Follow our news chanel

Previous
Next

Kebijakan lawan penyalahgunaan minuman beralkohol yang efektif di Samoa

Seorang pria muda berusia 19 tahun meninggal dunia setelah dipukuli saat pesta miras. - Samoa Observer

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh The Editorial Board, Samoa Observer

Sayangnya kisah berikut ini adalah cerita yang sangat umum di Samoa.

Sekelompok laki-laki muda bertemu dengan tujuan untuk bersosialisasi sambil minum minuman beralkohol. Mereka masih hangat saat pesta miras itu dimulai. Tapi tidak lama kemudian, semuanya berubah menjadi mematikan.

Pada halaman depan koran Samoa Observer Jumat lalu (7/8/2020), telah dilaporkan bahwa tuntutan perkara pembunuhan sudah diajukan setelah dua laki-laki diduga telah mengambinghitamkan salah satu teman minum mereka dan memukulinya sampai dia mati ditempat.

Tidak ada yang bisa dipahami tentang hilangnya satu nyawa yang masih begitu belia.

Tapi akhir bulan lalu, ada hasil penelitian baru yang mungkin bisa menjelaskan apa yang menyebabkan peristiwa yang tidak berperikemanusiaan seperti ini.

Loading...
;

Sebuah studi yang baru mengkaji konsumsi alkohol di Samoa dan menemukan bahwa mayoritas orang yang minum alkohol di negara itu meminum secara berlebihan.

“Bukti yang ada menunjukkan bahwa masalah konsumsi alkohol diantara orang-orang Samoa terus meningkat, dan ini lebih gawat di orang-orang berusia muda,” kata mantan kepala Biro Statistik Samoa, Muagututia Sefuiva Reupe.

Penelitian ini menyediakan gambaran mengenai siapakan problem drinker atau peminum bermasalah (mengonsumsi minuman beralkohol dan membuat masalah) di Samoa.

Di antara laki-laki, mereka yang muda, masih lajang, dan bekerja sebagai petani atau buruh upahan umumnya merupakan peminum berat. Mereka yang minum sampai kehilangan kesadaran juga umumnya laki-laki lajang dan bekerja sebagai petani atau karyawan upahan. Hampir setengah dari pengangguran di Samoa juga gemar minum minuman keras.

Dengan ini, profil seorang problem drinker secara umum di Samoa yang muncul adalah seorang pria yang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan akarnya, seseorang yang merasa bahwa dia tidak memiliki tujuan, atau tidak akan dirugikan oleh kebiasaan mabuk. Ia melihat konsumsi miras sebagai bentuk pelarian.

Demografi populasi ini juga yang bertanggung jawab atas sebagian besar kasus kekerasan yang dikaitkan dengan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Tahun lalu ada desakan agar dewan yang mengatur regulasi minuman keras melakukan intervensi setelah ada serentetan kejadian dimana penyalahgunaan minuman beralkohol memicu kekerasan.

“Kasus pembunuhan seperti ini menjadi lebih lazim, dan minuman beralkohol adalah penyebabnya,” menurut Komisaris Polisi, Fuiavailiili Egon Keil, kepada surat kabar ini pada saat itu.

Komisaris itu berbagi tentang tindak kejahatan seperti empat orang yang dituduh merajam dan memukuli seorang pria sampai mati di Samalaeulu, Savaii atau pemukulan yang berujung fatal terhadap seorang pria di Vaimea pada Malam Natal.

Ketersediaan minuman beralkohol yang murah dan tinggi kandungan alkoholnya telah menciptakan lingkungan dimana perilaku kekerasan seperti ini menjadi lebih umum. Peran alkohol dalam sebagian besar kasus kematian dan kejahatan yang paling serius di Samoa telah terbukti.

Ketua Salvation Army, Sailivao Aukusotino Senio, sangat akurat ketika ia berbicara baru-baru ini menentang ketersediaan minuman beralkohol yang murah. “Minuman ini banyak tersedia di toko-toko, dan kita telah mendengarkan kekhawatiran keluarga-keluarga Samoa tentang anak-anak muda yang dapat membeli jenis minuman ini tanpa batasan apa-apa,” kata Sailivao.

Meski jumlah laki-laki yang merupakan peminum hampir sepuluh kali lebih banyak daripada perempuan, masalah penyalahgunaan alkohol tidak membedakan jenis kelamin atau kelas, menurut hasil penelitian itu.

Di antara perempuan yang minum minuman beralkohol, banyak juga yang cenderung minum untuk melarikan diri dari persoalan yang mereka hadapi, dengan lebih dari 80% melaporkan pernah minum berlebihan dalam seminggu terakhir, dibandingkan dengan lebih dari 60 % untuk laki-laki.

Namun perempuan yang lebih cenderung menjadi peminum adalah mereka yang muda tetapi berasal dari strata masyarakat yang berbeda. Mereka lebih cenderung tinggal di Apia dan memiliki pekerjaan profesional dan berpendidikan tinggi.

Untuk generalisasi, konsumsi alkohol dari kedua kelompok ini menyebabkan dua jenis permasalahan yang berbeda.

Peminum laki-laki yang paling buruk dapat berubah menjadi agresif dan bisa mencabut nyawa yang tidak bersalah dari kita karena alasan sepele.

Tapi perempuan yang meminum alkohol juga, meski tidak menimbulkan ancaman kekerasan secara langsung, akan merugikan masyarakat Samoa secara meluas.

Minuman beralkohol memiliki kandungan gula yang tinggi dan tidak memiliki nilai gizi apa-apa. Untuk 20% orang Samoa yang mengaku pada para peneliti bahwa mereka meminum alkohol, mereka mengonsumsi salah satu penyebab epidemi penyakit tidak menular (PTM) di Samoa (seperti diabetes dan tekanan darah tinggi).

Kasus-kasus dimana konsumsi minuman keras menyebabkan tindak kekerasan menarik perhatian kita. Namun dampak negatifnya terhadap kesehatan masyarakat itu perlahan-lahan berkontribusi pada wabah PTM yang melanda bangsa itu.

Anggota-anggota parlemen Samoa telah mendengarkan desakan agar pemerintah mengambil langkah tegas terhadap isu ini, namun mereka gagal mengambil kebijakan untuk mengurangi konsumsi alkohol. Tapi ini bisa dilakukan.

Menaikkan harga minuman alkohol akan mengurangi tingkat konsumsi alkohol.

Samoa telah mengambil keputusan yang radikal dengan memberlakukan cukai besar-besaran, 100%, pada minuman keras yang diproduksi secara lokal.

Tetapi masalahnya adalah hukum itu diabaikan begitu saja.

Menteri Kepabeanan dan Pendapatan, Tialavea Tionisio Hunt, yang merancang peraturan cukai yang sejak itu telah dibatalkan Pemerintah, dengan tepat mengidentifikasi batasan dari penerapan kebijakan tersebut dalam sebuah wawancara dengan Samoa Observer.

Dia bahkan mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan mungkin telah menjual produk mereka dengan harga murah, ia menyinyalir bahwa perusahan-perusahan menghindari pembayaran cukai, termasuk Pajak Pertambahan Nilai.

“Ada sesuatu yang mencurigakan terjadi di sini, dan kita akan segera menyelidiki hal ini,” kata Menteri Hunt.

Sebuah UU yang mengendalikan konsumsi alkohol dengan menaikkan harga jualnya dapat dirancang dengan sempurna, tetapi jika tidak dipatuhi, UU itu tidak berarti apa-apa.

Jika kita ingin mengamati contoh kebijakan yang sukses dalam memerangi persoalan penyalahgunaan minuman beralkohol, kita harus belajar dari tetangga kita, Tonga.

Tonga telah berkomitmen untuk menurunkan tingkat konsumsi alkohol di masyarakatnya pada tahun 2016 sebagai bagian dari berbagai kebijakan yang dirancang untuk mendorong gaya hidup yang lebih sehat.

Selama tiga tahun, negara kerajaan itu meningkatkan cukai untuk bir sebesar sekitar 25%, atau setara dengan $19 Tala. Dampaknya dilaporkan cepat dan langsung. Konsumsi bir di Tonga jatuh 30% secara keseluruhan, dan turun hingga 50% di antara mereka yang mengonsumsi sekitar empat hingga enam bir setiap minggunya.

Pemerintah Tonga meningkatkan pajak atas minuman alkohol yang diproduksi lokal menjadi 40% dan pajak minuman yang diimpor lebih dari 55%.

Pendapatan pemerintah Tonga dari pajak minuman alkohol meningkat 100%. Pada saat yang sama, jumlah peminum minuman beralkohol berat turun dari 2,9 % menjadi 0,4 % dari populasi Tonga.

Alkohol membunuh orang-orang Samoa, baik dengan cepat maupun lambat. Kita bisa melakukan sesuatu untuk melawan itu, tetapi itu akan membutuhkan komitmen akan tindakan yang nyata. Kita tidak bisa terus menunggu. (Samoa Observer)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top