HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Kebijakan pemimpin dan kesiapan tenaga medis di Papua

Pada 2019 Fakultas Kedokteran  telah melantik 65 mahasiswa kedokteran Uncen meraih gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) dalam yudisium. Peserta yudisium adalah mahasiswa angkatan, 2011, 2012, 2013 dan 2014, untuk itu civitas akademik FK dinilai berhasil memotivasi mahasiswa yang masa studinya sudah melebihi waktu normal-Jubi/Humas Uncen
Pada 2019 Fakultas Kedokteran  telah melantik 65 mahasiswa kedokteran Uncen meraih gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) dalam yudisium. Peserta yudisium adalah mahasiswa angkatan, 2011, 2012, 2013 dan 2014, untuk itu civitas akademik FK dinilai berhasil memotivasi mahasiswa yang masa studinya sudah melebihi waktu normal-Jubi/Humas Uncen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Berbagai macam kebijakan yang diambil para petinggi di Indonesia baik di pusat maupun di daerah jelas memberikan dampak bagi masyarakat di wilayahnya masing-masing, terutama menghadapi Covid-19 ada yang mau lakukan karantina total ada pula yang tetap membiarkan transportasi udara maupun laut masuk ke pintu gerbang setiap pelabuhan laut maupun bandara udara.

Akibatnya jelas berdampak buruk sebab kecepatan virus bergerak sulit terdeteksi kalau manusia masih tetap bergerak tanpa ada yang control.

Salah satu kebijakan soal Covid-19 jelas ada perbedaan antara Gubernur Papua Lukas Enembe dan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.

Sedangkan warga Papua yang hendak melintas ke PNG pintu penyebarangan ke tapal batas Wutung tertutup rapat sejak Februari lalu.

Tak heran kalau aktivis HAM Indonesia di Australia Veronica Koman dalam akun twitternya meminta agar Gubernur Papua Barat juga tetapkan lockdown alias karantina local agar tanah Papua bisa terbebas dari penyebaran Covid 19 dari Wuhan setelah melewati berbagai negara.

Guna menghadapi ledakan Covid 19 para pejabat di Kota Jayapura mengusulkan agar RS Muara Tami bisa menjadi salah satu rumah sakit khusus menangani para pasien yang positif virus corona.

Loading...
;

Tak tanggung-tanggung Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano langsung meminta kepada Gubernur Papua agar RS Muara Tama segera difungsikan sebagai salah satu tempat melayani pasien positif virus Corona 19.

Namun dibalik sarana dan prasarana, bagaimana dengan kapasitas paramedic di Papua mulai dari dokter,perawat, ahli gizi, kesehatan lingkungan dan berbagai perangkat pendukung lainnya.

Belum lagi Alat Pelindung Diri (APD) bagi para petugas medis mulai dari dokter, perawat, petugas laboratorium, ahli gizi hingga satpam dan cleaning service di rumah sakit. Belum lagi pengelolaan sampah bekas pasien termasuk bagaimana memusnahkan masker maupun tisu bekas pakai agar tidak menjadi sumber penyakit.

APD standar sangat penting karena sebanyak 81 tenaga medis di Jakarta terkonfirmasi positif virus corona. Mereka bertugas di 30 rumah sakit di ibu kota negara tersebut.

Sebelumnya tercatat sebanyak 61 namun dalam dua hari terjadi penambahan 20 orang sehingga jumlah menjadi 81 tenaga medis. Jika melihat angka statistik, angka kesembuhan masih rendah jika dibandingkan jumlah kematian tiap harinya.

“Tenaga kesehatan positif 81 orang yang tersebar di 30 rumah sakit di Jakarta,” ujar Ketua II Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 DKI Jakarta Catur Laswanto dalam keterangan persnya di Balaikota Jakarta, Senin (30/3/2020) sebagaimana dilansir Suara.com

Selain itu salah satu alat penting adalah mesin ventilator, apalagi dalam pemasangan dan pengaturannya hanya boleh dilakukan oleh dokter yang memiliki kompetensi untuk merawat pasien kritis.

Alat ini sering digunakan di ruang perawatan intensif (ICU), karena kondisi yang membutuhkan ventilator biasanya merupakan kasus yang berat. Apabila virus Covid 19 menyerang bagian terpenting dari penderita bagian paru-paru, berapa ventilator yang akan dibutuhkan.

Dikutip dari alodokter.com menyebutkan ventilator umumnya digunakan untuk membantu proses pernapasan pada pasien yang tidak dapat bernapas sendiri.

Tenaga medis di Papua

Salah satu masalah penting di Papua dan Papua Barat terutama soal ketersediaan tenaga medis. Mulai dari dokter umum sampai dokter spesialis serta perawat dan tenaga medis lainnya.

Kendala terbesar di tanah Papua jelas kekurangan tenaga medis baik saat ini maupun ketika Covid-19 mulai merebak masuk pintu gerbang Papua. Ini jelas akan menjadi kendala utama dalam percepatan penanggulangan wabah corona (Covid-19). Di tengah tingginya kebutuhan akan tenaga medis.

Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, kepada wartawan, Kamis (26/3/2020) di Jakarta menyampaikan sebanyak 15.000 mahasiswa kedokteran dari 158 kampus di seluruh Indonesia siap menjadi relawan medis untuk membantu penanganan covid-19.

“Kami mendapatkan informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) jika ada 15.000 mahasiswa kedokteran dari 158 kampus di Indonesia siap menjadi relawan medis. Ini tentu menjadi kabar baik di tengah kekurangan tenaga medis dalam penanggulangan wabah korona di tanah air,” ujar Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda, kepada wartawan, sebagaimana dilansir Merdeka.com

Dia menjelaskan 15.000 mahasiswa kedokteran tersebut berasal fakultas kedokteran baik dari universitas maupun politeknik kesehatan (Poltekkes).

Berdasarkan informasi Kemendikbud belasan ribu mahasiswa yang siap jadi relawan itu berasal dari 82 universitas dan 72 Poltekkes di Indonesia. Berdasarkan keterangan dari Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19, dibutuhkan sekitar 1.500 dokter dan 2.500 perawat. Selain itu juga dibutuhkan bagian administrasi rumah sakit sampai ke sopir ambulans.

Pasti semua pihak akan bertanya bagaimana dengan perguruan tinggi di Papua dan Papua Barat dalam mengantisipasi laju percepatan Covid 19 di tengah kebijakan pemimpin daerah?

Kepala Bidang Pengembangan Rumah Sakit Umum Abepura, Dr Adrian Engel Ansanay MKes mengakui kalau saat ini di Papua sudah banyak alumni dari Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Bahkan mereka sudah melakukan uji kompetensi dokter dan sudah menjalankan profesi dokter.

Namun itu bukan berarti menjadi suatu jaminan karena dalam menjalankan tugas sangat tergantung dengan fasilitas yang ada terutama Alat Pelindung Diri (APD) dalam menjalankan tugas.

Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih sejak pertama kali dibuka pada 2002 tercatat 50 mahasiswa dan diwisuda pada 2009 sebanyak 20 dokter. Rata-rata pendidikan Kedokteran di Uncen menempuh waktu sekitar enam tahun. Hingga pada 2018 lalu FK Uncen sudah melantik sebanyak 216 orang dokter umum dan juga harus menempuh ujian kompetensi. Apalagi untuk Ujian Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter adalah lisensi untuk melakukan praktek sebagai dokter umum.

Selanjutnya pada 2018 telah melantik dan wisuda 25 dokter, sedangkan,pada 2019 telah melantik 65 mahasiswa kedokteran Uncen meraih gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) dalam yudisium. Peserta yudisium adalah mahasiswa angkatan, 2011, 2012, 2013 dan 2014, untuk itu civitas akademik FK dinilai berhasil memotivasi mahasiswa yang masa studinya sudah melebihi waktu normal.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, mengatakan jumlah dokter spesialis paru di Indonesia hanya 1.106 orang. Menurut dia, Indonesia akan sampai pada kondisi kekurangan dokter spesialis paru jika kasus positif Covid-19 atau virus corona terus melonjak.

“Tentunya kurang kalau kasusnya tambah banyak,” kata Agus sebagaimana dilansir Tempo.co

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia(PDPI) menyebutkan jumlah dokter spesialis paru di Papua sebanyak 5 orang dokter paru sedangkan di Papua Barat hanya dua orang dokter paru.

Namun pendapat itu dibantah oleh Ketua Ikatan Dokter (IDI) Manokwari Papua Barat dr Adhe Ismawan mengatakan di Manokwari hanya terdapat dua orang dokter spesialis penyakit dalam.

”Tidak ada dokter ahli paru, nihil ahli paru,” katanya sebagaimana dilaporkan jurnalis Jubi.co.id dari Manokwari.

Selain perguruan tinggi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Keperawatan di Universitas Cenderawasih. Ternyata di Provinsi Papua juga terdapat pendidikan tinggi lainnya mulai dari Akademi Keperawatan Rumah Sakit Marthen Indey. Ada pula Poltekkkes dari Kementerian Kesehatan RI di Kota Jayapura.

Jubi mengutip dan laman resmi bppsdmk.kemkes.go.id menyebutkan jurusan Poltekkes di Jayapura meliputi jurusan D4 Gizi, D4 Kebidanan, D4 Keperawatan, D3 Analis Kesehatan, D4 Farmasi dan D4 Kesehatan Lingkungan.

 Politekkes juga membuka Kampus Biak D3 Kebidanan dan Kampus Yapen D3 Keperawatan serta D3 Keperawatan Kampus Wamena, D3 Keperawatan Kampus Merauke, D3 Keperawatan Kampur Nabire, Kesehatan Lingkungan D3 Kampus Mimika. Total mahasiswa seluruh jurusan di tanah Papua sebanyak 3113 dengan jumlah 100 dosen

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura, Provinsi Papua pada 2019 telah mewisuda sebanyak 81 D3 Keperawatan dan D3 Kebidanan program percepatan pendidikan tenaga kesehatan Kelas Asmat tahun akademik 2018-2019.

Direktur Poltekes Kemenkes Jayapura Hermanus Markus Zeth Arwam kepada Antara mengatakan puluhan tenaga kesehatan yang diwisuda dan diambil sumpah janji profesi itu di Kabupaten Asmat terdiri 32 orang perawat dan 49 orang bidan.

Sementara itu Akademi Keperawatan Rumah Sakit Marthen Indey (Akper RS Marthen Indey) sendiri sudah melakukan wisuda hingga angkatan ke IV untuk Akper sedangkan wisudawan D3 perawat Angkatan ke VII.

Direktur Akper RS Marthen Indey Jayapura, Anik Sri Suryani kepada wartawan di Jayapura mengatakan Akper RS Marten Indey Jayapura telah melaksanakan perintah negara yang ternyata di UU Nomor 81 Tahun 2014 tentang sertifikat kompetensi dan profesi pendidikan tinggi serta surat keterangan pendamping ijazah.(*)

Editor: Edho Sinaga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa