TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Keluarga minta penembak Esron Weipsa dan Yakob Meklok diadili dan Kapolres Yahukimo dicopot

Komnas HAM Perwakilan Papua
Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey saat menghadiri pemakaman Esron Weipsa dan Yakob Meklok di Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, Papua, Rabu (15/3/2022). - Dok. Frits Ramandey

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pihak keluarga Esron Weipsa (19) dan Yakob Meklok (39)—dua peserta unjuk rasa menolak pemekaran Provinsi Papua yang meninggal dunia karena terkena tembakan aparat keamanan di Dekai pada Selasa (15/3/2022) kemarin—meminta pelaku penembakan  Esron Weipsa dan Yakob Meklok ditangkap dan diadili. Keluarga korban juga meminta Kepala Kepolisian Resor Yahukimo dicopot.

Hal tersebut disampaikan Kepala Suku Meek, Mathias Suu saat dihubungi Jubi pada Rabu (16/3/2022) malam, usai pemakaman jenazah Esron Weipsa dan Yakob Meklok. Mewakili keluarga korban, Mathias Suu mengatakan permintaan keluarga korban itu diputuskan bersama-sama oleh pihak keluarga korban, para kepala suku, tokoh agama, dan tokoh perempuan di Dekai. Suu menyebut pertemuan itu juga dihadiri wakil pemerintah dan Komnas HAM Perwakilan Papua.

“Setelah pulang [dari pemakaman], kami lakukan ibadah bersama dan menyampaikan pernyataan sikap dari pihak [keluarga] korban Esron Weipsa dari Distrik Nalca, maupun [keluarga] Yakub dari Distrik Puldama. Kami sepakati bersama, bahwa pelaku penembakan maupun yang memerintah segera proses hukum. Kebetulan [pertemuan] saat itu juga dihadiri tokoh Papua, pemerintah maupun Komnas HAM. Kasus ini [harus] segera tuntas,” kata Mathias Suu.

Baca juga: Dimakamkan di pinggir jalan, Yakob Meklok dan Esron Weipsa jadi simbol menolak pemekaran Papua

Suu mengatakan keluarga Esron Weipsa dan Yakob Meklok juga menuntut Kepala Kepolisian Resor Yahukimo dicopot dari jabatannya, karena dianggap menjadi pemberi perintah penembakan pengunjuk rasa menolak pemekaran di Dekai. Suu mengatakan pihaknya menyesalkan cara aparat polisi di Dekai menangani masyarakat biasa yang menggunakan haknya menyampaikan pendapat di muka umum.

“Kapolres Kabupaten Yahukimo maupun pelaku penembakan [harus] segera dicopot. [Saat warga Yahukimo] demo penolakan Otonomi Khusus, juga ditembak. Dan [demo] kedua ini, [demonstran menolak pemekaran juga] ditembak [sebanyak] tujuh orang, tapi yang meninggal dua orang, lima masih luka. Kami masyarakat sampaikan pernyataan sikap kami, pelaku penembakan maupun yang perintah segera dicopot, lalu diproses hukum seadil-adilnya, sehingga kami masyarakat dan korban [mendapat] puas [dan rasa keadilan],” ujar Suu.

Suu menyatakan keluarga Esron Weipsa dan Yakob Meklok tidak akan menuntut penyelesaian secara adat. “Kami tidak menuntut secara adat maupun minta apa-apa dari pihak yang tembak maupun koordinator aksi atau penanggungjawab aksi. Tapi kami minta pelaku penembakan dihukum seadil-adilnya,” pungkas Mathias Suu.

Baca juga: Polda Papua nyatakan kondisi Yahukimo relatif aman dan kondusif

Pada Selasa (15/3/2022) lalu, terjadi demonstrasi menolak rencana pemekaran Provinsi Papua terjadi di Dekai. Awalnya, unjuk rasa itu berlangsung dengan damai dan tertib, dan para demonstran bergantian menyampaikan aspirasi mereka menolak rencana pembentukan DOB atau provinsi baru. Para demonstran dan polisi juga sempat bernegosiasi, ketika demonstran meminta polisi menghadirkan anggota DPRD Yahukimo untuk menerima aspirasi mereka.

Sejumlah narasumber yang dihubungi Jubi menuturkan bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan terjadi setelah seorang polisi yang membawa kamera mengambil gambar para pengunjuk rasa. Sejumlah pengunjuk rasa memprotes hal itu. Protes itu berlanjut menjadi adu mulut antara demonstran dan polisi, lalu terjadi pelemparan batu. Polisi kemudian menembakkan gas air mata, membuat massa kacau.

Saat itu, bunyi tembakan juga terdengar, dan mengenai Yakob Meklok dan Esron Weipsa. Yakob Meklok meninggal dunia karena luka tembak di bawah ketiak kanan. Sementara Esron Weipsa meninggal karena luka tembak di punggung kiri.

Baca juga: 2 SST Brimob Polda Papua tiba di Yahukimo

Selain itu, ada tiga orang lain yang menjadi korban terluka dalam bentrokan tersebut. Mereka adalah Briptu Muhammad Aldi (luka di bagian kepala), Itos Hitlay (luka tembak di paha kiri), dan Luki Kobak (luka tembak di paha kanan). Peristiwa itu memicu amuk massa yang membakar sejumlah roku dan kantor pemerintah di Dekai.

Saat dihubungi secara terpisah, Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey yang ikut menghadiri pemakaman Esron Weipsa dan Yakob Meklok mengatakan pihaknya telah menerima aspirasi keluarga korban dan masyarakat. Ramadey menyatakan pihaknya akan mengawal proses hukum terhadap pelaku penembakan itu.

“Pertama, kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam kepada keluarga korban dan seluruh masyarakat Yahukimo. Kami menaruh penghargaan yang besar kepada masyarakat Yahukimo, elemen pergerakan, yang sangat tertib bisa mengantar dua jenasah itu lalu dikubur. [Masyarakat] sampaikan dua poin aspirasi mereka kepada Komnas HAM. Pertama, mereka minta ungkap siapa pelaku. Kedua, para pelaku harus diproses hukum. Jadi, saya punya tugas adalah melakukan investigasi untuk kronologis dan ungkap siapa pelaku. Kami masih di sini [Dekai] untuk investigasi hingga waktu yang belum bisa kami tentukan,” kata Ramandey kepada Jubi. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us