Follow our news chanel

Previous
Next

Keluarkan hukuman jingkrak, Gubernur NTT dinilai tak paham birokrasi

Keluarkan hukuman jingkrak,  Gubernur NTT dinilai tak paham birokrasi 1 i Papua
Ilustrasi, pixabay.com

Apa yang dilakukan oleh orang nomor satu di NTT itu bukanlah sebuah tindakan wajar

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kupang, Jubi – Akademisi dari Universitas Kristen (Unkris) Kupang, Zet Malelak, menilai hukuman yang diberikan oleh Gubernur NTT Viktor B Laiskodat, kepada bawahanya berupa lompat jingkrak  atau squad jumps beberapa waktu terakhir menunjukkan orang nomor satu di NTT itu tak memahami birokrasi.

“Perlu diingat pegawai negeri sipil itu secara struktural berada di bawah garis komando sekretaris daerah, bukan berada di bawah gubernur atau wakil gubernur, jadi menurut saya apa yang dilakukan oleh gubernur NTT menghukum lompat jingkrak menunjukkan ia tak paham birokrasi,” kata Malelak, Rabu, (8/1/2020).

Baca juga : Korupsi di NTT didominasi pengadaan barang dan jasa

Kades asal NTT ini akan dampingi Presiden ke India

Dua pekerja migran asal NTT kembali meninggal

Loading...
;

Tercatat Gubernur NTT dalam beberapa waktu terakhir menghukum lompat jingkrak sejumlah pegawai negeri sipil. Di antaranya Kepala Biro Pemerintahan Setda Provinsi NTT bersama sejumlah pegawai. Hukuman tersebut diberikan karena masalah pengeras suara yang tidak berfungsi dengan baik saat berlangsungnya acara rapat kerja Gubernur NTT tahun 2019 bersama para kepala daerah se-NTT beserta ribuan unsur camat dan kepala desa pada Oktober lalu.

Hukuman yang sama juga kembali dilakukan oleh Gubernur NTT pada dua Kepala Divisi Bank NTT pada acara pelantikan Direktur Umum Bank NTT pada Selasa (7/1/2020) kemarin , yang disaksikan oleh sejumlah pegawai Bank NTT dan sejumlah Forkopimda NTT. Mereka dihukum hanya karena salah menandatangani pakta integritas.

Zet Malelak menilai bahwa apa yang dilakukan oleh orang nomor satu di NTT itu bukanlah sebuah tindakan wajar, karena akan mempengaruhi psikologi dari karyawan yang disuruh lompat jingkrak.

“Bayangkan saja, hanya karena masalah sepele yakni masalah teknis seperti itu kemudian disuruh lompat jingkak. Seharusnya Gubernur NTT melihat juga bagaimana perasaan seorang istri dan anak dari korban yang disuruh lompat jingkrak,” kata Malelak menjelaskan.

Menurut dia,  kesalahan teknis yang dilakukan anak buah Gubernur dinilai wajar terjadi, karena tak diduga sebelumnya.

Malelak menyarankan masih ada cara yang lebih baik untuk bisa memberikan pelajaran bagi orang yang melakukan kesalahan, khususnya orang-orang yang levelnya bukan lagi anak sekolah yang bisa dihukum dengan cara lompat jingkrak.

Sikap Gubernur NTT yang menghukum anak buahnya itu bukan perbuatan yang manusiawi dan justru tak memberikan pembelajaran bagi setiap orang. “Justru akan muncul rasa yang tak senang kepada yang bersangkutan,” katanya.

Ketika dimintai konfirmasi, Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat mengatakan hukuman tersebut sebagai bentuk disiplin yang harus dimiliki para pimpinan maupun pegawai yang bekerja di sektor perbankan saat dirinya menghukum sejumlah kepala divisi itu.

“Itu disiplin, di bank itu harus orang-orangnya teliti, tepat tidak boleh salah,” kata Viktor. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top