Follow our news chanel

Kebakaran hutan di Australia dan dampaknya pada pekerja SWP Pasifik

Pekerja SWP kembali bekerja di kebun di Batlow setelah kebakaran hutan. - Development Policy Centre/ Australian National University/ James Walau
Kebakaran hutan di Australia dan dampaknya pada pekerja SWP Pasifik 1 i Papua
Pekerja SWP kembali bekerja di kebun di Batlow setelah kebakaran hutan. – Development Policy Centre/ Australian National University/ James Walau

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Rochelle-Lee Bailey

Pada Januari, saat puncaknya bencana kebakaran hutan di Australia, saya menerima pesan dari James Walau, ketua kelompok Program Pekerja Musiman (SWP) ni-Vanuatu, menginformasikan saya bahwa ia dan kelompoknya yang berjumlah 47 anggota, telah meninggalkan Batlow karena kebakaran hutan yang diprediksikan akan sampai dalam waktu dekat. Sejak September 2019, petugas pemadam kebakaran Australia telah memerangi kebakaran hutan dan diperkirakan, hingga pertengahan Januari 2020, lebih dari 12 juta hektare lahan telah terbakar. Di antara banyak kalangan yang terkena dampak kebakaran ini adalah petani dan pekerja yang berpartisipasi dalam program SWP.

Tulisan ini membahas dampak kebakaran hutan pada 48 pekerja SWP ni-Vanuatu yang dievakuasi dari Batlow di wilayah New South Wales. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengabaikan atau menyepelekan penderitaan dari ribuan orang yang kehilangan rumah dan sumber penghasilan mereka, dan mereka yang telah dirampas kehidupannya dan orang-orang yang mereka cintai. Sebaliknya, tulisan ini adalah bagian dari diskusi yang lebih besar tentang pengalaman pekerja SWP di Australia.

Dalam beberapa hari pertama 2020, komunitas di Batlow menerima arahan untuk mengungsi. Diprediksikan saat itu bahwa api akan melahap habis kota itu, yang dinyatakan ‘tidak dapat dipertahankan’ dari kebakaran hutan. Kelompok pekerja ni-Vanuatu tersebut baru saja sampai di Batlow pada akhir November 2019, mereka baru bekerja lima atau enam minggu dari total periode enam hingga sembilan bulan, bekerja di perkebunan apel dan beri. Bagi banyak dari mereka, ini bukan pertama kalinya mereka mengikuti SWP, dan pengetahuan akan daerah itu terbukti membantu dalam upaya evakuasi mereka. Seperti yang dikatakan Walau kepada program radio Pacific Beat, ‘Kita beruntung, kita punya banyak teman yang membantu kita. Kita sudah tahu daerah ini setelah dua SWP yang sudah kita ikuti, jadi lebih mudah bagi kita untuk berpindah’.

Kegiatan untuk menggalang dana adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak negara Pasifik. Dalam beberapa karya saya sebelumnya, saya telah melaporkan bagaimana pekerja musiman telah menyalurkan dana bantuan setelah terjadi bencana alam di negara mereka masing-masing, tetapi juga di negara dimana mereka bekerja. Pekerja-pekerja yang mengikuti skema pekerja musiman Selandia Baru (RSE) membantu menggalangkan dana untuk Christchurch setelah guncangan gempa bumi pada 2011. Pekerja SWP di Australia tidak hanya menggalang dana, tetapi juga membantu proses evakuasi dan pembersihan setelah banjir melanda Queensland. Colin Foyster, seorang pemilik pertanian alpukat di sebelah utara New South Wales, juga memuji pekerjanya dari PNG karena membantu memadamkan kebakaran hutan di lahannya. Dukungan dari pekerja-pekerja Pasifik untuk komunitas dimana mereka tinggal dan bekerja selama mereka berada di Australia sangat berharga.

Kita telah menyaksikan dukungan yang murah hati dari negara-negara Pasifik untuk Australia dalam menghadapi bencana kebakaran hutan juga. PNG mengerahkan 100 tentara pada 13 Januari. Vanuatu menyumbangkan Vt 20 juta (sekitar AU$240.000). Dan ada sejumlah laporan mengenai upaya penggalangan dana akar rumput untuk kebakaran hutan Australia dari masyarakat di seluruh Pasifik.

Loading...
;

Kembali bekerja seperti biasa?

Walau dan kelompok pekerja ni-Vanuatu telah kembali ke Batlow pada 12 Januari dan mulai bekerja lagi pada hari berikutnya. Perkebunan di mana mereka bekerja hanya mengalami kerusakan kecil. Kepada program Pacific Beat dari ABC, Walau berkata:

‘Kita berdoa agar perkebunan kita dilindungi agar kita dapat memiliki pekerjaan … sekarang kita bisa kembali ke pekerjaan kita … Kita sangat beruntung perkebunan kita aman dan kamp kita aman. Ketika saya memberi tahu teman-teman saya, mereka hanya memuji Tuhan dan mulai bernyanyi, karena mereka merasa akan memiliki pekerjaan lagi.’

Mereka beruntung dibandingkan dengan perkebunan lain di wilayah tersebut. Pada 11 Januari, ABC Canberra mewawancarai pemilik perkebunan apel lainnya dari Batlow, Malcolm Stein, and melaporkan bahwa, “ribuan pohon di kebunnya di Batlow terbakar setelah api kebakaran hutan menyapu daerah Snowy Mountains.”

Sekarang musim untuk pekerja SWP menjadi lebih pendek. Karena mereka baru tinggal di Batlow selama sekitar lima sampai enam minggu ketika kebakaran melanda, ada kemungkinan besar bahwa mereka hanya akan mampu melunasi pinjaman yang diambil untuk berpartisipasi dalam SWP. Beberapa pekerja mungkin masih akan berutang karena, tergantung pada pekerjaan musim itu, bisa sampai dua bulan baru para pekerja mulai mendapatkan keuntungan lebih setelah melunasi biaya partisipasi mereka. Waktu dimana mereka tidak bekerja adalah waktu dan uang hilang.

Contoh di Batlow ini berakhir dengan baik. Tetapi apakah hal yang sama terjadi untuk pekerja SWP lain di posisi yang sama?

Kesulitan dalam memperoleh data tentang jumlah pekerja SWP yang terkena dampak kebakaran hutan Australia ini berarti dampaknya tidak bisa diketahui dengan pasti. Dalam sebuah artikel, Radio New Zealand baru-baru ini yang mengutip Komisaris Perburuhan Vanuatu, Murielle Meltenoven, berkata, “ada 480 pekerja yang tidak ditempatkan di daerah rawan atau tidak dipulangkan kembali ke Vanuatu.” Lalu, berapa jumlah total pekerja SWP yang terkena dampaknya? Berapa banyak perusahaan yang disetujui program SWP mengalami kerusakan berat? Apakah ini akan memengaruhi pekerjaan yang tersedia untuk pekerja musiman di musim ke depannya?

Untuk pekerja yang saat ini berada di Australia – apa pengalaman mereka selama kebakaran hutan, dampak apa yang disebabkan oleh kebakaran hutan ini pada pemasukan mereka, apakah ini akan memengaruhi prospek pekerjaan ke depannya, dan apakah mereka masih berniat untuk kembali bekerja lagi? Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari bencana ini. Untuk mengetahui apa saja yang perlu dibenahi, diperlukan studi lebih lanjut. Perlu ada pembahasan dengan penyalur tenaga kerja, pemilik perkebunan, pekerja, masyarakat lokal, dan kementerian pemerintah untuk mengumpulkan pemahaman yang penuh tentang dampaknya bagi pekerja musiman. (Development Policy Centre/ Australian National University)

 

Rochelle Bailey adalah peneliti di Australian National University.

 

Editor: Kristianto Galuwo

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top