Kerajinan kulit kayu, peluang usaha yang belum diminati 

Theresia Ohee menunjukkan hasil lukisan kulit kayu yang siap dijual - Jubi/Engel Wally 
Kerajinan kulit kayu, peluang usaha yang belum diminati  1 i Papua
Theresia Ohee menunjukkan hasil lukisan kulit kayu yang siap dijual – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Meski potensi sumber daya alamnya berlimpah, namun usaha kerajinan kulit kayu belum diminati oleh masyarakat, secara khusus kaum muda. Mereka lebih senang membicarakan  persoalan politik.

Hal ini disampaikan pemilik usaha kulit kayu Fansoay, Theresia Ohee. Dia memulai usahanya tahun 2009 di Kampung Harapan Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.

Menurutnya, selain usaha kulit kayu, masih banyak usaha yang bisa dilakoni oleh kaum muda di Kabupaten Jayapura. Seperti harapan pemerintah daerah saat ini, pemuda diminta kembali ke kampung dan membangun kampung masing-masing.

“Tidak ada yang mustahil, kalau usaha dimulai dari niat kita,” ujar Theresia, saat ditemui di tempat usahaya di Kampung Harapan, Selasa (29/10/2019).

Dikatakan, usaha kulit kayu yang digelutinya ini banyak memberikan manfaat bagi kehidupan keluarganya, tetapi juga banyak membantu kebutuhan lain dalam menunjang usaha yang dikerjakan bersama keluarganya.

Usaha kulit kayu, bagi ibu tiga orang anak ini dikerjakan bersama suaminya. Pengadaan bahan baku kulit dari pohon Kombou yang diambil dari hutan sekitar Kampung Ayapo, tetapi juga membeli dari daerah lain seperti Arso dan Keerom.

Loading...
;

“Sekali jalan untuk mencari kulit kayu harus dalam jumlah yang banyak untuk mencukupi kebutuhan pembeli,” jelasnya.

Dari bahan baku kulit kayu, kata Theresia, yang ditumbuk hingga menyerupai serat kain yang halus, dikeringkan lalu dibagi-bagi lagi untuk diolah menjadi tas tangan, tas HP, topi, rompi, dan baju.

Dari hasil yang sudah jadi, biasa digunakan untuk kebutuhan pameran, baik di Papua maupun di luar Papua. Tak jarang hasil kerajinan tangan ini dibeli dalam jumlah yang banyak. Harga jual untuk setiap hasil yang siap dipakai tidak memberatkan pembeli.

“Yang paling mahal Rp250 ribu untuk rompi dan baju. Sementara untuk lukisan hanya Rp75 ribu. Rp10-12 juta adalah nominal terbanyak yang pernah kami dapat dalam sekali penjualan,” jelasnya.

Sementara itu, suami dari Theresia Ohee, Yulianus Yunam, mengatakan untuk mendapatkan hasil kulit kayu yang terbaik memang tidak mudah. Harus dipastikan kondisi bahan bakunya layak untuk digunakan.

Karena, dengan bahan baku yang terbaik maka akan ada hasil yang terbaik pula. Pembeli dan pemesan yang sering berlangganan membeli produk akan puas.

“Apalagi menjelang PON XX/2020 nanti, tempat kami sangat dekat lokasi kegiatan,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wlandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top