Follow our news chanel

Previous
Next

Kapolres Sorong diminta tidak lindungi aparat pembunuh George Karel Rumbino

Koalisi Pengacara dan Solidaritas Pemuda dan Masyarakat Peduli HAM melakukan aksi pembakaran lilin yang bertempat di taman Sorong City, Kota Sorong, Kamis (8/10/2020) – Jubi/IST

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Koalisi Pengacara dan Solidaritas Pemuda dan Masyarakat Peduli HAM melakukan aksi memperingati George Karel Rumbino alias Riko, seorang pemuda yang meninggal di Polres Kota Sorong.

Mereka membakar lilin tanda duka cita di taman Sorong City, Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (9/10/2020).

Ibu kandung dari korban, Rosita Urbinas meminta Kapolda Papua Barat yang telah menemuinya beberapa waktu lalu, agar bisa menunjukkan kepada publik, siapa saja anggota polisi yang jadi pelaku pembunuh anaknya. Karena Ia menyerahkan anaknya (ke polisi) bukan untuk dibunuh atau dianiaya tetapi untuk diperiksa.

“Saya merasa bersalah karena saya sendiri yang menyerahkan anak saya untuk diperiksa. Anak saya kembali sudah tidak bernyawa,” kata Rosita.

Leonardo Ijie selaku kuasa hukum yang ditunjuk oleh Sinode GKI di Tanah Papua untuk mendampingi keluarga korban, mengucapkan terima kasih kepada Wakapolda yang sudah beritikad baik menemui keluarga dan sudah ada rilisan beberapa pelaku yang sudah terbukti melakukan kesalahan. Namun sayangnya salinan putusan sidang kode etik tidak diberikan kepada pihak keluarga.

“Kenapa hanya inisial dan pangkat pelaku yang diberikan kepada keluarga? Kenapa tidak ada salinan tembusan putusan sidang kode etik yang disampaikan kepada keluarga, supaya menjadi pegangan hukum bagi keluarga sebagai bukti bahwa ada proses hukum yang sedang berlangsung,” kata Leonardo melalui siaran pers kepada Jubi, 9 Oktober 2020.

Leonardo Ijie menegaskan bahwa Perda Minuman beralkohol (Minol) di Kota Sorong telah ada. Namun hingga hari ini peredaran Minol tidak terkontrol.

Loading...
;

“Kami mau bertanya sejauh mana kinerja aparat di Kota Sorong? Perlakuan untuk Riko adalah bukan hal yang pertama, ini yang kesekian kalinya,” kata Ijie.

Ia mengaku dapat membuktikan tindakan aparat di Kota Sorong ini sangat tidak manusiawi. Menurutnya tindakan kepada Ricko adalah akumulasi dari tindakan kriminal dari aparat kepolisian yang ada di Polres Sorong Kota,

“Kami punya bukti beberapa laporan tindakan kriminal yang pelakunya adalah oknum aparat kepolisian yang ada di wilayah Resort Sorong kota,” tambah Ijie.

Ia meminta kepada Kapolri dan Kapolda Papua Barat untuk melihat tindakan kekerasan aparat yang berulang kali terhadap masyarakat.

Ia meminta Kapolri supaya jangan melindungi aparat yang merusak citra kepolisian. “Kami minta supaya siapa pun aparat yang melakukan tindakan tidak manusiawi segera dituntut, diusut dan diberhentikan, karena tidak layak untuk ada dalam institusi yang menjadi harapan rakyat,” ujarnya.

Ketua DPD-KAI, Fernando M. Ginuny menjelaskan, supaya warga tidak menghakimi tindakan yang belum pasti dilakukan oleh Ricko, tapi harus kritis menilai proses penangkapan yang terjadi sampai dikembalikan dengan kondisi sudah tidak bernyawa.

“Saya membantah pers rilis yang dikeluarkan kemarin, karena klien kami disebut sebagai pelaku. Pengadilan yang akan menetapkan Ricko sebagai pelaku, apabila sudah ada putusan berkekuatan hukum tetap (inkracht) Sebagai penegak hukum kita semua harus menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah. Kita semua pasti mengetahui ini,’ kata Ginuny.(*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top