Follow our news chanel

Keluhan pedagang ‘tiba-berangkat’ di Pasar Pharaa

Aktivitas pedagang produk pertanian di Los E Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura - Jubi/Yance Wenda
Keluhan pedagang ‘tiba-berangkat’ di Pasar Pharaa 1 i Papua
Aktivitas pedagang produk pertanian di Los E Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Mama-mama pedagang ‘tiba-berangkat’ yang membawa hasil pertaniannya dari kampung-kampung ke Pasar Pharaa Sentani kesulitan mendapatkan tempat yang cocok untuk berjualan. Mereka butuh perhatian pemerintah daerah.

Pedagang ‘tiba-berangkat’ adalah istilah untuk mama-mama dari kampung-kampung sekitar Sentani yang memasok hasil pertaniannya kepada pedagang eceran di Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura.

Mereka datang dari Sabron, Doyo, Genyem, Bonggo, Nimbokrang, Kemiri, Toladan, Yahim, dan Komba. Biasanya mereka sampai di Pasar Pharaa pukul 7 atau 8 pagi. Jika ada angkutan yang berangkat lebih pagi mereka sampai lebih pagi, pukul 6 bahkan pukul 5 pagi.

Pedagang dari Nimbokrang biasanya sudah kembali pada pukul 1 atau 2 siang karena transportasi danau yang terbatas. Sedangkan dari distrik atau kampung lain bisa kembali pukul 5 sore karena masih ada kendaraan.

Mama-mama tersebut datang ke pasar membawa hasil kebun mereka sendiri. Mereka menjual hasil pertanian mereka per karung.

Biasanya pedagang ‘tiba-berangkat’ mangkal di Los E Pasar Pharaa. Tapi sebulan lalu los tersebut dipakai oleh pedagang eceran sayur-mayur yang biasa disebut pedagang ‘jual-beli’. Pedagang ‘tiba-berangkat’ dipindahkan ke Los C yang sepi pengunjung.

Loading...
;

Mama Mariana, salah seorang pedagang ‘tiba-berangkat’ dari Distrik Nimbokrang kepada Jubi mengatakan para pedagang dari kampung-kampung itu dipindahkan petugas pasar pada 1 Juni 2019.

“Baru sebagian Mama-Mama yang pindah ke sini (Los C), sebagian lain masih bertahan di Los E,” katanya.

Menurut Mariana, sebenarnya Los E dikhususkan buat pedagang ‘tiba-berangkat’, tapi kemudian diambil alih oleh pedagang ‘jual-beli’.

“Tadi (pedagang eceran) ada yang bilang, Mama-Mama yang biasa potong satu (eceran) itu tidak boleh jual di Los E, kalau jual utuh dengan karung (per karung) boleh jual, karena kalau jual potong nanti kami rugi, kata mereka, jadi kalau kami yang mau potong (menjual eceran), terpaksa pindah ke lahan kosong di Los C,” katanya.

Mama Mariana yang menjual sagu, daun pandan, dan daun kunyit, mengatakan cuma berjualan beberapa jam saja untuk mencari uang memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, seperti membeli minyak goreng, bahan makanan, gula, dan keperluan anak sekolah.

Selain diatur tidak boleh menjual eceran, kata Mama Mariana, pedagang ‘tiba berangkat’ juga diatur untuk tidak menjual dengan harga lebih murah.

Ia mencontohnya tidak dibolehkan menjual sagu satu karung seharga Rp150 ribu. Mereka harus menjualnya di atas Rp200 ribu, misalnya Rp250 ribu atau Rp300 ribu.

“Kita yang dari kampung ini kasihan, kita datang mau jual di los itu nanti mereka bilang itu mereka punya tempat, jadi kita hanya bisa jualan di tempat terbuka,” katanya.

Ia mencontohkan mama-mama dari gunung yang berjualan petatas, singkong, dan sayur-sayuran bukan di dalam Los E, tapi di luar los.

“Sebenarnya kalau kami berjualan di bawah, hasilnya lumayan bisa untuk kebutuhan sehari-hari, tapi jika kami pindah di Los C, susah, di depan kami ada pedagang jual-beli, kami hanya atur jualan begitu saja, kalau ada yang membeli syukur, kalau tidak ada ya, kami terpaksa harus pulang dengan tangan kosong, kami ini dikejar waktu, tidak seperti mereka yang duduk berjualan sampai sore atau malam, kami hanya sampai jam satu siang saja,” kata Mariana.

Ia berharap dinas terkait menata pedagang di Pasar Pharaa dengan baik agar semua pedagang mendapatkan pembeli yang sama.

“Kami tahu Los E itu untuk mama-mama penjual ‘tiba-berangkat’, tapi nyatanya tidak, kalau bisa dari dinas harus lihat baik-baik, itu di dalam Los E itu semua pedagang ‘jual-beli’, kami hanya jualan di luar kena panas dan jualan kami layu, sudah begitu tidak laku baru kami pulang,” katanya.

Karena itu ia berharap dinas kembali menata pasar dengan baik dan khusus Los E untuk pedagang ‘tiba-berangkat’ sesuai pembicaraan awal.

Mama Priskila Irab, pedagang ‘tiba-berangkat’ dari Genyem mengaku sejak pindah los pendapatannya jauh berkurang.

“Kami dapat kasih pindah di sini, tapi pembeli sepi sekali, kami punya jualan banyak yang tidak terjual, padahal kami ke sini cuma untuk mencari kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Ia meminta dinas melihat dampak pemindahan dan bukan hanya sekadar mengisi kekosongan tempat. Menurutnya pedagang ‘jual-beli’ jika barangnya tidak laku bisa menjual kembali besoknya. Itu berbeda dari pedagang ‘tiba-berangkat’ yang jualannya harus habis dalam sehari.

Kepala Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Pasar Pharaa Sentani, Daniel Sokoy, mengaku pada mulanya upaya penertiban berlangsung baik, namun kemudian jumlah pedagang ‘tiba-berangkat’ semakin banyak.

Menurutnya, solusinya hanya menambah bangunan pasar untuk mama-mama tersebut agar jualannya tidak layu dan busuk. Hanya saja Disperindagkop Kabupaten Jayapura terbentur dana.

“Jika ada dana kami berencana membangun satu gedung lagi yang khusus untuk mama-mama ‘tiba-berangkat’ tersebut,” katanya.

Menurutnya mama-mama tersebut seharusnya berjualan di tempat yang layak, bukan di lantai di bawah terik matahari seperti yang terjadi pada sebagian pedagang sekarang.

Sokoy juga mengeluh sulitnya mengatur pedagang yang menurutnya seperti mengurus bayi. Jika tidak diawasi mereka berjualan tidak pada tempat yang telah ditentukan. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top