Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Kepulauan Pasifik: dampak krisis hari ini pada masa depan kaum muda

Kegiatan home-schooling di Fiji selama karantina akibat Covid-19. - Asian Development Bank/Flickr

| Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Catherine Wilson

Beban resesi ekonomi dampak dari Covid-19 akan ditanggung oleh negara-negara berkembang, dimana kaum muda merupakan mayoritas dari populasi negara-negara.

Kepulauan Pasifik: dampak krisis hari ini pada masa depan kaum muda 1 i Papua

Resesi global yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 akan memiliki dampak yang serius bagi generasi muda saat ini – baik sekarang maupun kedepannya. Organisasi buruh sedunia, ILO, baru-baru ini memperingatkan bahwa krisis ekonomi akan mempengaruhi orang-orang muda, dengan lebih berat dan lebih awal daripada kelompok usia lainnya. Dan itu menambah beban yang sudah ada.

Tahun ini, angka pengangguran yang meningkat dan ekonomi yang lesu, terutama akibat adanya korupsi, pemerintahan yang buruk, elite politik yang mengakar, dan sekarang pandemi, telah memperkuat gerakan protes yang didominasi orang muda, contohnya di Irak, Lebanon, dan Aljazair.

Dan, meski akan ada beberapa pihak yang tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19, dampak yang lebih besar akan ditanggung oleh negara-negara berkembang, di mana populasi orang muda cenderung lebih mendominasi. Ini termasuk negara-negara tetangga dekat Australia – setidaknya setengah dari semua penduduk Kepulauan Pasifik berusia di bawah 23 tahun, jumlah yang menyebabkan fenomena ‘youth bulge’.

Ketika saya pertama kali mulai mempelajari dampak youth bulge di Pasifik saat menulis laporan untuk Lowy Institute yang baru-baru ini diterbitkan, Covid-19 bahkan tidak ada dalam pemikiran saya. Tetapi, ternyata, tidak ada waktu yang lebih tepat dari sekarang untuk menganalisis topik ini, virus ini telah memberatkan tekanan dan paksaan pada kehidupan orang-orang Pasifik dan prospek masa depan mereka.

Loading...
;

Tantangan-tantangan yang mempersulit pembangunan dan kesejahteraan di kawasan ini sebelumnya, seperti perubahan iklim, ketangguhan terhadap bencana, ketaksetaraan gender, dan Penyakit Tidak Menular (PTM), sudah lama diketahui media selama ini. Tetapi skalanya akan meningkat, dengan populasi Kepulauan Pasifik diperkirakan akan meningkat dari 11,9 Juta menjadi 19,7 Juta pada tahun 2050. Pertumbuhan penduduk dapat memiliki dampak besar terhadap setiap sektor pembangunan di wilayah ini, termasuk kemajuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, pembangunan ekonomi dan lapangan kerja, dan perdamaian dan stabilitas, belum lagi kapasitas infrastruktur dan layanan.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti. Selama beberapa waktu yang saya habiskan untuk pelaporan lapangan di wilayah Pasifik selama satu dekade terakhir ini, terutama di negara-negara kepulauan Melanesia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Vanuatu yang paling padat penduduk, realitas mengenai generasi muda dan pandangan mereka tentang masa depan dipengaruhi oleh, contohnya, pengangguran, tingkat melek aksara yang rendah, keterbelakangan pembangunan di daerah terpencil, kemiskinan dan korupsi, semua ini lebih sangat nyata.

Pada saat yang bersamaan, ada banyak kisah tentang perem orang-orang muda, baik perempuan maupun laki-laki, yang telah melewati tantangan dan kesulitan dan mencapai kesuksesan. Ketika saya mewawancarai Patrick Arathe pada 2013 di pulau-pulau Provinsi Barat di Kepulauan Solomon, ia baru berusia 23 tahun dan baru mulai mengembangkan usaha pertanian dengan sekelompok anak laki-laki lainnya. Usaha itu sekarang telah berkembang menjadi pemasok utama produk segar ke rumah sakit setempat, usaha-usaha lainnya, dan masyarakat sekitar. Keuntungan dari perusahaan itu digunakan untuk kesejahteraan dan pendidikan mereka. Sementara itu di pasar utama di Honiara, ada banyak perempuan muda yang memajang hasil kreativitas dalam mereka untuk membudidayakan dan menjual bunga tropis.

Di dataran tinggi timur Papua Nugini, saya bertemu dengan segerombolan anak muda desa di daerah Kamanabe yang telah meninggalkan karier mereka yang terkenal dalam membajak kendaraan, menjambret, dan pemerasan di jalan raya Highlands terdekat, untuk membentuk sebuah koperasi pemuda yang berkomitmen untuk mendapatkan penghasilan yang legal dari budi daya lebah madu.

Membangun kesuksesan seperti ini dalam skala yang lebih besar merupakan suatu keharusan, karena data terbaru menunjukkan bahwa satu dari enam orang muda di seluruh dunia telah kehilangan pekerjaan atau penghasilan mereka sejak munculnya virus Corona.

Sebelum pandemi ini, persentase pengangguran orang muda global adalah 13,6%. Di Australia, angka itu adalah 12%, tetapi di seluruh wilayah Kepulauan Pasifik, diperkirakan persentase pengangguran orang muda sekitar 23%, telah menjadi sekitar lebih dari 40% di Kepulauan Solomon. Tanpa perlu diragukan lagi, angka ini akan terus meningkat.

Seperti laporan saya sebelumnya, fenomena youth bulge di wilayah Pasifik ini adalah hasil dari angka kesuburan yang tinggi, tingkat penggunaan keluarga berencana yang rendah, dan tradisi yang kuat untuk keluarga yang besar sebagai jaringan pendukung sosial yang krusial di negara-negara di mana jaminan pensiun dan pelayanan sosial yang disediakan pemerintah terbatas.

Sebagian besar pemerintah Pasifik sangat menyadari masalah ini dan mengakui tantangannya.

Tahun lalu, Perdana Menteri PNG, James Marape secara terbuka mengakui: “Kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kita berinvestasi untuk masa depan kita, sehingga anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan semua penerus kita yang akan datang setelahnya memiliki landasan yang kuat.” Namun, ada kesenjangan yang besar di wilayah ini antara di satu sisi, memformulasikan kebijakan dan program, dan di sisi lainnya, dalam menggalangkan dana, sumber daya lainnya, keahlian, dan tenaga kerja untuk mengimplementasikan solusi-solusi itu dengan sukses pada skala yang dibutuhkan. Ini adalah persoalan yang nyata.

Daftar pekerjaan yang harus dilakukan tidak sedikit: meningkatkan kualitas pendidikan dan melek aksara, memperluas jangkauan pelayanan dan peluang ekonomi kepada sekelompok besar orang muda yang tinggal di daerah pedesaan, dan diversifikasi ketergantungan pada migas dan SDA yang miskin lapangan pekerja di PNG dan Kepulauan Solomon. Kemudian harus ada juga upaya untuk mencegah generasi berikutnya menanggung beban dari penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes.

Orang muda dalam jumlah yang besar bukanlah bencana atau ancaman – justru sebaliknya, jika mereka diberikan peluang dan rasa puas. Tetapi, seperti yang terjadi saat konflik sipil Bougainville pada 1990-an dan kerusuhan sipil di Honiara pada 2006 dan 2019, tata kelola pemerintahan yang lemah, korupsi, ketaksetaraan, dan krisis ekonomi dapat mendorong kelompok yang paling rentan.

Hari ini, orang-orang muda di Kepulauan Pasifik semakin menuntut agar suara mereka juga didengarkan dalam isu-isu politik, dan mereka tidak sabar dan frustrasi dengan adanya korupsi dan kronisme dalam struktur kekuasaan dan kepemimpinan. (The Interpreter oleh Lowy Institute)

Catherine Wilson adalah seorang jurnalis lepas dan koresponden yang melaporkan PNG dan wilayah Kepulauan Pasifik.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top