Keluarga korban pertanyakan proses hukum kasus bentrokan TNI-Polri di Mamberamo Raya

Penembakan Papua
Foto ilustrasi. - IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Keluarga anggota Kepolisian Resor Mamberamo Raya yang tewas ditembak prajurit TNI Satgas Pamrahwan Batalion Infantri 755/20/3 Kostrad pada 12 April 2020 mempertanyakan proses hukum dalam kasus itu. Keluarga mendiang Briptu Marcelino Rumaikewi menilai proses hukum kasus itu tidak berjalan transparan.

Merlin Rumaikewi, kakak kandung Briptu Marcelino Rumaikewi menyatakan keluarganya masih menantikan proses hukum perkara itu. “Kami menunggu cukup lama. Kami merasa dibiarkan. Mereka tidak serius? Mereka tidak punya simpati dan empati,” kata Merlin Rumaikewi kepada Jubi, Senin (2/8/2021).

Penembakan terhadap Marcelino Rumaikewi terjadi di Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua pada 12 April 2020. Sebelum penembakan itu, Marcelino Rumaikewi dan empat polisi lainnya mendatangi Pos Satgas Pamrahwan Batalion Infantri 755/20/3 Kostrad di Kasonaweja. Mereka mempertanyakan kenapa prajurit TNI pos itu memukul seorang polisi teman mereka.

Baca juga: Tim gabungan polisi dan TNI usut bentrokan di Mamberamo Raya

Akan tetapi, prajurit TNI di pos tersebut justru menembak Marcelino dan empat temannya. Dalam penembakan itu, tiga orang polisi meninggal, yaitu Briptu Marcelino Rumaikewi, Bripda Yosias Dibangga, dan Briptu Alexander Ndun. Selain itu, dua polisi lainnya, Bripka Alva Titaley dan Brigpol Robert Marien terluka.

Mewakili keluarga korban, Merlin Rumaikewi menyatakan TNI maupun Polri tidak bersikap terbuka kepada keluarga korban. “Kedua institusi itu tidak terbuka terhadap keluarga. [Mereka] tidak terbuka [menjelaskan] proses hukumnya. Apakah pelaku menjalani hukuman? Atau pelaku menjalani tahanan rumah? Atau kembali ke kesatuannya?” kata Merlin.

Merlin menyatakan semua keluarga korban membutuhkan penjelasan tentang proses hukum kasus itu. Merlin menyatakan keluarganya sangat kehilangan atas tewasnya Marcelino. “Hati kecil kami sakit. Bagaimana kalau keluarga Anda yang menjadi korban? Apakah anda hanya senyum-senyum?” Merlin bertanya.

Loading...
;

Baca juga: PAHAM Papua meminta informasi penanganan kasus kepada Pangdam

Merlin menyatakan keluarga mengetahui ada proses persidangan di Pengadilan Militer III-19 Jayapura telah berjalan sejak 27 Juli 2021. Ia meminta proses persidangan itu dilaksanakan dengan serius dan menghadirkan para pelaku penembakan lima polisi itu.

“Sidang perdana, pelaku tidak dihadirkan. [Mereka] ada di mana? Sidang kedua akan berlangsung pada 3 agustus 2021 di pegadilan Militer. Jadi, kami minta hadirkan pelaku,” kata Merlin.

Frits Rumaikewi, ayah Marcelino Rumakewi mengatakan mengatakan keluarga telah rela menyerahkan anaknya untuk mengabdi bagi negara. Akan tetapi, ia menyayangkan nasib anaknya yang diabaikan.

“Kami tahu anak-anak kami lepas untuk negara. [Jika anak saya] mati ditembak oleh lawan, ok lah. Tetapi ini [mati karena bentrok] antar kesatuan dalam tubuh negara. Di mana kemanusiaan mereka? Anak-anak [itu] bukan robot dan tidak ada [rasa] kemanusiaan. Bagaimana kalau [yang menjadi korban] keluarga Anda?” tanyanya.

Baca juga: Insiden Mamberamo Raya, lemahnya sinergitas TNI/Polri di tingkat bawah

Koordinator Perkumpulan Advokat HAM Papua, Gustaf R Kawer selaku kuasa hukum keluarga Marselino Rumaikewi dan kawan-kawan mengatakan kasus itu terjadi pada 12 April 2020, namun sidang pertama perkara itu baru berjalan pada 27 Juli 2021. “Dalam sidang [perdana], lima terdakwa tidak dihadirkan. Alasannya, dua [terdakwa] ada di Makassar, dan tiga ada di Merauke,” kata Kawer.

Kawer juga menilai pasal yang didakwakan kepada kelima prajurit TNI itu terlalu ringan, karena mereka didakwa dengan Pasal 358 tentang kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain yang diancam hukuman penjara 2 tahun dan 8 bulan. “Dalam proses itu, keluarga korban tidak pernah mendapat penjelasan dari Kodam XVII/Cenderawasih maupun Kepolisian Daerah Papua,” kata Kawer.

Kawer meminta Panglima Kodam XVII/Cenderawasih dan Kepala Kepolisian Daerah Papua memantau persidangan perkara itu. Kawer juga meminta kelima terdakwa ditahan di Jayapura, untuk memperlancar proses persidangan perkara itu.

Jubi telah menghubungi  Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria dan Kepala Kepolisian Daerah Papua, Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Mathius Fakhiri melalui layanan pesan dan upaya panggilan telepon. Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan pada Senin malam, Jubi belum menerima tanggapan dari kedua pihak tersebut. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top