HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Kerabat  Antropologi Uncen buka “Kebun Kerabat”

Para anggota Kerabat Antrpologi Universitas Cenderawasih saat membersihkan lahan Kebun Kerabat. - Jubi/Hengky Yeimo
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kerabat Antropologi, perkumpulan para alumni Jurusan Antropologi  Universitas Cenderawasih, membuka kebun untuk mengantisipasi kelangkaan pangan pada masa pandemi Covid-19. Kebun yang diberi nama “Kebun Kerabat” itu dibuka di belakang Laboratorium Antropologi Universitas Cenderawasih yang berada di Kampus Abepura, Kota Jayapura, Papua.

“Kebun ini dinamainya “Kebun Kerabat”, sebab kami mengajak orang Papua untuk mencintai alam dan manusia, manusia dan alam, juga sesama manusia. Kekerabatan antara alam dan manusia itu terjalin, itulah warisan dari leluhur,” kata Koordinator Kebun Kerabat, Daniel Randongkir di lokasi Kebun Kerabat, Rabu (3/6/2020).

Randongkir mengatakan alumni Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) yang turut membuka Kebun Kerabat itu berasal dari berbagai angkatan. Randongkir menyebut selama berkuliah mereka mempelajari kebudayaan orang Papua, termasuk dalam berkebun. Kini mereka mengaplikasi berbagai pengetahuan itu dalam kehidupan nyata.

Kerabat  Antropologi Uncen buka “Kebun Kerabat” 1 i Papua

“Selain mengatisipasi kelangkaan pangan, pembukaan lahan itu juga bagian dari kebisaan yang diwariskan oleh leluhur orang Papua. Untuk bertahan hidup, [kami] harus berkebun, sebab dengan kebun kami tidak kelaparan,” katanya.

Baca juga: Antisipasi kelangkaan pangan, warga Angkasapura buka “Kebun Korona” 

Randongkir mengatakan berkebun bagi orang Papua bukanlah hal baru, dan telah lama menjadi kearifan lokal orang Papua. “Mereka yang bercocok tanam itu orang cerdas, berpikir jauh ke depan. Mereka sudah membaca situasi ke depan akan terjadi kelangkaan pangan. Mereka tidak mau bergantung pada belas kasihan pemerintah berusaha menjadi mandiri. Mereka ini orang orang yang berfikir maju,” katanya.

Randongkir mengatakan orang Papua sudah pernah menghadapi krisis pangan. Ia mencontohkan tiga tahun lalu terjadi krisis pangan karena hujan es di Kabupaten Puncak dan Lanny Jaya. Ia menekankan hujan es merupakan fenomena alam yang tidak bisa diantisipasi, namun risiko kelangkaan pangan pada masa pandemi Covid-19 dapat diantisipasi.

“Wabah Covid-19 terjadi secara global. [Kami] tidak bisa tunggu [bantuan] dari orang lain. Kami sendiri yang [harus] bekerja keras untuk bertahan hidup. Itu yang dilakukan leluhur kita sewaktu mereka memperkirakan akan menghadapi musibah,” katanya.

Randongkir mengatakan selama dua minggu terakhir Kerabat Antropologi telah membuka, membersihkan, dan menanami lahan seluas 20 x 20 meter persegi. “Setelah membersikan lahan, kemudian [kami] mencari bibit tanaman untuk ditanam di lahan tersebut. Untuk mencangkul dan menanam, kami bekerja pada pukul 08.00 dan 15.00 WP. Kami efektif bekerja [di kebun selama] tiga jam. Kami kerja pelan tapi pasti,” katanya.

Randongkir mengatakan bibit tanaman mereka dapatkan dari sumbangan para anggota Kerabat Antropologi. Ia mempersilahkan apabila ada kerabat lain yang mau mengantar bibit.

Baca juga: MRP: masyarakat harus kembali berkebun

“Kami diberikan bibit tanaman dari Kerabat Antropologi di Kabupaten Keerom. Kami angkut menggunakan mobil pick up. Sebagian besar bibit itu [tanaman] seperti pisang, kacang pajang, petatas, singkong, pepaya, jagung,” katanya.

Randongkir mengatakan bibit yang tengah disemai Kebun Kerabat adalah tanaman yang bisa dipanen dalam jangka waktu cepat, seperti kacang panjang, jagung, kangkung cabut. Kami tanam [tumbuhan] yang bisa dibikin sayur, bisa di panen dalam waktu dekat. Sebelumnya kami juga menanam pisang, ubi, singkong, dan keladi,” katanya.

Anggota  Kerabat Antropologi, Kores Rumbiak mengatakan pembukaan Kebun Kerabat memang dilakukan untuk mengantisipasi risiko kelaparan pasca wabah penyakit Covid-19 yang disebabkan virus korona. “Kami mengantisipasi, agar [kami] tidak [melulu] mengharapkan bantuan dari pemerintah saja. Kita juga harus bergerakan. Kalau tidak, kita bisa mati kelaparan,” kata Rumbiak.

Rumbiak berpesan agar para anggota Kerabat Antropologi di manapun kembali ke kebun. Jika tidak ada lahan, mereka bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk berkebun. ”Setelah wabah nanti, kami tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi,” kata Rumbiak.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top