Kasus Covid-19 melonjak, Port Moresby diminta terapkan karantina wilayah

Powes Parkop. - RNZ Pacific / Johnny Blades

Papua No.1 News Portal | Jubi

Port Moresby, Jubi – Kota Port Moresby sedang bersiap-siap untuk menyambut kemungkinan akan adanya karantina wilayah pekan ini setelah diskusi akhir pekan lalu antara dokter-dokter senior, polisi, dan otoritas kota itu tentang cara terbaik yang bisa diambil untuk mengurangi kasus baru dan kematian akibat virus Corona (Covid-19).

“Tujuan utama kami masih sama, untuk mencegah infeksi, menghentikan penularan, dan menyelamatkan nyawa. Sebagian besar kematian terkait Covid-19 yang dilaporkan adalah kematian yang seharusnya dapat dicegah,” ungkap Gubernur Powes Parkop.

Sang gubernur diharapkan akan memberi laporan tentang apa yang telah dibahas kepada Perdana Menteri James Marape dan Menteri Kesehatan Jelta Wong Senin ini (25/10/2021).

“Pertemuan itu sangat komprehensif. Kami membahas berbagai opsi dan menilai kelayakan dan implikasinya,” kata Parkop. “Direktur pelayanan medis Rumah Sakit Umum Port Moresby (PMGH), dr. Kone Sobi, juga mengingatkan kita bahwa 99% dari pasien yang dirawat di PMGH itu tidak belum menerima vaksinasi.

“Dia juga mengingatkan kita bahwa varian Delta itu menyerang semua orang, tanpa pandang usia, tidak seperti varian lainnya. Kita dapat mencegah kematian-kematian ini jika kita benar-benar mengindahkan protokol Niupela Pasin atau kebiasaan baru, dan menerima vaksinasi. Sedikit lagi kita akan mencapai 80.000 vaksinasi di kota Port Moresby. Kita perlu menjangkau 160.000 orang dewasa agar bisa mencapai kekebalan kelompok.”

Menurut Presiden Kamar Dagang dan Industri PNG, Ian Tarutia, hal yang sangat dibutuhkan saat ini adalah “meminimalkan pergerakan masyarakat dan mencegah masyarakat berkumpul dalam skala besar”.

“Karantina wilayah atau pembatasan jam malam yang terukur selama tiga minggu, dengan hanya mengizinkan layanan-layanan esensial untuk melanjutkan operasinya adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan, terutama di daerah-daerah panas yang dilaporkan di seluruh negeri,” katanya.

Loading...
;

Wakil ketua dewan kesehatan nasional negara itu, dr. Mathias Sapuri, menyarankan bahwa lockdown secara nasional selama dua minggu adalah satu-satunya cara untuk mengendalikan lonjakan Covid-19 di sana.

“Virus itu berhenti menyebar ketika orang-orang berhenti bergerak,” katanya.

Gubernur Parkop, pada 7 Oktober lalu, sempat menyatakan bahwa dia akan melawan upaya karantina wilayah lebih lanjut di ibu kota, dan negara itu, karena kerugiannya yang besar.

Pemerintah Port Moresby dikatakan mengalami kerugian sebesar K 8-9 juta selama lockdown ketika gelombang pertama dan kedua melanda negara itu.

Tapi, Kamis lalu, dia akhirnya mengakui bahwa kota itu perlu dikarantina wilayah untuk mengendalikan lonjakan kasus Covid-19.

“Jika para dokter bila kepada saya bahwa kita harus menerapkan karantina wilayah karena mereka tidak mampu lagi untuk menghadapi Covid-19, maka saya akan mengikuti saran mereka,” katanya. (The National)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top