Follow our news chanel

KDRT merenggut nyawa Jenelyn, kisah tragis perempuan muda Papua Nugini

Jenelyn Kennedy, ibu dua anak berusia 19 tahun di Papua Nugini meninggal dunia akibat KDRT. - EMTV News

Jenelyn Kennedy, perempuan berusia 19 tahun meninggal di tangan suaminya. Perempuan  dua anak itu  mneghembuskan nafas terakhir akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sebelum diberitakan meninggal, perempuan bernama Jenelyn Kennedy itu menikah dengan Bhosip Takip Kaiwi dalam usia relatif muda bahkan masih anak-anak, yakni  15 tahun. Satu tahun kemudian ia melahirkan anak pertamanya pada usia 16. Namun pada usia 19 ia meninggal dunia yang diduga di tangan orang yang ia cintai.

Kematian mengerikan yang dialami remaja Papua Nugini itu telah mengejutkan publik. Teman dekat dan pengasuh anak Jenelyn Kennedy, Rachael Ipang, mengungkapkan tragedi tersebut kepada EMTV News.

Baca juga : Penanganan KDRT di PNG dan bangkitnya masyarakat sipil

KDRT dan kekerasan terhadap anak di Pasifik

Pembunuhan perempuan muda di PNG dikecam

Kesaksian Rachael, Jenelyn menahan siksaan secara diam-diam dari suami sekaligus ayah dari dua anaknya. Perempuan karibnya itu meninggal dunia dalam keadaan yang sangat menyakitkan, sementara itu tidak satupun dari lima pemuda yang tinggal di dalam satu rumah menghentikan penyiksaan itu.

Loading...
;

“Hingga pada akhirnya Jeritannya berhenti, ia meninggal dunia,” kata Rachael menceritakan detik-detik terakhir hidup mendiang Jenelyn dengan air mata menetes.

Rachael menyebutkan suami Jenelyn memiliki lima rantai di sebuah ruangan untuk mengikat istrinya Jenelyn dan menggunakan tang, obeng, botol, dan pisau untuk menyiksanya.

Kematian Jenelyn diduga akibat penyiksaan yang ia alami di tangan suaminya, dimulai dari hari Kamis lalu (18/6/2020). Saat itu ia mulai dipukul tanpa henti, semua terjadi di belakang pintu tertutup. Meski seorang dokter pribadi dipanggil ke rumah pada hari Senin (22/6/2020), bahkan dokter ini pun tidak mengingatkan orang lain tentang keadaan Jenelyn. Ia merawat korban dan pergi begitu saja.

Kepada wartawan Rebecca Kuku dari surat kabar The National, Rachael menyatakan setelah dokter itu pergi, suaminya mulai kembali memukuli Jenelyn. “Jeritannya berhenti sekitar pukul 3 dini hari (Selasa). Menurut saya itulah saat  dia meninggal dunia,“ kata Rachael menjelaskan.

Tubuh Jenelyn tak kuat menahan luka akibat pentikasan -lukanya pada dini hari Selasa pagi (23/6/2020). Saat itu Bhosip Takip Kaiwi berhenti menyiksanya, dan tidak ada lagi suara yang terdengar dari ruangan tempat Jenelyn dianiaya.

Tercatat Jenelyn Kennedy kawin lari dengan pasangannya pada tahun 2016, saat itu kakek dan pamannya mencari dia di mana-mana. Ketika mereka menemukan Jenelyn dan melaporkan hal itu ke kepolisian, tidak ada tindakan apa-apa yang diambil oleh pihak berwenang. Kini perempuan yang tidak pernah kembali lagi ke rumah orang tuanya sejak Oktober tahun lalu itu, kembali dengan jenazah  kaku dengan kondisi tangan patah dan wajahnya penuh memar.

Dickson Karava, paman Jenelyn mengatakan keponakannya itu terakhir kali kembali ke rumah pada bulan Oktober 2019 bersama dua bayinya.

“Jenelyn tidak bisa bilang apa-apa. Saya hanya bisa memeluk Jenelyn dan membawanya masuk kedalam rumah,” kata Dickson Karava

Pertemuan bulan Oktober tahun lalu tak disangka menjadi pertemuan terakhir dengan keponakanya. Saat itu Jenelyn kembali ke suaminya, namun Jenelyn berulang kali berusaha melarikan diri dia menetap  di sejumlah rumah aman di berbagai daerah di Port Moresby.

Ketika didesak untuk melaporkan masalah KDRT yang ia alami ke polisi, Jenelyn biasanya memohon pamannya untuk tidak melaporkan pasangannya ke polisi.

Pamannya yang lain, Sepoe Karava, menerangkan bahwa Jenelyn memberitahukan mereka keluarga pasangannya memiliki koneksi yang luas termasuk  di kepolisian dan tentara. “Ia mengatakan kalaupun masalah itu dilaporkan, tidak akan ada tindakan apa-apa yang akan diambil,” kata Sepoe Karava.

 

Perdana Menteri PNG, James Marape, mendesak penuntutan pidana atas pembunuhan Jenelyn.

“Saya mendesak semua saksi-saksi dalam tindak kejahatan,” kata Marape.

Saksi yang ia maksud adalah keterbukaan termasuk dalam perkara kekerasan dalam rumah tangga. Marape minta kekerasan dalam rumah tangga jangan disembunyikan di balik budaya, ganti rugi, dan suku.

“Mari kita semua membantu pemidanaan pelanggaran hukum dan kekerasan,” kata Marape menegaskan.

Menurut Marape, tidak ada jumlah ganti rugi yang akan cukup untuk kematian tragis sperti yang dialami oleh Jenelyn.

“Keadilan harus ditegakkan,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top