Keraguan terhadap vaksin dan risikonya di pedalaman Papua Nugini

papua
Kerumunan masyarakat berkumpul di Wawoi Falls, Provinsi Western, PNG. - Mikaela Seymour
Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh dr. Mikaela Seymour

Pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang signifikan secara global, dimana sudah ada lebih dari 114 Juta kasus dan 2,5 Juta kematian di seluruh dunia. Dengan lebih dari 1.800 kasus dan 21 kematian, nasib Papua Nugini lebih baik daripada kebanyakan negara lainnya, meskipun berbagai pakar berpendapat bahwa tingkat infeksi Covid-19 yang sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan. Melonjaknya jumlah kasus yang dilaporkan baru-baru ini memicu kekhawatiran lain.

Sekretaris Kementerian Kesehatan PNG, Osborne Liko, mengungkapkan bahwa vaksinasi yang meluas merupakan intervensi yang paling efektif untuk melawan virus ini. Dalam survei Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini, yang lalu dipadukan dalam rencana vaksinasi nasional Covid-19 PNG, dari 1.332 orang Papua Nugini, 85% ingin menerima suntikan vaksin Covid-19. Namun, data ini tidak membedakan antara penduduk yang tinggal di daerah perkotaan dan daerah pedalaman, yang merasakan pengalaman pandemi yang sangat berbeda.

Mengingat dampak pandemi Covid-19 yang terbatas di daerah non-perkotaan, memotivasi masyarakat di sana untuk menerima vaksin Covid-19 mungkin akan menjadi tantangan lain. Contohnya, di daerah pedalaman Provinsi Western, tidak ada banyak perubahan sejak pandemi dimulai. Pasar masih diadakan, kebun terus dibudidayakan, dan sagu masih ditokok – kehidupan mereka masih terus berlanjut seperti sebelum Covid-19 tiba.

Saya mulai bekerja sebagai dokter di pos kesehatan pedesaan di Provinsi Western pada Januari 2020, saya lalu pulang ke Australia pada Maret tahun itu setelah pemerintah memerintahkan semua warga negaranya untuk kembali. Saat itu, dengan adanya peringatan ‘mayat di jalan-jalan’, prospek kedatangan Covid-19 di PNG suram. Untungnya prediksi ini belum terjadi.

Pada Januari 2021 lalu, saya diberikan izin khusus untuk kembali ke Provinsi Western, kurang dari satu tahun setelah saya meninggalkan daerah itu. Meskipun di Australia sudah beberapa kali diterapkan karantina wilayah, penutupan perbatasan, dan perubahan perilaku sesuai protokol kesehatan, hal yang sama tidak terlihat di sini.

Di Rumah Sakit Balimo, Middle Fly, bangsal Covid-19 masih kosong. Walaupun sudah tersedia beberapa alat untuk melakukan tes swab nasofaring, namun belum ada tes yang dilakukan.

Loading...
;

Di pos-pos pelayanan kesehatan di desa-desa, petugas kesehatan memang menggunakan masker saat mereka memberikan pelayanan kepada pasien, tetapi ini sudah dilakukan bahkan sebelum Covid-19 akibat tingginya angka TB resistan terhadap obat atau TB MDR di daerah itu. Pasien menerima pelayanan dalam ruangan dengan ventilasi yang baik, terhalang oleh sekat dari kasa penghalang nyamuk yang robek dan jendela pecah, atau panel kayu yang ditopang dengan tongkat. Mereka selalu memastikan ada perputaran udara yang baik untuk melindungi tenaga kesehatan dari TB MDR, dan juga Covid-19.

Dalam perjalanan saat ini, penyuluhan terkait Covid-19 yang kami berikan umumnya mengenai etika ketika batuk, menjaga jarak, penggunaan masker, dan cuci tangan. Pesan-pesan itu diterima masyarakat dengan tenang meskipun transmisi lokal Covid-19 dapat tersebar luas jika itu sampai. Pada akhir sesi kami, pertanyaan yang sama selalu diajukan: “Apa yang harus kita lakukan jika kita tidak punya sabun tangan?”. Masyarakat dari kebanyakan desa di daerah ini tidak bisa mengunjungi toko kelontong dengan mudah, dan seringkali tidak punya stok barang-barang yang diperlukan. Program Sustainable Development Project dan OkTedi Development Fund telah membagi-bagikan sabun sejak pandemi dimulai. Menurut pengamatan masyarakat, orang tua melaporkan bahwa penyakit seperti diare, penyakit kulit, dan batuk pada anak-anak telah menurun sejak mereka mulai menggunakan sabun.

Dari perspektif tenaga kesehatan di lapangan, masih belum jelas bagaimana 80% dari populasi PNG yang hidup di daerah pedalaman akan divaksinasi. Saat ada lonjakan kasus polio dan campak pada 2019 lalu, warga di beberapa desa menerima dosis vaksin yang berlebihan, dengan waktu penyuntikan yang tidak sesuai jadwal dan perekaman medis yang buruk, sementara banyak desa lainnya tidak menerima vaksin apa pun. Menghindari kesalahan yang sama dengan program vaksinasi Covid-19 ini sangat penting.

Kurangnya akses ke jaringan listrik dan alat pendingin di sebagian besar pos kesehatan dan penggunaan kotak pendingin portabel akan membatasi jangkauan geografi vaksin Covid-19. Pada tahun 2012, hanya 41% klinik di seluruh PNG yang memiliki sarana lemari es, dan hanya 40% yang punya akses pada pembangkit listrik.

Program vaksin Covid-19 juga dapat menimbulkan rasa cemburu. Sudah banyak masyarakat yang merasa terabaikan karena didaerah mereka hanya ada pelayanan dari Klinik Kesehatan Ibu dan Anak (maternal and children’s health clinics/ MCH), tanpa ada yang dilakukan untuk mengobati penderita TB MDR, kusta, dan penyakit kronis lainnya. Jika ada vaksin lain lagi, untuk virus yang tampaknya tidak penting dalam kehidupan sehari-hari mereka, ini tidak akan diterima dengan baik.

Banyak ibu-ibu yang menghindari vaksinasi karena khawatir anak-anak mereka terlalu banyak menerima suntikan, dan merasa anaknya tidak memerlukan obat karena ‘mereka tidak sakit’. Ini masih terjadi padahal sudah ada sosialisasi jangka panjang dan program promosi imunisasi PNG yang berkepanjangan. Keyakinan yang sama terhadap vaksinasi kemungkinan besar akan berlanjut menjadi keraguan, bahkan penolakan, terhadap vaksin sebagai orang dewasa. Hanya 49% anak-anak di Provinsi Western yang pernah menerima vaksinasi, kemungkinannya kecil bagi program vaksinasi Covid-19 dengan sasaran orang dewasa bisa mencapai hasil yang lebih baik.

Tanpa vaksinasi yang meluas dan efisien, akan ada penularan virus yang terus berlanjut dan dapat menyebabkan munculnya varian Covid-19 baru, seperti yang telah terlihat di Inggris dan Afrika Selatan. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya tingkat keparahan penyakit lain di PNG, dan dapat membuat kampanye vaksinasi di negara Pasifik lainnya menjadi kurang efektif, karena varian virus yang baru dapat menjadikan PNG sebagai lokasi dimana infeksi ulang Covid-19 dapat terjadi. Serapan program pelaksanaan vaksinasi yang tinggi di daerah terpencil di PNG itu sangat penting untuk mencegah penyakit yang lebih agresif dan melindungi negara tetangga, termasuk Australia.

Meskipun virus Covid-19 ada di mana-mana, kehidupan sehari-hari di daerah terpencil di Provinsi Western tidak mengalami perubahan. Mengingat banyaknya ancaman penyakit lainnya yang dihadapi masyarakat, mungkin akan sulit untuk meyakinkan masyarakat agar memprioritaskan vaksinasi Covid-19. Minimnya serapan vaksin lalu dapat membahayakan kemampuan PNG untuk mencapai kekebalan kawanan yang diperlukan, yang lalu dapat menunda dibukanya perjalanan internasional, dan PNG akan tetap menjadi negara dengan risiko infeksi ulang Covid-19 tinggi. Setiap program vaksinasi harus sejalan dengan upaya yang sudah ada di lapangan untuk menguatkan sistem pelayanan kesehatan, atau kampanye itu kemungkinan besar tidak akan didukung oleh komunitas setempat yang merupakan sasaran vaksinasi. (The Interpreter)

dr. Mikaela Seymour adalah seorang tenaga medis yang bekerja di Provinsi Western, PNG. Ia pertama kali datang ke PNG pada 2015 dan telah kembali ke sana beberapa kali sejak itu.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top