Follow our news chanel

Previous
Next

Karhutla ancam pasien Covid-19, ini penjelasan ahli

Petugas memadamkan kebakaran lahan di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau, Selasa (17/9/2019) - Antara/Puspa Perwitasari.

Jakarta, Jubi – Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono,  mengatakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkatkan indeks nitrogen dioksida (NO2) yang lebih berbahaya bagi pasien Covid-19 yang mengidap tuberkulosis. Selama ini Karhutla berdampak pada kesehatan masyarakat, menyebabkan peningkatan kejadian penyakit paru atau tuberkulosis.

“Efek jangka pendek dari eksposur polusi udara akibat karhutla seperti di Pekanbaru, Riau,  meningkatkan risiko tuberkulosis. Hal itu karena peningkatan indeks NO2 yang lebih berisiko dari partikel berukuran lebih kecil dari 10 mikron (PM10) dan Sulfur dioksida (SO2),” kata Pandu dalam diskusi Editor Meeting The Society for Indonesian Enviromental Journalists (SIEJ) yang membahas “Ancaman Karhutla di Masa Pandemi Covid-19” Sabtu, (29/8/2020.

Baca juga : Pandemi Covid-19, kurangi anggaran penanganan Karhutla 

Ini yang terjadi jika Indonesia alami resesi akibat pandemi

Lokakarya virtual edukasi pencegahan karhutla

Kondisi itu menjadikan masyarakat di daerah yang rawan terjadi Karhutla di masa pandemi Covid-19, bisa jauh lebih banyak mengalami gangguan fungsi paru dan bisa menaikkan angka kematian.

Pandu mengatakan pandemi yang sedang berlangsung kemungkinan tidak hanya terjadi sekarang tetapi bisa sampai 2022. Artinya risiko terinfeksi dan kemungkinan peningkatan mortalitas masih banyak, terlebih jika ditambah Karhutla.

Loading...
;

“Jadi harus dicegah. Karhutla tidak boleh terjadi dan penularan juga harus ditiadakan,” kata Pandu menambahkan.

Pandu mengatakan masyarakat tidak akan bisa kembali ke situasi Indonesia seperti sebelum pandemi. Hidup di masa pandemi menjadi lebih berisiko, namun sayangnya kampanye penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak minimal satu meter (3M) tidak kuat. Padahal obat bukan solusi bagi mereka yang sehat, karena obat diperuntukkan bagi yang sakit. Ia lebih menyarankan masyarakat yang harus sadar untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain.

“Penggunaan masker menjadi cara paling murah namun efektif menurunkan risiko penularan Covid-19 di masyarakat,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top