Follow our news chanel

Kekerasan terhadap jurnalis di Lampung mencapai enam kasus

Jurnalis, pixabay.com
Kekerasan terhadap jurnalis di Lampung mencapai enam kasus 1 i Papua
Ilustrasi jurnalis, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bandarlampung, Jubi – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung bersama LBH Pers Lampung menyebutkan sedikitnya telah terjadi enam kasus kekerasan dialami jurnalis di daerah itu selama tahun 2019. Dua kasus di antaranya intimidasi terhadap jurnalis, satu kasus pengusiran jurnalis, satu kasus pelarangan peliputan, satu kasus pelecehan profesi jurnalis, dan satu kasus etik.

“AJI Bandarlampung juga mendata 12 jurnalis mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pers Mahasiswa Lampung (APML) saat meliput aksi demonstrasi di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, terkena gas airmata, bahkan seorang di antara mereka sampai pingsan,” kata Ketua AJI Bandarlampung, Hendry Sihaloho, Selasa, (31/12/2019).

Baca juga : AJI latih cek fakta serentak di 23 kota

AJI Indonesia dan Internews gelar workshop perangi hoaks di UM Sorong

AJI Kota Jayapura: pelarangan liputan melanggar UU Pers, intimidatif, dan diskriminatif

Selain itu, AJI Bandarlampung mencatat satu kasus terkait kebebasan berekspresi menunjukan masih adanya pembubaran acara menonton bareng (nobar) Film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL), di Bandarlampung, November 2019.

Loading...
;

“Mengapa kami mendata kasus kebebasan berekspresi, karena salah satu misi AJI adalah mengembangkan demokrasi dan keberagaman,” kata Hendry menambahkan.

Saat jumpa wartwan Hendry juga menegaskan AJI tidak menerima dana hibah APBD maupun APBN, juga tidak menerima dana dari pihak swasta yang terindikasi terlibat sejumlah pelanggaran, di antaranya korupsi, kejahatan lingkungan, hak asasi manusia (HAM), dan kejahatan perburuhan. Sikap tersebut, menurutnya, sebagai bentuk menjaga independensi.

“AJI mengharamkan anggotanya menerima ‘amplop’. Laporkan bila Anda mengetahui. AJI sangat tegas untuk hal-hal prinsipil,” kata Henry .

Bahkan, ia menyebutkan telah mencabut penghargaan yang pernah diberikan kepada salah satu jurnalis senior lewat Kamaroeddin Award, karena perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai AJI.

Direktur LBH Pers, Hanafi Sampurna menyatakan, pers di Lampung harus menjaga marwahnya, terutama pada 2020 yang merupakan tahun politik.

“Jangan sampai tergadai iklan politik jelang pilkada,”kata Hanafi Sampurna.

Menurut dia, jika media sudah mejadi partisan dan tidak independen, hal itu menimbulkan kerugian publik untuk mendapatkan informasi. “Terkait kebebasan berekspresi menjadi ikhtiar kita bersama untuk menjaganya dan kita berharap tahun 2020 kejadian ini tidak terulang,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top