Kekhasannya lain juga dilihat dari kain tenun yang dibuat menggunakan peralatan manual tanpa mesin. Para pengrajin mengerjakan satu potong kain tenun Baduy berukuran 2×3 meter persegi mencapai dua hari. “Kami menargetkan dengan pembinaan itu diharapkan kain tenun Baduy menembus pasar domestik dan mancanegara,” katanya.

Ketua UKM DQ Baraya Kabupaten Lebak, Endoh Mahfudoh mengatakan pihaknya saat ini menjual kain tenun Baduy ke Vietnam karena permintaan konsumen di negara itu cukup tinggi. “Tingginya permintaan pasar di negara Vietnam,” kata Endoh.

Menurut dia, permintaan itu terjadi setelah kerajinan Baduy mengisi kegiatan pameran melalui promosi yang dilakukan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Provinsi Banten.

“Masyarakat Vietnam pun mengaku sangat tertarik produk-produk kerajinan masyarakat budaya Baduy dari Kabupaten Lebak, Banten,” katanya.

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top