Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Keindahan jembatan, ring road, dan pencemaran air laut di Teluk Youtefa

Jembatan merah Youtefa yang baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo – Jubi/dam

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Keindahan Teluk Youtefa semakin menarik ketika Presiden Jokowi meresmikan jembatan sepanjang 700 meter yang menghubungkan Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami hingga ke perbatasan Skouw di Wutung, Papua New Guinea.

Tak heran kalau Presiden Jokowi berharap Jembatan Youtefa bisa menjadi tonggak sejarah di Tanah Papua. Menurut kepala negara, jembatan ini bukan hanya simbol persatuan bangsa, tetapi juga simbol pentingnya sebuah kemajuan untuk membangun Tanah Papua.

“Tanah Papua harus maju, seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Itu adalah hal yang saya lihat setiap kali berkunjung ke Tanah Papua. Kalau tidak keliru hitung, saya sudah 13 kali hadir di Tanah Papua,” kata Presiden Jokowi sebagaimana dikutip dari laman sekretariat negara, belum lama ini.

Presiden Jokowi meresmikan jembatan Youtefa, yang merupakan ikon baru Kota Jayapura. Jokowi berharap jembatan dapat berfungsi untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

“Saya minta masyarakat dapat menjaga kebersihan dan keamanan jembatan ini, karena jembatan ini dibangun untuk kepentingan masyarakat,” kata Presiden Jokowi dalam pidato peresmian jembatan Youtefa, Senin (28/10/2019).

Jembatan ini, membentang 1.328 meter di atas Teluk Youtefa, yang menyambungkan Kota Jayapura dengan Distrik Muara Tami. Dengan melewati jembatan ini, perjalanan dari Jayapura ke perbatasan di wilayah Skouw terpangkas dari 3,5 jam jadi hanya setengah jam.

Loading...
;

Keindahan Teluk Youtefa membuat warga Kota Jayapura berbondong-bondong datang menikmati pesona alam. Bahkan ring road pun ikut menambah kemegahan Kota Jayapura melintasi laut dengan berkendaraan di atas Teluk Youtefa.

Nelayan Kampung Tobati, Teluk Youtefa lepas jaring ikan – Jubi/dam

Menanggapi pembangunan jembatan Youtefa dan ring road sudah mulai berfungsi, peneliti dan dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih, Dr Hazmi, SKM, MKS kepada Jubi saat memberi tanggapan peresmian jembatan Youtefa.

“Saya justru kuatir dengan peresmian jembatan ini jangan sampai Teluk Youtefa semakin tercemar dan memberikan dampak buruk terhadap air laut,” kata Hazmi saat menjawab pertanyaan Jubi usai Presiden Jokowi meresmikan pada 28 Oktober 2019.

Dia mengingatkan pemerintah harus tegas menjalankan aturan dan menindak para pelaku yang sengaja membuang limbah ke Teluk Youtefa. Pendapat dari dosen dan peneliti Hazmi ini sangat penting karena berdasarkan hasil penelitiannya terhadap ikan dan kerang di Teluk Youtefa sudah tercemar logam berat.

Apalagi, lanjut Hazmi, Teluk Youtefa hanya dialiri oleh empat sungai utama dan airnya hanya berputar putar tanpa keluar ke lautan Pasifik.

Hasil riset dan disertasinya berjudul Peranan Analisis Risiko Konsumsi Kerang Berplumbum dalam Manajemen Risiko Lingkungan pada Masyarakat di Teluk Youtefa. Lebih lanjut Hazmi menyebutkan logam berat Plumbum terbukti telah banyak mencemari lingkungan dan dampak dari pencemaran Plumbum ini dapat membahayakan biota dan manusia.

Teluk Youtefa Kota Jayapura termasuk teluk yang menurut beberapa penelitian, perairannya dan biotanya sudah tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besar risiko kesehatan akibat pajanan kerang berplumbum pada manusia dan manajemen risiko lingkungan. Jenis penelitian adalah observasional dengan pendekatan Analisis Risiko (Hazard Qouetient).

Pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi  pada konsentrasi kerang dari 12 stasiun dengan rata-rata 0.57 /, masuk kategori tercemar karena berada di atas ambang batas SNI 7387 tahun 2009 dengan standar tercemar jika > 0.3 /.

Hasil analisis risiko dari 75 responden ditemukan 33 responden (44%) responden yang memiliki  > 1 dengan rata-rata  = 2.24 karena  > 1 lebih besar dari angka 1 yang berarti berisiko. Agar dampak dapat dimanajemen dengan menggunakan rumus analisis risiko diketahui bahwa nilai RQ dapat < 1 dengan cara menurunkan jumlah asupan dan lamanya terpapar plumbum per hari pada masyarakat di Teluk Youtefa Kota Jayapura.

Sebelumnya, pada 2011, Janviter Manalu dan kawan kawan dari program pasca sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) program studi Lingkungan Hidup melakukan penelitiaan  berjudul Analisis Tingkat Pencemaran Air dengan Metode Indeks Pencemaran di Teluk Youtefa atau Analyze of Water Pollution Level in Youtefa Bay Jayapura, Papua UsingPollution Indeks Method yang diterbitkan Pusat Penelitian Biologi Lembah Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2011 menyimpulkan kualitas perairan Teluk Youtefa kategori cemar ringan dan cemar sedang, berdasarkan parameter yang diteliti. Oleh sebab itu pemantauan kualitas air perairan Teluk Youtefa perlu dilakukan secara periodik dan disosialisasikan kepada masyarakat dan perlu diadakan pembatasan aktivitas warga.

Sampah Teluk Youtefa

Kampung Tobati – Jubi/dam

Peneliti dari Universitas Cenderawasih, Dr Hazmi, mengatakan logam berat yang terkandung di dalam ikan bulana karena adanya aktivistas warga Kota Jayapura yang membuang sisa-sisa olie bekas dan aki bekas serta mainan-mainan hingga terbawa ke Teluk Youtefa.

“Perlu ada ketegasan dalam menerapkan aturan sehingga warga tidak membuang sampah langsung ke sungai sungai,” kata Hazmi, mantan wartawan Cenderawasih Pos.

Sekadar gambaran, sampah di Teluk Youtefa terkuak ketika pada Senin, 4 Maret 2019 dilakukan kegiatan pengumpulan sampah dalam rangka merayakan Hari Peduli Sampah.

Hanya dalam waktu tiga jam, sebanyak 2,8 ton sampah berhasil dikumpulkan dari Teluk Youtefa, Kota Jayapura, khususnya dari Pantai Hamadi, Pulau Metudebi, dan Muara Kali Hanyaan. Kegiatan pengumpulan sampah ini dalam rangka kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019 di Kota Jayapura, Senin, 4 Maret 2019.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura, Ketty Kailola, mengatakan sebanyak 2,8 ton sampah itu terdiri sampah botol kaca sebanyak 472 kilogram, sampah campuran sebanyak 1,374 ton, dan sampah plastik sebanyak 162 kilogram.

Ketty Kailola hanya mengingatkan warga Kota Jayapura agar jangan sampai berhenti di sini saja tapi terus menjaga kebersihan lingkungan.

“Jangan harapkan pemerintah tapi juga partisipasi masyarakat agar Kota Jayapura bersih dan terhindar dari penyakit kalau tidak ada sampah,” katanya. (*)

Editor: Angela Flassy

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top