Follow our news chanel

Previous
Next

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

papua covid-19 pakar komunikasi
Pakar komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Papua Dr. Indah Sulistiani, MI bersama mahasiswanya - Dok. Pribadi.

Pakar komunikasi: kampanye Covid-19 kepada anak muda harus persuasif

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –Teknik komunikasi sosialisasi bahaya dan penanggulangan Covid-19 kepada anak muda yang paling tepat adalah melalui teknik komunikasi persuasif.

Demikian menurut pakar komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Papua Dr. Indah Sulistiani, MI ketika Jubi meminta pendapatnya pada Rabu (14/10/2020).

“Yang tidak memaksa, namun memberikan rasa nyaman kepada khalayak yang dituju,” kata dosen komunikasi itu.

Komunikasi persuasif, kata Indah, merupakan jenis komunikasi yang memiliki tujuan untuk memberikan pengaruh kepada komunikan atau “receiver” dari komunikator. Tujuannya agar mau bertindak sesuai dengan apa yang diminta oleh komunikator melalui kepercayaan sikap hingga perilaku komunikan.

Interaksi dalam komunikasi melibatkan dua atau lebih individu, melalui “sharing” informasi.

“Anak muda yang dikenal dengan generasi milenial adalah generasi yang peka dengan informasi, karena itu diperlukan teknik komunikasi yang mampu menimbulkan sikap dengan berbagai komponen,” ujarnya.

Loading...
;
Ada tiga komponen atau aspek yang harus diperhatikan. Aspek kognitif, yaitu masih banyak anak muda yang tidak paham dan acuh terhadap bahaya Covid-19. Mereka seringkali lalai menjaga diri dan lingkungannya agar tidak tercemar dengan virus tersebut.

Untuk itu butuh edukasi yang tepat kepada mereka tentang apa itu Covid-19, akibatnya bagi orang yang terdampak, bagaimana cara menghindari penularan, dan cara penanganan Covid-19.

“Semua informasi tersebut dapat dikemas secara apik melalui berbagai saluran atau media komunikasi, baik media cetak, elektronik, maupun media massa yang saat ini menjadi ‘trend setter’ generasi muda dalam mendapatkan informasi secara mudah, cepat dan murah,” katanya

Selain itu, ‘content of the communication’ atau pesan yang disampaikan harus menarik, kreatif, dan inovatif, gaya anak muda milenial. Pesan harus mampu mendorong, membangun dan memotivasi (motivating appeals).

“Pesan juga harus mengandung argumen atau opini (organization of persuasive arguments),” ujarnya.

Sedangkan aspek afektif, individu mempunyai kecenderungan menyukai dan tidak menyukai objek tertentu. Seperti Covid-19, informasi yang beredar seringkali adalah informasi yang bersifat hoaks.

Karena itu, untuk menarik minat generasi muda pada informasi tentang Covid-19, perlu adanya model komunikasi persuasif yang mampu menggugah sikap mereka untuk mendukung program pemerintah dalam penanggulangan penyebaran Covid-19 dengan menjaga diri dan lingkungan.

“Bentuk komunikasi persuasif yang dapat dilakukan seperti memasang iklan, melakukan kampanye langsung, dan memasang pamlet pada tempat-tempat di mana generasi muda berada, seperti di lingkungan kampus, restoran, kafe, dan tempat ibadah,” katanya.

Aspek ketiga yang harus diperhatikan adalah aspek konatif. Ini terkait dengan perilaku di mana genarasi muda sudah melakukan tindakan terhadap objek tertentu. Hal inilah yang sangat diharapkan dalam berkomunikasi di mana terdapat kesamaan makna yang dapat menimbulkan perubahan perilaku komunikan.

Pada aspek ini generasi muda terlibat dalam tindakan pencegahan virus Covid-19 dengan selalu menggunakan masker di manapun dan kapan pun, serta melakukan kampanye Covid-19.

Semua media, kata Indah, bisa digunakan  sebagai saluran penyebaran informasi tentang Covid-19 kepada anak muda.

“Karena setiap media memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing,” katanya.

Karena itu dalam kampanye tentang Covid-19 media yang digunakan bisa disesuaikan dengan anggaran yang tersedia, sehingga bisa efisien dan efektif dalam mencapai sasaran yang akan dituju.

Beberapa media yang dapat digunakan untuk kampanye adalah media cetak seperti koran, majalah, pamlet, spanduk, baliho, dan brosur. Media elektronik seperti televisi dan radio. Media internet seperti website dan situs online. Juga media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Twiter, Instagram, dan Youtube.

Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura Putra Rumaigia mengatakan sosialisasi Covid-19 perlu ditambah, karena sejauh ini generasi muda masih kurang patuh terhadap ajuran, imbuan, dan protokol kesehatan sebagai norma baru dalam kehidupan sosial.

Menurutnya pemerintah perlu memaksimalkan media sosial, media elektronik, dan media cetak agar pesan tentang bahaya Covid-19 bisa tersampaikan kepada generasi muda.

“Hari ini kan generasi muda lebih banyak memakai media sosial seperti WA, Facebook, dan Instragram, jadi bisa dimainkan edukasi-edukasi tentang Covid-19 lewat media sosial tersebut,” ujarnya.

Pesannya, kata Putra, lebih kepada generasi muda agar berhati-hati menjaga diri, imunitas, dan tetap mengikuti anjuran pemerintah. (CR7)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top