HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Keluarga korban ingin Polda Papua ambil alih kasus di Polres Biak

Pertemuan keluarga korban dan masyarakat dengan pihak Polres Biak beberapa hari lalu – Jubi/Imanuel Rumayom
Keluarga korban ingin Polda Papua ambil alih kasus di Polres Biak 1 i Papua
Pertemuan keluarga korban dan masyarakat dengan pihak Polres Biak beberapa hari lalu – Jubi/Imanuel Rumayom.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pihak keluarga ingin Polda Papua mengambil alih penanganan kasus Ronaldo Yawan (21), tahanan Polres Biak Numfor yang ditemukan meninggal di sel tahanan Provost Polres setempat pada 15 Juni 2019 jam 08.00 Waktu Papua (WP).

Hal itu dikatakan penasihat hukum keluarga korban, Imanuel Rumayom via teleponnya kepada Jubi pada Selasa (23/7/2019).

Keluarga korban ingin Polda Papua ambil alih kasus di Polres Biak 2 i Papua

Ia mengatakan, ke depan jika proses penanganan oleh Polres Biak tidak sesuai harapan keluarga korban, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan meminta Polda Papua mengambil alih penanganannya.

“Jika Polres Biak tidak mengindahkan permintaan keluarga dalam beberapa pekan ke depan, misalnya meminta agar sekitar 16 tahanan lain di sel lain Polres yang belum diperiksa segera dimintai keterangan, proses ini kami dorong ke Polda agar diambil alih oleh Polda dan penyidik profesional,” kata Rumayom.

Menurutnya, keluarga korban juga berupaya mencari dokter lain untuk mendapat pembanding hasil autopsi tim dokter forensik yang mengautopsi jenazah korban.

Kata Rumayom bersedia makam almarhum digali kembali untuk kepentingan autopsi ulang terhadap jenazah Ronaldo Yawan oleh dokter independen. Setidaknya keluarga mendapat keterangan lebih dari satu dokter untuk meyakinkan bahwa almarhum benar bunuh diri, dibunuh atau karena penyabab lainnya.

Loading...
;

“Meski keluarga korban hanya masyarakat biasa yang terbatas dari sisi finansial, namun mereka tetap berjuang untuk mendapat keadilan,” ujarnya.

Hingga kini menurutnya, keluarga korban tidak yakin terhadap hasil tim forensik. Salah satu alasannya, dokter forensik tidak hadir memberikan penjelasan dan menjawab berbagai hal yang ingin ditanyakan keluarga saat gelar perkara di Polres Biak pekan lalu.

“Keluarga menduga ada sesuatu yang tidak beres, meski telah dilakukan visum dan autopsi,” ucapnya.

Kata Rumayom, kepolisian menyatakan dokter forensik telah dihubungi. Namun saat dicek kembali dokter tidak bisa menghadiri gelar perkara. Polisi menyarankan keluarga korban mengecek langsung ke dokter forensik jika ada yang ingin ditanyakan.

“Tapi keluarga ingin dokter forensik hadir menyampaikan langsung hasilnya. Kaluarga juga kecewa dan tidak puas karena tidak ada tim independen selain Polres saat gelar perkara. Misalnya tim dari Polda, Ombudsmen dan lainnya untuk memberikan penilaian,” katanya.

Sementara Wakapolres Biak Numfor, Komisaris Polisi Tonny Upuya mengatakan jika ada pihak tidak puas dengan penanganan polisi, dapat menempuh jalur hukum atau cara lain sesuai aturan.

Polres Biak Numfor akan menghadapi ketidakpuasan itu secara hukum. Namun diharapkan, tidak ada kepentingan tertentu di balik ketikdapuasan dalam kasus meninggalnya Ronaldo Yawan.

“Kami harap jangan sampai ada embel-embel di balik semua itu karena hasil tim dokter forensik sudah jelas. Tahanan itu meninggal karena bunuh diri,” kata Kompol Tonny Upuya.

Menurutnya, keluarga korban mungkin merasa tidak puas karena menilai penjelas polisi tak maksimal. Namun katanya, ia memaklumi situasi yang terjadi kini.

“Mari bersama mengawal ini. Kan sudah dilaporkan ke Komnas HAM perwakilan Papua dan lainnya. Anggota kami yang dinilai lalai sudah disidang disiplin dan sudah dilaporkan ke Polda secara berkala,” ucapnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa