Kekerasan di Intan Jaya ekses dari kebijakan keamanan

Papua
Ilustrasi jejak lubang peluru di lokasi penembakan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani - Jubi/Dok. Komnas HAM

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tim Kemanusiaan untuk Papua menduga rangkaian kekerasan yang mengorbankan warga sipil di Kabupaten Intan Jaya berkaitan dengan kebijakan keamanan di Papua. Mereka menyebut rentetan kekerasan merupakan dampak langsung dari mobilisasi pasukan militer.

“Pembunuhan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani pada 19 September 2020, contohnya bukan peristiwa tunggal atau acak melainkan berkolerasi dengan sejumlah kebijakan (keamanan di Papua). Semisal pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III dan peningkatan status 23 Korem (Komando Resor Militer) di Papua,” kata Ketua Tim Kemanusiaan untuk Papua Haris Azhar dalam diskusi publik dan peluncuran daring Laporan Duka Hitadipa, Senin (7/12/2020).

Kogabwilhan III dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 2019. Seiring pembentukan Kogabwilhan III, pemerintah juga meningkatkan status 23 Korem di Papua, dari tipe B menjadi A. Selain itu, mereka berencana membentuk empat komando distrik militer (kodim) di Deiyai, Paniai, Puncak, dan Intan Jaya.

Haris menyebut kebijakan tersebut memiliki turunan berupa operasi dan aktivitas kemiliteran, di antaranya mobilisasi serta penyebaran pasukan di Intan Jaya. Kemudian, pendirian koramil persiapan di Distrik Hitadipa.

“Mobilisasi besar-besaran pasukan TNI memunculkan serangkaian kekerasan dan eskalasi konflik bersenjata dengan TPNPB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) di berbagai distrik di Intan Jaya. Beberapa peristiwa (konflik bersenjata) memakan korban jiwa dari pihak TNI maupun warga sipil,” jelas Haris.

Laporan Tim Kemanusiaan untuk Papua mengungkapkan peristiwa kekerasan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat di Intan Jaya. Sebagian besar warga di empat dari delapan distrik mengungsi lantaran dicekam ketakutan dan trauma mendalam.

Tidak hanya mengungsi, warga juga ada yang meninggal akibat ditembak. Aktivitas warga yang tidak mengungsi juga tidak berjalan normal,” ungkap Haris.

Loading...
;

Tim Kemanusiaan untuk Papua telah menyelesaikan laporan setebal 50 halaman. Laporan tersebut merupakan hasil investigasi setelah peristiwa penembakan terhadap Pendeta Zanambani.

“Laporan ini menganalisis berbagai peristiwa kekerasan di Intan Jaya. Ada fakta-fakta baru mengenai pembunuhan terhadap Pendeta Zanambani,” kata Akademisi Universitas Cenderawasih Elvira Rumkabu, yang menjadi moderator diskusi. (*)

 

Editor: Aries Munandar

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top