Follow our news chanel

Kehidupan di Port Moresby saat karantina wilayah

Suasana pasar ikan ketika karantina wilayah diberlakukan di Port Moresby dan Papua Nugini. - Development Policy Centre/ Australian National University/ Dek Sum
Kehidupan di Port Moresby saat karantina wilayah 1 i Papua
Suasana pasar ikan ketika karantina wilayah diberlakukan di Port Moresby dan Papua Nugini. – Development Policy Centre/ Australian National University/ Dek Sum

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Dek Joe Sum

Selasa, 24 Maret 2020, adalah hari pertama penerapan Karantina Wilayah di seluruh Papua Nugini (PNG), sebagai tanggapan atas kasus COVID-19 pertama di negara itu. Selain sekolah-sekolah, universitas-universitas, dan layanan publik non-esensial tutup, semua penerbangan domestik dan internasional dari dan menuju PNG diberhentikan selama dua minggu untuk melawan penyebaran virus Corona yang baru.

Setelah keadaan darurat resmi dimulai, menempuh perjalanan singkat ke sekitar kota menunjukkan jalanan jauh lebih sepi daripada yang biasanya di Port Moresby. Keramaian dan hiruk pikuk lalu lintas Waigani luar biasa tenang karena sejumlah besar bus dan mobil kendaraan umum bermotor (public motor vehicle; PMV) di jalan berkurang drastis.

Saya sampai di mall Vision City (pusat perbelanjaan terbesar di Port Moresby) untuk berbelanja sembako untuk keperluan saya sendiri, hanya untuk menemukan bahwa kedua pintu masuk samping mall masih dirantai, dan masih banyak tempat parkir kosong yang tersedia, situasi yang langka mengingat tempat ini biasanya merupakan tempat yang ramai dikunjungi. Siapa pun yang sampai di pintu utama segera diarahkan oleh penjaga keamanan ke antrean masuk dan disambut dengan termometer inframerah genggam di dahi.

Ketika saya memasuki pasar swalayan, saya diguyur dengan semprotan disinfektan yang tidak tanggung-tanggung banyaknya, dan menerima beberapa tetes pembersih tangan beralkohol di tangan saya. Ada banyak orang yang menggunakan masker wajah, termasuk staf di meja kasir, dan beberapa bahkan mengenakan sarung tangan bedah. Menelusuri dari koridor ke koridor, terlihat jelas bahwa beberapa makanan pokok seperti beras, tepung, makanan kaleng, dan susu kemasan hampir habis dan sedang distok kembali oleh staf, tetapi sebagian besar rak masih penuh.

Hanya sedikit indikasi pembelian karena panik dan harga barang pun masih kurang lebih sama, setidaknya untuk sembako yang biasanya saya beli. Sesampainya di kasir, setiap pengunjung diperintahkan untuk berdiri di belakang selotip hitam yang ditempelkan di lantai, satu meter jarak diantaranya, untuk menaati aturan mengenai pembatasan sosial. Sampai saat ini, saya sangat terkesan dengan tindakan pencegahan yang telah diambil, yang dari beberapa aspek, lebih ketat daripada pusat perbelanjaan di Australia di tengah-tengah wabah virus ini.

Loading...
;

Meskipun begitu, pengalaman pribadi saya tidak selalu sama dengan orang-orang lain di kota ini yang kurang beruntung.

Melanjutkan perjalanan saya ke Six Mile (timur kota), terlihat pengalaman yang sangat berbeda.

Kerumunan massa yang besar dapat dilihat berkumpul, semua berusaha untuk memasuki toko-toko grosiran lokal untuk membeli sembako dalam jumlah besar saat detik-detik terakhir, demi keluarga mereka masing-masing. Petugas keamanan yang dipekerjakan oleh toko-toko itu terlihat jelas kewalahan dalam mengendalikan kerumunan massa, dan polisi harus dikerahkan ke tempat kejadian.

Orang-orang terlihat memuat barang-barang ke berbagai kendaraan PMV, mencoba mengangkut belanjaannya ke desa-desa masing-masing, sementara negara itu memulai Karantina Wilayah nasional. Di sini, upaya untuk menjaga jarak sosial dan pencegahan lainnya yang harus diterapkan di mall Vision City jelas tidak terjadi. Tidak lama kemudian berita di media sosial mulai bermunculan bahwa beberapa toko telah mencabut label harga di rak-raknya dan terjadi keributan antara pemilik toko dan pelanggan. Walaupun ada beberapa kasus penjarahan yang dilaporkan terjadi di beberapa bagian di kawasan ibu kota, secara keseluruhan situasi masih di bawah kendali, tanpa keresahan sosial atau kekacauan besar seperti yang ditakuti oleh banyak pihak.

Pasar Six Mile yang biasa, tempat dimana semua pedagang yang tinggal di sepanjang jalan raya Magi datang untuk mendagangkan hasil kebun mereka yang segar setiap malam, telah menghilang. Begitu juga dengan pasar lokal ‘One Kina’ di Five Mile – yang terkenal karena berbagai macam produk segar dijual dalam satu bundel seharga satu kina. Pasar yang lebih besar di kota, seperti pasar ikan Koki masih buka, tetapi jumlah pengunjung telah berkurang secara signifikan.

Lobster segar, yang biasanya cepat laris, ditinggalkan di atas bangku, menunggu untuk dibeli. Saya bisa membayangkan kesulitan keuangan yang akan dihadapi oleh para penjual ini, banyak diantaranya memiliki keluarga besar untuk disokong, terutama selama waktu yang penuh tantangan dan ketidakpastian seperti ini. Ini menyebabkan orang bertanya-tanya, seberapa jauh pemerintah bersedia untuk melakukan karantina wilayah negara ini dengan mengorbankan ekonomi yang sudah suram, untuk memerangi virus Corona yang baru.

Baru saja pulih dari wabah polio yang tragis pada tahun 2019, negara ini masih bersusah payah menghadapi banyak tantangan kesehatan lainnya. Kegagalan struktural dalam penyediaan pelayanan kesehatan selama bertahun-tahun, menyebabkan penyakit di masa lalu, yang sudah dikendalikan melalui imunisasi, sekarang tampaknya bermunculan kembali akibat menurunnya jumlah anak-anak yang diimunisasi penuh, dan naiknya tingkat kesulitan dalam meneruskan pemberian vaksin. Selain tingginya tingkat kemiskinan di daerah pedesaan dan kekurangan gizi di PNG, epidemi yang masih terjadi seperti malaria dan tuberkulosis (TB) masih terjadi di antara penduduknya.

Pengambil kebijakan di PNG memahami dengan dalam kendala-kendala yang dihadapi oleh sistem pelayanan kesehatan lokal dan tantangan dalam melacang kontak karena medan yang berat dan populasi pedesaan yang besar. Dari aspek ini, ketakutan akan menyebarkan suatu pandemi di PNG dirangkum dengan sempurna oleh tulisan Steven Bullard tentang penyebaran Flu Hong Kong (juga dikenal sebagai Pandemi Flu 1968) di daerah pegunungan tinggi PNG pada akhir 1960-an: “pelajaran dari sejarah ini adalah bahwa hampir mustahil untuk mencegah penyebaran suatu penyakit yang menular setelah penyakit itu mencapai suatu populasi yang rentan di pegunungan tinggi PNG,”(In Their Time of Need: Australia’s Overseas Emergency Relief Operations, Volume VI (2017), hlm. 127).

Singkatnya, PNG tidak boleh diserang virus Corona yang baru. Diperlukan gabungan antara keberuntungan yang baik dan pengelolaan yang baik untuk memastikan hal ini. (Development Policy Centre, Australian National University)

Dek Joe Sum adalah dosen madya di Development Policy Centre yang berbasis di Universitas Papua Nugini (UPNG), dimana ia bekerja sebagai dosen tamu dan koordinator proyek kemitraan ANU-UPNG.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top