Kasus HIV-AIDS di Papua tinggi, ini komentar Uskup Timika

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KASUS HIV-AIDS di Provinsi Papua per 30 September 2018 sangat memprihatinkan. Tercatat total ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) mencapai 38.874 orang. Angka tertinggi kota dan kabupaten di Papua nomor satu adalah Kabupaten Nabire dengan total 7.240 orang.

Sebanyak 2.681 di antaranya HIV dan 4.559 orang AIDS. Untuk kasus HIV menunjukkan Nabire urutan kedua terbanyak setelah Mimika 2.944. Namun kasus AIDS Nabire tertinggi dengan jumlah penderita 4.559.

Menanggapi hal tersebut, Uskup Keuskupan Timika Mgr, Jhon Philip Saklil, Pr saat ditemui Jubi usai memberkati gedung gereka Kristus Raja Nabire, mengatakan untuk mengubah mentalitas dan perilaku orang butuh pembinaan.

“Sebab selain berperilaku kurang sehat, juga banyak anak putus sekolah yang jauh dari pelayanan publik,” ujarnya.

Uskup tidak memungkiri banyak program pemerintah yang telah dilakukan dalam penangani HIV-AIDS di Papua. Hanya saja kasusnya masih meningkat, sehingga harus mengubah cara dan mengikuti perkembangan.

Menurutnya perlu ada perhatian serius secara sistematis dan pendampingan terhadap komunitas-komunitas masyarakat, khususnya kalangan anak muda, sebab bukan hanya HIV yang menjadi masalah, tetapi juga alkohol, narkoba, dan pergaulan bebas.

Loading...
;

“HIV-AIDS makin meningkat dan saya tahu banyak orang telah membantu penanganannya, terutama komunitas-komunitas, LSM, juga pemerintah, namun tugas semua sektor untuk menangani mental dan perilaku seseorang,” katanya.

Menurut Uskup yang berasal dari Kei ini, penyebabnnya tak lain adalah dengan perkembangan dan semakin banyak orang memiliki harta dan kemudahan-kemudahan. Ini menyebabkan semakin banyak hal-hal negatif yang akan dilakukan orang. Bukan berarti zaman yang disalahkan, tetapi kelakuan masyarakat dan perilaku yang kurang bagus harus dikurangi.

“Karena gampang jadi orang mau apa saja bisa, narkoba, miras, dan akhirnya HIV dapat,” katanya.

Khusus untuk Keuskupan Timika, katanya, telah memiliki satu unit klinik yang menangani kasus HIV, yaitu Klinik St. Rafael Bukit Meriam yang berada di Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK).

“Kami memiliki program melalui Klinik Rafael, tapi memang perlu ada kerja sama dengan semua pihak, seperti pemerintah, LSM, dan tokoh masyarakat sehingga semua ikut ambil bagian dalam perlindungan masyarakat dari infeksi HIV,” ujarnya.

Selain memiliki klinik, kata Uskup Saklil, juga ada pembinaan melalui gereja, Kombas, komunitas Orang Muda Katolik (OMK), dan yang sangat diperlukan keterlibatan keluarga.

“Dibutuhkan dukungan dan keterlibatan semua pihak dan kita melalui gereja terus berupaya melalui komunitas paling kecil yakni keluarga. Sebab keluarga adalah awal perilaku seseorang dibentuk,” katanya.

Sementara, Pastor Paroki RK, Stefanus Yogi, berpandangan pembinaan dan pencegahan yang dilakukan gereja Katolik melalui kursus persiapan perkawinan, sebab suami dan istri harus bersama menjaga karena pernikahan hadir untuk saling menjaga.

Pernikahan bukan untuk menguasai dan memperlakukan satu pihak sebagai pelayan dan satu pihak sebagai pembantu, tetapi sama-sama saling menjaga dan melengkapi agar kasih sayang tetap tumbuh selamanya.

“Itu harus diungkapkan melalui tanggung jawab untuk bersama mendampingi dalam rumah tangga dan jika diberikan anak, maka harus mendampingi agar tumbuh sebagai pribadi yang baik dan punya masa depan,” ujarnya.

Namun, kata Pastor Yogi, jika pendampingan terhadap anak saling lempar tugas antara suami-istri maka secara otomatis anak akan menjadi korban yang akhirnya bisa berdampak kepada banyak faktor. Bila dari kecil sudah terbiasa, katanya, maka kelak anak akan berperilaku yang buruk.

Sehingga kerjasama suami-istri harus dijalani dalam suasana yang aman dan damai. Jika tidak maka korbannya adalah anak. Padahal orang tua harus bertanggung jawab agar bisa menciptakan suasana yang baik aman damai dalam keluarga.

“Entah mengenal miras, narkoba, aibon, hingga seks bebas, untuk itu saya selalu menekankan kehidupan warga dalam membina anak sangat penting sebagai dasar dalam keluarga,” katanya.

Menurut Pastor Yogi, pembiaran anak di Nabire sangat tinggi, sebab banyak orang tua tidak mampu mendampingi anak. Anak stres, kurang istirahat, tidak pernah belajar dan lebih banyak bermain di luar rumah. Sebab sering anak di Nabire berkeliaran, baik siang, jam sekolah, maupun malam hari.

“Ini yang tidak disadari para orang tua,” ujarnya.

Program ke depan yang dilakukan gereja KR, kata Pastor Yogi, adalah rancangan pembinaan di tingkat keluarga. Memberikan pembinaan pemahaman kepada suami-istri untuk bisa bekerja sama dalam menciptakan rumah tanggayang baik.

Namun saat ini yang masih dilakukan adalah proses pembinaan pasangan yang akan menikah.

“Kalau dilakukan dengan benar, tentu ke depan anak anak menjadi baik, jika demikian tentu tidak ada kasus narkoba dan seks bebas yang berujung HIV,” ujarnya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top