Follow our news chanel

Kawasan pesisir laut Jawa ini terancam kenaikan air laut

Ilustrasi abrasi, pixabay.com
Kawasan pesisir  laut Jawa ini terancam kenaikan air laut 1 i Papua
Ilustrasi abrasi, pixabay.com

Tingkat kerentanan akibat fenomena alam pesisir itu mengancam kehilangan dan kerusakan harta benda, tanah mereka terendam secara permanen, menyebabkan peningkatan biaya untuk rehabilitasi dan migrasi.

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jakarta, Jubi – Kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah imbas perubahan iklim global menjadi ancaman serius bagi warga kawasan pesisir Jakarta, Semarang dan Demak. Proyeksi para ahli menyeutkan warga kawasan itu mengalami peningkatkan risiko kehilangan kerusakan harta benda.

Para ahli telah memproyeksikan permukaan air laut akan naik 25 hingga 50 centi meter tahun 2050, sedangkan pada 2100 air laut akan menggenangi sebagian besar kota pesisir di Indonesia.

“Masyarakat pesisir akan menjadi kelompok paling rentan karena banjir pesisir dan penurunan permukaan tanah serta perubahan lingkungan laut,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pujiastuti, Kamis, (25/7/2019).

Berita terkait : Abrasi ancam Nabire

Talud di pantai Lampu Satu untuk antisipasi abrasi

Loading...
;

Cuaca ekstrem, rumah warga Keluharan Kalibobo Nabire terancam abrasi

Tingkat kerentanan akibat fenomena alam pesisir itu mengancam kehilangan dan kerusakan harta benda, karena banjir dan tanah mereka terendam secara permanen, menyebabkan peningkatan biaya untuk rehabilitasi dan migrasi.

Nuke mengatakan ilmu pengetahuan berperan penting dalam memberikan solusi untuk mengatasi masalah kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah serta dampaknya. “Ilmu sosial dan alam diperlukan untuk memberikan saran ilmu pengetahuan untuk mengatasi masalah-masalah khusus ini,” kata Nuke menambahkan.

LIPI bersama International Network for Goverment Science Advice-Asia (INGSA-Asia) membahas pemetaan keterlibatan para pemangku kepentingan dan mekanisme saran ilmiah melalui pendekatan holistik dan multidisiplin dalam mengambil opsi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Baca juga : Pantai Cemara abrasi 25 meter pertahun

Tanam enam ribu pohon, cegah abrasi pantai Lampu Satu

Dalam loka karya, mereka juga menyinggung kebutuhan mendesak akan undang-undang khusus tentang adaptasi perubahan iklim serta peningkatan koordinasi dan pengelolaan zona pesisir terpadu dalam sistem hukum Indonesia.

Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Sri Sunarti Purwaningsih mengatakan masyarakat kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Demak berpotensi mengalami kehilangan dan kerusakan harta benda akibat banjir dan tanah yang terendam secara permanen.

“Kondisi itu perlu upaya adaptasi menghadapi perubahan iklim,” kata Sri Sunarti.

Menurut dia, upaya adaptasi terhadap perubahan iklim memiliki implikasi lingkungan, ekonomi, dan sosial. “Adaptasi perubahan iklim saat ini lebih mendukung pendekatan berbasis ketahanan dan kerentanan,” kata Sri, menambahkan.

Meski ia mengakui adaptasi menimbulkan pro dan kontra untuk pengembangan infrastruktur keras seperti tanggul laut raksasa di Jakarta atau integrasi tanggul laut dan jalan tol di Semarang dan Demak.

Namun hal itu dinilai penting karena sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi dampak perubahan iklim global terhadap kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan. “Strategi dan upaya jangka pendek, menengah, dan panjang harus dilakukan untuk mengendalikan dan mengantisipasinya,” katanya. (*)

Editor  : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top