HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Kematian Yesus menghapus dosa manusia, kematian OAP untuk “menghapus utang negara”

Dua orang mama Papua menangisi anaknya yang ditembak mati pada kasus Paniai Berdarah 2014 silam. – Jubi/dok Yanes Douw
Dua orang mama Papua menangisi anaknya yang ditembak mati pada kasus Paniai Berdarah 2014 silam. – Jubi/dok Yanes Douw

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Oleh Erik Bitdana

Sekilas realitas reflektif

Penderitaan Yesus adalah penderitaan orang Papua. Yesus adalah orang asli bangsa Yahudi.

Yesus hadir di dunia dengan misi yang jelas yakni “keselamatan: menyelamatkan manusia dari dosa menuju kepada kehidupan”.

Kita tahu bahwa Yesus bukan orang Papua. Ia juga bukan orang Yunani, Roma, Amerika, Jerman atau Belanda, tetapi mengapa Yesus mempengaruhi dunia?

Kehadiran-Nya secara manusiawi memberi warna bagi hidup manusia. Yesus selama hidup dan karyanya mewartakan kebenaran tentang Kerajaan Allah yang dianggap sebagai suatu kebodohan bagi para pemimpin pada zaman-Nya.

Loading...
;

Kita tidak heran kalau Ia ditolak, dibenci, dimusuhi, dimarahi, bahkan dijatuhi hukuman mati dan dibunuh oleh suku bangsa-Nya sendiri sebagai jaminan bangsa-Nya.

Awal refleksi saya ini bertolak dari penderitaan Yesus dengan melihat, mengalami, mendengar penderitaan orang asli Papua (OAP) sebagai bagian dari umat beriman Kristen yang mempercayai, mengakui dan mengimani Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan juruselamat bagi umat manusia di Tanah Papua.

Dari sisi lain saya melihat lonjakan pinjaman uang negara yang semakin menjulang tinggi sebut saja “utang negara”.

Kedua hal ini sama-sama memberikan jaminan hidup sekaligus menyengsarakan hidup itu sendiri. Hal ini terlihat dari maraknya fenomena konflik yang sifatnya nyawa manusia menjadi tumbalnya, baik orang Papua, maupun Yesus secara jasmani dan rohani.

Dengan ini wajarlah bila orang Papua sebagai pengikut Yesus mengkontekskan pengalaman penderitaan-Nya sebagai bagian dari penderitaan hidup orang Papua saat ini.

Keyakinan dan kepercayaan atas dasar iman akan penderitaan Yesus sebagai jaminan keselamatan kelak (eskatologis), karena mereka merindukan keselamatan di atas negerinya sendiri.

Artinya secara politis, hak asasi manusia (HAM) dan hukum mesti ditegakkan bagi orang Papua maupun semua suku bangsa yang dipanggil dan diutus dalam nama-Nya melalui baptisan.

Dengan kata lain, keselamatan yang dimaksudkan adalah keselamatan kekal sesudah mati (eskaton) dari sisi imannya.

Hal ini berbeda dengan keselamatan yang dicita-citakan, diinginkan dan diperjuangkan oleh orang Papua dalam situasi penderitaan mereka, yakni keselamatan saat ini dan di sini.

Mereka menambahkan sekarang bukan esok atau lusa dengan memperoleh hak kemerdekaan politik.

Dengan demikian, orang Papua memperoleh jaminan kebebasan dari segi hukum dan HAM maupun membentuk satu negara tersendiri dari bangsa Indonesia yang dianggap sebagai penjajah atau kolonial.

Inilah yang menjadi harapan iman umat yang hendak disamakan dengan penderitaan Yesus.

Walaupun demikian, adanya distingsi dari pihak lain secara geneologi dan geografis maupun situasi serta tujuan sangat berbeda jauh antara penderitaan orang Papua dan penderitaan Yesus pada zamannya dan zaman ini.

Maka dalam tulisan ini saya sedikit merefleksikan penderitaan Yesus dan penderitaan orang Papua.

Di sisi lain penderitaan Yesus sebagai mediator antara Allah dan manusia sementara penderitaan orang Papua sebagai mediator antara negara dan bank dunia dengan pengorbanan menjadi bayarannya.

Pertanyaannya ialah apakah kedua penguasa tersebut, baik maksud dan tujuan dari Allah, maupun maksud dan tujuan negara akan menjadi jaminan keselamatan?

Arti penderitaan

Penderitaan dipahami sebagai sebuah situasi yang kurang menguntungkan bagi hidup manusia, baik secara individu maupun kelompok. Penderitaan juga adalah tidak memperoleh apa yang menjadi haknya.

Selain itu, penderitaan juga menunjukkan adanya ketidakharmonisan akibat perang, kerusuhan, wabah, bencana yang secara alami maupun atas tindakan manusia dengan sengaja atas dasar kehendak.

Secara etimologis kata derita atau penderitaan terdapat di berbagai bahasa di dunia dengan sebutan yang berbeda, tetapi memiliki satu makna.

Dalam bahasa Latin kata dolor, doloris, yang sama-sama menunjukkan penderitaan yang bersifat jasmani maupun rohani yang meliputi; rasa nyeri, rasa sakit, kesakitan maupun duka, susah, kepedihan, kesedihan, penderitaan, sengsara, sesal maupun penderitaan atas ketidakadilan karena dendam, kejengkelan, sakit hati, kegelisahan, dukacita, nestapa, bencana yang bersifat dolor iniuriae.

Sementara penderitaan juga menimpa manusia karena tipu daya, penipuan dan kepalsuan.

Penderitaan juga hadir secara tidak nyata dalam sifatnya bisa disembunyikan di balik kejujuran (sine dolo) sebagai alat penipu, jebakan, jerat, perangkap atau maksud jahat, rencana jahat, dengan tipu dan licik yang sama-sama menjadi sarana terciptanya penderitaan (Kamus Latin-Indonesia, hal.163).

Penderitaan menurut Sang Buddha dijelaskan secara singkat oleh Gillian Stokes dalam bukunya “Siapa Dia Buddha”, bahwa derita atau penderitaan adalah bagian dari kehidupan, oleh karena itu penderitaan akan selalu dialami oleh semua makhluk hidup.

Penderitaan juga selalu disebabkan oleh hawa nafsu manusia untuk mendapatkan kenikmatan duniawi. Maka Sang Buddha menganjurkan sebuah jalan hidup yang disebutnya moderat atau jalan tengah, yakni kewaspadaan dan tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Menurutnya jika manusia terlalu berlebihan mengejar hawa nafsunya, maka akan mendatangkan penderitaan. Sebaliknya jika kebutuhan hidup terlalu berkekurangan juga akan mendatangkan penderitaan. Maka solusinya adalah jalan tengah.

Jalan tengahlah yang bisa menjamin kehidupan tanpa penderitaan yakni memakai sesuai kebutuhan. Hidup berkecukupan, tak perlu mewah, apa adanya, dengan apa yang kita miliki sebagai anugerah hidup.

Karenanya, kekayaan berupa sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) di tanah air adalah sumber rahmat. Jangan juga kita merampas, mencuri, membunuh dan tanpa izin pemilik. Inilah yang diajarkan sang Buddha sebagai sumber hidup.

Hal serupa dikatakan oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu. Janganlah memeras orang, jangan pula mengambilnya tanpa paksa”.

Berikan kepada saudara apa yang ia butuhkan sesuai haknya dan ambillah apa yang menjadi hak kita. Dengan ini tegas mengingatkan kita sebagai manusia “cukupkanlah dirimu dengan gajimu”. Jika tidak maka hidup kita selalu dihantui ketakutan, batin kita gelisah dan rasa dendam terhadap sesama dan Tuhan selalu menjadi teman sebaya, yang menuntun kita pada tempat yang tidak kita inginkan sebagai manusia religius yakni jurang maut.

Dengan demikian penderitaan secara tidak langsung sudah dialami oleh siapa pun termasuk diri kita sendiri secara manusiawi menjadi bagian hidup dalam hal kebebasan. Juga penderitaan atas tindakan orang lain, baik pengalaman masa lalu, kini dan akan datang menjadi beban hidup secara moral dan fisik, maupun rohani.

Penderitaan Yesus

Sejarah bangsa Yahudi telah dibukukan dan diperluaskan di seluruh dunia. Dunia menanggapinya secara berbeda, baik secara historis-tradisi sebagai bangsa peradaban dunia, maupun secara imanen sebagai bangsa pilihan Allah.

Maka tulisan ini cukup memperkenalkan sedikit arti dan maksud penderitaan Yesus secara manusiawi maupun kemahakuasaan-Nya sebagai Tuhan.

Tuhan membawa misi keselamatan menjadi tujuan atau sasaran utama kepada umat-Nya. Penderitaan Yesus menunjukkan sebuah keaslian bangsa Israel pada saat itu.

Penderitaan Yesus ditunjukkan secara adat dan tradisi bangsa Yahudi dan Romawi karena Yesus hadir pada masa penjajahan.

Secara budaya, Ia disidangkan lebih dahulu oleh Mahkamah Agama dengan kelompok-kelompoknya hingga terakhir dihadapkan kepada Pilatus sebagai pemimpin kaki tangan penguasa Romawi.

Di sini kita pahami sebagai bagian dari kepentingan politik. Semua kejadian yang menimpa Yesus adalah kepentingan politik dari sisi kemanusiaan Yesus dan di sisi lain adalah kehendak Allah.

Tujuan menangkap dan membunuh Yesus sejak tampil di Galilea dan mulai mewartakan kabar gembira Tuhan hingga mencapai puncaknya pada kematian di salib adalah tugas mulia Yesus sebagai Anak Allah dan Putra Yahudi.

Di sini Yesus berperan sebagai mediator (bdk.Mrk 1:1-5). Yesus menghadapi seluruh suka-duka hidup sebagai 100% manusia dan melaksanakan misi Allah dengan kuasa-Nya sebagai 100% Allah.

Maka tepatlah jika Yesus Kristus menanggung semua konsekuensi baik dari sisi Allah dan manusia. Puncaknya ditunjukkan pada kematian di salib sebagai korban penghapusan dosa manusia dan saat itulah perkataan terakhir di atas kayu salib yakni “selesai”.

Penderitaan orang Papua

Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa penderitaan Yesus adalah orang Papua sebagai bagian dari murid-murid-Nya. Perbedaan antara Yesus dan orang Papua adalah budaya dan situasi dalam hal ini tujuanlah yang menjadi jawaban persamaanya.

Tujuan penderitaan Yesus hingga wafat di salib adalah misi agung Allah, sedangkan tujuan penderitaan dan kematian orang Papua bukan untuk menghapuskan dosa leluhur nenek moyang bangsa Melanesia, melainkan menghapuskan dosa nenek moyang bangsa Indonesia yakni utang.

Dikatakan utang sebagai dosa nenek moyang bangsa Indonesia karena sejak Republik Indonesia menyatakan Kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 hingga saat ini belum mampu melunasi utang negara di bank dunia.

Bank dunialah menjadi jaminan hidup bagi bangsa Indonesia. Ia seakan tuan yang menyediakan bahkan menjawab segala kebutuhan hidup bangsa Indonesia dengan senang hati.

Jaminan inilah yang akan terus diupayakan oleh bangsa Indonesia dengan berbagai cara yang sifatnya baik maupun buruk, yang nanti mengorbankan sesama manusia sebagai tumbalnya dan sumber daya alam sebagai jaminannya.

Maka berbagai perusahaan multinasional hingga international menjadi lapangan pendapatan.

Dengan demikian, apa pun yang ada dan hidup di atas bumi ini dari Sabang-Merauke akan selalu korban penderitaan. Terutama bagi orang Papua sebagai pemilik tanah menjadi korban penderitaan.

Alam menderita karena tanpa peduli hutan dibabat habis, ikan dijaring, emas dikeruk, kayu ditebang, minyak bumi dihisap, dan manusia dibunuh, dikejar, disiksa, dipenjara, ditangkap dengan beragam alasan hukum dan tuduhan palsu. Demokrasi dibatasi, pendidikan dibiarkan terlantar, daya juang kehidupan ekonomi rakyat dimatikan dengan kucuran dana yang menggiurkan, minuman keras diberi label khusus, daya saing usaha dikuasai, tingginya peredaran penyakit mematikan di seluruh Tanah Papua hingga ketidakberpihakan hukum bagi orang Papua dengan tuduhan makar, pemberontak, kelompok kriminalitas, dan rasialitas selalu menjadi konsumen publik rakyat Papua adalah derita.

Dengan sedikit gambaran situasi sosial hidup orang Papua di tanah leluhurnya menjadi sebuah pergumulan, perjuangan dan harapan tersendiri memperoleh suatu kebebasan secara politis adalah harapan dan cita-cita mulia masa kini dan masa depan di dunia ini.

Penutup

Semua penderitaan di atas selalu berujung pada akibat. Akibat dari utang negara akan memiliki risiko yang sangat besar pengaruhnya tanpa ada manfaat sedikit pun bagi orang Papua.

Oleh karena itulah orang Papua sering mengatakan bangsa Indonesia adalah pembunuh dan penjajah dengan mengalami realitas hidup.

Bahkan penulis sendiri pun mengalami rasa yang sama. Hal ini bisa kita lihat, dengar dan temukan di lingkungan sekitar kita dimanapun dan kapan pun di seluruh pelosok Tanah Papua.

Ada orang yang menangis karena perumahannya digusur demi pembangunan, ada pembakaran hutan besar-besaran di demi pembangunan perumahan dan perkebunan, ada pembunuhan dimana-mana karena dianggap Organisasi Papua Merdeka (OPM), dikejar dan diteror karena dianggap Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB), Komite Nasional Papua Barat (KNPB), atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sebagai kelompok pemberontak yang harus dibasmi demi keamanan negara.

Bahkan perusahan-perusahan multi nasional hingga internasional mengeksplorasi sumber daya alam Papua demi pajak dan utang negara.

Indonesia menggunakan beragam cara dan strategi diupayakan untuk membunuh dan meniadakan orang Papua, terhitung sejak 1961 pada Desember hari lahirnya Yesus Kristus, dan menjadi hari lahirnya bangsa Papua.

Semua bentuk kekerasan secara jasmani maupun keluh-kesah, sedih, duka cita, tangis dan marah menunjukkan penderitaan yang sedang dan akan dialami orang Papua hingga pemusnahan menjadi puncak dan akhir dari segala kemungkinan.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa penderitaan Yesus menjadi jawaban hidup umat beriman kelak di akhirat.

Namun menjadi pertanyaan reflektif bagi kita saat ini dan menjadi tugas bersama mencari solusi adalah apakah ada harapan akan jaminan keselamatan bagi orang Papua dengan adanya utang sebagai dosa nenek moyang bangsa Indonesia saat ini? (*)

Referensi

Kathryn, Slattery. 2010. Andai Aku bisa menanyakan Banyak hal Kepada Tuhan. Yogyakarta: Gloria Graffa

G. Van Schie. 2010. Hubungan MANUSIA dengan MISTERI-MISTERI: Rahasia di Balik Kehidupan. Jakarta: Fidei Press

Drs. K. Prent c.m. dan Drs. J. Adisubrata. 1969. KAMUS LATIN-INDONESIA. Yogyakarta: Kanisius

Gilian. Stokes. 2001. Seri Siapa Dia BUDDHA? Jakarta: Erlangga

Penulis adalah mahasiswa dan anggota Kebadabi Voice Group di STFT Fajar Timur Abepura dan Aplim Apom Research Group (AARG)

 

Editor: Timoteus Marten

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa