TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Kearifan lokal suku Kokoda dan konservasi tradisional

Kepulauan Ugar di Fakfak, Papua Barat
Perairan Kepulauan Ugar yang merupakan penghasil perikanan tangkap terbesar di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. - IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Masyarakat lokal percaya jika mereka menjalankan sasi laut, hasil tangkapan laut mereka akan semakin banyak karena diberkati oleh alam”

Kearifan lokal di Tanah Papua telah terbukti dan terjaga dari generasi ke generasi, karena kearifan lokal itu menilai ada hubungan antara manusia dan lingkungan alamnya dalam kehidupan sehari-hari. Antropolog JR Mansoben PhD menyebutkan, dalam pandangan kosmis atau semua yang ada hubunganya dengan alam raya, masyarakat tradisonal adalah bagian integral dari ekosistemnya sendiri.

Menurut Mansoben, wujud dari pandangan demikian adalah personifikasi gejala-gejala alam tertentu dengan kelompoknya. Misalnya, orang Amungme di Kabupaten Mimika, Papua mempersonifikasikan alam dengan tubuh seorang manusia.

Begitupula orang Asmat, mengganggap pohon sebagai penjelmaan jati diri manusia.  Ada kelompok kelompok etnik tertentu percaya bahwa mereka adalah keturunan dari burung atau jenis hewan tertentu lainnya.

Baca juga: Pelatihan kelola data bagi pengelola kawasan konservasi Kaimana

Pandangan itu, lanjut Mansoben, menyebabkan terbentuknya norma-norma dan nilai-nilai tertentu dalam pengendali sosial bagi masyarakat pendukungnya untuk berinteraksi dengan ekosistem. Norma-norma itulah yang bisa mengatur hubungan baik dan tidak baik, yang dilakukan oleh masyarakat dalam hubungan sosial maupun memanfaatkan sumber daya alam.

Misalnya, larangan untuk membunuh jenis hewan tertentu, larangan menebang pohon secara sembarangan, larangan merusak lingkungan, termasuk pula larangan melakukan perbuatan asosial di tempat tertentu. Jika melanggar berbagai aturan tersebut, jelas pelanggarnya akan mendapatkan sanksi adat.

Oleh karena itu, lanjut Mansoben, sistem konsevarsi di Papua, misalnya di Biak, menyebutnya  Sasisen. Orang-orang Maya di Samate, Pulau Salawati, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, menyebut Rajaha. Sedangkan orang Tabla Depapre di Kabupaten Jayapura menamakannya Takayeti.

Dosen sejarah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Papua, Ibrahim Watora mengatakan dalam kebiasaan masyarakat di Kaimana, mereka membuang uang logam setiap kali melewati wilayah tertentu yang dianggap berbahaya. Orang yang membangun rumah juga menaruh uang logam di tiang fondasi utamanya.

Baca juga: Kekerasan, ancaman hingga pencaplokan tanah ada terjadi pada pembela HAM Lingkungan di Tanah Papua

Budaya sasi juga dimiliki masyarakat Suku Kokoda di Kepulauan Ugar, Distrik Arguni, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dan masih berlaku sampai sekarang. Balai Koservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat melaporkan, budaya sasi laut di sana merupakan budaya yang telah lama berlaku, dan sampai sekarang mengatur hasil panen tangkap.

“Karena masyarakat lokal percaya jika mereka menjalankan sasi laut, hasil tangkapan laut mereka akan semakin banyak karena diberkati oleh alam,” kata salah satu tua adat di sana, sebagaimana dilaporkan BKSDA Papua Barat dalam laman resminya. Para tua adat yang melakukan ritual adat dan sesaji untuk memulai suatu sasi pada wilayah laut yang telah ditentukan dan disepakati masyarakat suku Kokoda.

Setelah waktu sasi yang ditentukan berakhir, masa larangan akan diakhiri dengan upacara ritual dan sesajian untuk membuka sasi, yang menandai pembukaan daerah itu untuk melakukan penangkapan hasil laut. Selesai ritual, pada waktu subuh esok harinya, seluruh masyarakat mandi di air laut dengan membawa alat tangkap hewan laut seperti alat pancing, jaring ikan, tombak ikan, dan lain-lain.

Usai memanen hasil laut, selanjut melakukan kembali pelarangan atau sasi selama enam bulan dan masyarakat sangat patuh dengan larangan tersebut. Seandainya ada yang melanggar akan kena sanksi adat.

Baca juga: Tempat sakral masyarakat adat harus dilindungi

Agar kegiatan ekonomi dan kehidupan tetap berjalan masyarakat suku Kokoda membagi wilayah sasi menjadi dua wilayah, utara dan selatan. Ketika wilayah utara memberlakukan sasi (pelarangan), maka warga boleh mencari tangkapan laut di wilayah selatan.

Sasi laut juga merinci jenis tangkapan, dan berlaku setiap enam bulan. Contohnya, hasil tangkapan berupa kepiting, lobster, dan teripang hanya boleh dipanen selama enam bulan tiap tahunnya. Pengambilannya juga diharuskan dengan cara tradisional, tanpa merusak ekosistem. Kepiting atau lobster yang sedang bertelur juga tidak boleh dipanen, dan larangan itu tetap berlaku pada masa buka sasi, di mana larangan itu menjadi pantangan yang diyakini akan membawa musibah bagi orang yang melanggarnya.

Kearifan lokal sasi laut itu menjadikan ekosistem laut lebih terjaga, karena terdapat pembatasan dalam pengambilan sumber daya laut. Hal itu membuat proses regenerasi ekosistem berlangsung secara alami. Sebaliknya jika proses regenerasi ekosistem atau sasi laut ini tidak berjalan, akan terjadi eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan, sehingga bisa memunahkan beberapa spesies hewan laut.

Baca juga: Masyarakat adat kampung Fruata dan Rauna Tolak Penebangan Hutan di Teluk Bintuni

Sasi laut merupakan salah satu kearifan lokal yang menopang konservasi di tingkat ekosistem. Terbukti, dengan diterapkannya budaya sasi laut itu, Kepulauan Ugar di  Distrik Arguni menjadi salah satu pemasok ikan paling besar di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Selain itu, masyarakat Kokoda juga punya larangan dalam memasuki hutan keramat. Pada bagian timur Kepulauan Ugar, terdapat beberapa hutan keramat yang tertutup. Setiap orang yang ingin memasukinya harus mendapatkan izin dari ketua adat.

Proses perizinannya terbagi menjadi dua tahapan ritual. Pertama, ritual penyerahan sesaji berupa pinang, sirih, kapur, dan tembakau di pohon keramat. Kedua, ritual pengikatan tali merah oleh orang yang ingin masuk kawasan di pintu masuk hutan keramat. Hal tersebut dipercaya sebagai bentuk ikatan persaudaraan antara leluhur dengan orang yang ingin masuk kawasan agar dijaga oleh roh leluhur dan diberikan keselamatan.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us