Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Keluarga DPO di Biak minta hakim tegakkan keadilan

Keluarga tersangka Edward Rumbiak saat menghadiri sidang pemohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Biak - Jubi. Dok PH
Keluarga DPO di Biak minta hakim tegakkan keadilan 1 i Papua
Keluarga tersangka Edward Rumbiak saat menghadiri sidang pemohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Biak – Jubi. Dok PH

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Keluarga Edward Rumbiak, 48 tahun yang menjadi tersangka dugaan penganiayaan meminta hakim Pengadilan Negeri Biak menegakkan keadilan dalam mengadili permohonan praperadilan terhadap Polsek Biak Kota yang dimohonkan tersangka dan pihak keluarga.

Penasihat hukum (PH) pihak tersangka, Imanuel Rumayom mengatakan sidang lanjutan praperadilan terhadap Polsek Biak Kota kembali digelar di Pengadilan Negeri Biak, Rabu (15/1/2020).

Sidang yang dipimpin hakim tunggal Muslim Ashidiqi dengan agenda pembacaan permohonan praperadilan dihadiri kuasa hukum termohon dari Polda Papua, dan pihak keluarga besar Rumbiak. Kehadiran pihak termohon dalam sidang kali ini merupakan yang pertama kalinya.

Sebelumnya, pihak termohon tak hadir saat sidang perdana pada 9 Desember 2019. Ketika itu, pihak termohon tak hadir dengan alasan belum ada surat tugas, surat kuasa, dan dokumen lain yang dibutuhkan.

“Keluarga tersangka meminta adanya keadilan, karena penetapan tersangka terhadap Edward Rumbiak dan surat perintah dimulainya penyidikan atau SPDPD kami nilai tidak tidak sah. Penetapan DPO juga kami anggap cacat hukum. Sidang lanjutan dengan agenda replik dari kuasa hukum pemohon akan dilangsungkan pada Kamis (16/1/2020),” kata Imanuel Rumayom kepada Jubi melalui sambungan telepon selulernya, Rabu (15/1/2020).

Menurut Rumayom, tersangka dan pihak keluarganya mengajukan permohonan praperadilan karena menilai ada berbagai kejanggalan saat penetapan tersangka dan DPO terhadap Edward Rumbiak dalam kasus dugaan penganiayaan.

Loading...
;

Katanya, tersangka bersama dua orang lainnya merupakan saksi dalam kasus penganiyaan terhadap seorang warga Biak yang dilakukan terdakwa Septinus Rumbiak, 52 tahun pada pertengahan tahun lalu.

Akan tetapi, saat kasus Septinus Rumbiak dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Biak Numfor, Edward Rumbiak yang sebelumnya tak pernah ditetapkan tersangka dinyatakan sebagai DPO.

“Kami menilai ada yang tidak benar dalam penetapan DPO itu. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah dijadikan tersangka ditetapkan sebagai DPO. Tak pernah ada surat perintah dimulainya penyidikan atau SPDP. Polisi baru menertibkan SPDP setelah Edward Rumbiak dan pihak keluarganya protes,” ujarnya.

Rumayon berpendapat, proses hukum terhadap kliennya rancu karena polisi belum melakukan penyidikan akan tetapi telah menetapkan status Edward Rumbiak sebagai DPO.

“Mestinya kan penyidikan dulu baru seseorang dinyatakan sebagai DPO. Tapi dalam kasus ini tidak demikian. Penetapan DPO dulu baru penyidikan. Seakan kasusnya baru mau dimulai. Ini yang kami nilai catat hukum,” ucapnya.

Pasca ditetapkan sebagai DPO, polisi juga seakan tak berupaya menangkap Edward Rumbiak. Padahal yang bersangkutan tak pernah meninggalkan Biak. Bahkan polisi sering bertemu dengannya.

Edward Rumbiak baru ditangkap beberapa kemudian, setelah keluarga mempertanyakan penetapannya sebagai DPO ke Polsek Biak Kota dan penasihat hukum mendaftarkan permohonan praperadilan ke Pengadilan.

Pemohon menduga, penetapan tersangka Edward Rumbiak dalam kasus penganiyaan dengan terdakwa Septinus Rumbiak hanyalah upaya pemenuhan pasal 170 KUHP terkait pengeroyokan yang disangkakan kepada terdakwa.

“Sejak awal kami menganggap pasal itu prematur karena pelaku hanya satu orang. Kami baru tahu ada DPO dalam kasus itu, ketika membaca surat dakwaan terhadap Septinus Rumbiak,” katanya.

Sehari sebelumnya, sidang terhadap terdakwa Septinus Rumbiak yang digelar di Pengadilan Negeri Biak, diwarnai unjuk rasa puluhan orang dari keluarga (marga) Rumbiak.

Kakak kandung tersangka, Albert Rumbiak mengatakan aksi itu merupakan bentuk protes terhadap proses hukum yang kini dijalani adiknya karena ada berbagai kejanggalan sejak awal penanganan kasus oleh Polsek Biak Kota.

“Misalnya penangkapan, penahanan, dan penetapan tersangka yang kami anggap tak prosedural,” kata Albert Rumbiak.

Menurutnya, dengan berbagai kejanggalan dalam penanganan kasus itu, keluarga besar Rumbiak meminta hakim adil dalam memutuskan perkara tersebut. (*)

Editor: Edho Sinaga

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top