Follow our news chanel

Previous
Next

KDRT dan kekerasan terhadap anak di Pasifik

Ada dua laporan baru yang diluncurkan pada 30 Juli mengungkapkan gentingnya isu KDRT, kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak-anak, dan pelecehan seksual terhadap anak-anak di Pasifik dan Timor-Leste. - PINA
KDRT dan kekerasan terhadap anak di Pasifik 1 i Papua
Ada dua laporan baru yang diluncurkan pada 30 Juli mengungkapkan gentingnya isu KDRT, kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak-anak, dan pelecehan seksual terhadap anak-anak di Pasifik dan Timor-Leste. – PINA

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Lisa Cornish

Ada dua laporan baru, diluncurkan pada 30 Juli, yang mengungkapkan gentingnya isu KDRT di Pasifik dan Timor-Leste, dengan tujuan untuk menunjukkan norma-norma sosial dan budaya yang berdampak pada pembangunan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut.

Laporan ‘The Business Case for Workplace Responses to Domestic and Sexual Violence in Fiji’, yang disusun oleh Korporasi Keuangan Internasional atau International Finance Corporation (IFC) dan program bantuan Australia, menemukan dampak KDRT di kawasan tersebut terhadap usaha-usaha swasta dan produktivitasnya – mengumpulkan informasi bagi bisnis-bisnis agar dapat menyediakan program yang mendidik dan mendukung karyawan mereka yang menjadi korban.

“Keingininan kami adalah untuk melibatkan sektor swasta ke dalam diskusi ini dan melibatkan mereka dalam… respons masyarakat,” Shabnam Hameed, pejabat bidang gender di IFC East Asia Pacific, berkata kepada Devex.

Laporan lainnya ‘Unseen, unsafe,’ yang diterbitkan oleh empat LSM ChildFund Australia, Plan International, Save the Children, dan World Vision, menyingkapkan tingkat kekerasan terhadap anak-anak di Pasifik dan Timor-Leste – mengungkap informasi yang, menurut CEO Plan Australia Susanne Legena, hingga saat ini masih terbatas.

“Kekerasan terhadap anak-anak itu tidak terlihat,” kata Legena. “Itulah alasan dibalik judul laporan ini. Ini adalah laporan komprehensif pertama tentang persoalan ini di wilayah Pasifik.”

Loading...
;

Dengan informasi baru ini, kedua laporan itu ingin memulai percakapan tentang keperluan pembangunan di wilayah Pasifik, serta untuk mendorong donor dan mitra -mitra baru untuk membantu mengatasi KDRT antargenerasi.

Isu KDRT di Fiji dan dampaknya kepada perekonomian

Laporan IFC mengenai Fiji diterbitkan mengikuti penelitian serupa yang dilakukan di Kepulauan Solomon – di mana kedua studi dilakukan berdasarkan keperluan sektor swasta.

Fiji telah mengambil langkah awal untuk membangun sistem pengasuhan anak atau child care.

Kurangnya layanan pengasuhan anak menyebabkan keluarga Fiji stres dan merugikan sektor swasta hingga FJD $ 1.000 (AS $ 500) per karyawan per tahun, menurut laporan IFC baru.

Ketika IFC mulai bekerja di kawasan Pasifik, usaha-usaha di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon berkata kekerasan adalah salah satu permasalahan utama yang ingin mereka tangani, Hameed menjelaskan. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan negara-negara lain, setelah itu. “Ketika kita sampai ke Fiji, apa yang dikatakan sektor swasta kepada kami adalah, bahwa ada dua hal yang merupakan penghalang bagi perempuan pekerja – satu adalah pengasuhan anak dan lainnya adalah KDRT dan kekerasan seksual.”

Penelitian yang dilakukan menunjukkan 1 dari 3 karyawan pernah menjadi korban KDRT atau kekerasan seksual selama hidup mereka: 44% perempuan dan 22% pria. Kekerasan di sini termasuk penderaan emosi, pelecehan, intimidasi, dan kekerasan fisik.

Tiga perempat dari mereka yang pernah menjadi korban KDRT atau kekerasan seksual secara langsung mengatakan bahwa hal itu berdampak pada pekerjaan mereka, sementara lebih dari 50% peserta survei berkata KDRT atau kekerasan seksual yang dialami keluarga atau teman mereka berdampak pada pekerjaan mereka.

“Data kita dengan jelas menunjukkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki terkena dampak KDRT dan bagaimana mereka terkena dampak KDRT,” kata Hameed.

Untuk usaha-usaha, tingginya kasus kekerasan ini berarti hingga 10 hari kerja hilang per karyawan per tahun, karena karyawan “merasa terganggu, lelah atau sakit, terlambat bekerja, absen, atau membantu orang lain menanggapi kejadian KDRT dan kekerasan seksual.”

Proses untuk mengatasi KDRT dan kekerasan seksual yang sudah berlaku di tempat kerja, Hameed menjelaskan, hanyalah ‘ad-hoc’ tanpa prosedur formal. Tetapi laporan itu telah merekomendasikan sejumlah perubahan yang bisa dilakukan oleh usaha-usaha.

Lebih dari setengah perempuan dan 28% laki-laki yang terkena dampak KDRT yang disurvei bercerita tentang hal itu kepada seseorang di tempat kerja. “Tempat kerja adalah tempat yang baik untuk mendukung orang-orang dengan melakukan perubahan norma-norma budaya,” kata Hameed.

Peluncuran laporan IFC ini bertepatan dengan diumumkannya suatu program IFC di Fiji, yang dilaksanakan untuk mendukung perusahaan-perusahaan dalam menanggapi KDRT dan kekerasan seksual, melalui serangkaian lokakarya dan pelatihan.

Kekerasan terhadap anak-anak

Laporan kedua, ‘Unseen, unsafe’ fokus pada sejumlah negara dan menunjukkan tantangan dan kesenjangan informasi yang ada untuk menghadapi isu kekerasan terhadap anak-anak – termasuk Fiji, PNG, Kepulauan Solomon, Timor-Leste, dan Vanuatu. Laporan ini mengungkapkan temuan yang sangat mengganggu mengenai kekerasan terhadap anak-anak menjadi suatu normal dan biasa-biasa saja secara sosial.

Di PNG, data dari penelitian LSM Save the Children, menunjukkan hampir 70% anak berkata mereka merasa takut di komunitas mereka sendiri. Hampir dua pertiga dari orang tua meneriaki anak-anak mereka, dan lebih dari setengah menyebut anak-anak mereka ‘malas’, ‘bodoh’, dan lain-lain. Serta 27% orang tua atau wali kadang-kadang menggunakan hukuman fisik “berulang kali, sekeras-kerasnya.”

Pelaporan atas kasus kekerasan seksual dari Médecins Sans Frontières atau Dokter Lintas Batas, menunjukkan prevalensi kekerasan seksual terhadap anak-anak di PNG – lebih dari 50% dari 3.056 kasus kekerasan seksual dirujuk ke klinik mereka terjadi kepada anak-anak.

Di Vanuatu, penelitian menunjukkan bahwa 83% anak-anak berusia antara 1 dan 14 tahun pernah mengalami didisiplinkan dengan kekerasan, sebagai praktik yang diterima secara universal dalam membesarkan anak di banyak komunitas.

Dan di Timor-Leste, sebuah studi tahun 2016 tentang kekerasan terhadap anak-anak menemukan bahwa setidaknya 37% responden survei perempuan dipaksa pengalaman seksual pertama mereka pada usia 14 tahun.

Dengan dikeluarkannya laporan ini, Plan Australia dan mitranya mendesak donor-donor untuk meningkatkan investasi mereka, dalam program-program yang secara khusus menangani kekerasan terhadap anak-anak, hingga 1,5% dari total bantuan pembangunan yang dialokasikan.

“Untuk Australia, itu berarti menginvestasikan AUD $ 55 juta (AS $ 37 juta) selama tiga tahun ke depan,” kata CEO Plan Australia, Susanne Legena. “Jika kita ingin generasi anak-anak di Pasifik bertumbuh dan berkembang, investasi yang bermakna dalam kesejahteraan dan keselamatan mereka itu sangat penting.”

Meskipun banyak tantangan, ada berbagai aksi yang dilakukan melalui program-program berbasis masyarakat. Program pendidikan keorangtuaan sedang diluncurkan untuk mengurangi kekerasan di rumah. Upaya-upaya sosialisasi telah meningkatkan visibilitas hak-hak anak dan memberdayakan anak-anak, untuk mengetahui ke mana mereka bisa pergi mencari bantuan, dan memahami apa yang dilarang oleh hukum.

Namun, diperlukan lebih banyak mitra pembangunan untuk memastikan bahwa isu KDRT diselesaikan, dan untuk mendukung memajukan wilayah Pasifik, kata Legena. (PINA/DEVEX)


Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top