Kerja berbulan-bulan tanpa upah, buruh musiman Vanuatu merasa diperbudak

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Brisbane, Jubi – Selama enam bulan, Silas Aru (53) memetik buah di kebun-kebun yang tersebar di sepanjang Queensland sebagai bagian dari Program Buruh Musiman rendah keterampilan yang dilakukan oleh pemerintah federal.

Aru mendapat upah total $150 saja. Dan ayah enam orang anak ini menyebutnya “perbudakan”, ungkapnya kepada brisbanetimes.com.au Senin (27/3) lalu.

Federal Circuit Court Justice Michael Jarratt​ berusaha keras membayangkan suatu kasus eksploitasi pekerja yang “lebih mengerikan”.

Ada hari-hari dimana dia tidak makan sama sekali, dan diselamatkan oleh beberapa butir buah tomat yang dia petik.

"Saya tidak pernah alami bekerja seharian penuh tanpa, paling tidak, minum secangkir teh,” kata Aru kepada investigator dari Ombudsman Fair Work.

Tapi Aru sebetulnya salah satu yang cukup beruntung. Tiga belas teman-temannya bahkan tidak menerima sesenpun dari hasil kerja mereka di Australia.

Loading...
;

Ini adalah bagian dari cerita 22 laki-laki Vanuatu yang bukan saja mencengangkan karena begitu telanjangnya eksploitasi mereka, yang dideskribsikan oleh Hakim Jarrat dalam penilaiannya sebagai “hal mengerikan”.

Namun lebih dari iru, eksploitasi tersebut terjadi justru sebagai bagian dari program pemerintah Australia sendiri yang membawa masuk pekerja-pekerja musiman dari Kepulauan Pasifik.

Kerja berbulan-bulan tanpa upah, buruh musiman Vanuatu merasa diperbudak 1 i Papua

Skemanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja rendah keterampilan di sektor holtikultura Australia dan untuk memberi bantuan dalam bentuk pekerjaan ke bangsa-bangsa Pasifik.

Perbudakan modern

Namun perlakuan terhadap para pekerja ini menguatkan ketakutan bahwa Program Buruh Musiman (SWP) akan menirukan praktek “blackbirding” yang terkenal karena kekejamannya. “Blackbirding” adalah peristiwa ketika 62,000 penduduk Kepulauan Pasifik dipaksa jadi budak di Queensland abad ke-19.

Aru dan 21 orang buruh Vanuatu lainnya direkrut pada bulan Mei  2014. Pebisnis Queensland, Emmanuel Bani, melakukan perjalanan ke Vanuatu untuk ikut berpartisipasi dalam program pemerintah tersebut. Dia menjalankan dua perusahaan pencari tenaga kerja di Queesland, termasuk Maroochy Sunshine, serta mendulang jejaring pemilik perkebunan yang sedang mencari tenaga kerja.

Bani perlu mengumpulkan persyaratan untuk bisa mengakses SWP. Pihaknya dikategorikan sebagai “pengusaha yang dijinkan” oleh Departemen Tenaga Kerja, Pendidikan dan Hubungan Kerja serta Departemen Imigrasi.

Tampaknya semua persyaratan yang diperlukan itu sanggup dipenuhi Bani, dan menunjukkan dia memahami hukum-hukum usaha di Australia. Hasilnya, dia sanggup mensponsori 416 buruh dengan visa bisnis.

Sementara di Vanuatu, Aru mendaftar ke SWP karena “dia dapat memperoleh upah yang baik untuk menyokong keluargana dan membantu bayar uang sekolah”. Demikian pula dengan Jacob Malsokle, yang bahkan sempat mengambil pinjaman dari Bang Nasional Vanuatu untuk membayar tiket dan pengeluaran lainnya hingga tiba di Queensland.

Kerja berbulan-bulan tanpa upah, buruh musiman Vanuatu merasa diperbudak 2 i Papua

Baik Aru maupun Malsokle membayar kepada seorang agen di Vanuatu sebesar $1500 ‘uang jalan’ untuk pastikan Bani mensponsori mereka. Selama lima bulan Aur harus kerja keras di Vanuatu untuk dapat menghasilkan uang sebesar itu.

Bani waktu itu berjanji 22 orang buruh tersebut akan mendapat pengarahan dari Fair Work Australia dan Australian Workers Union sesaat setelah tiba di Brisbane, namun hingga saat ini tidak pernah terjadi.

Akhir Juli 2014, mereka dibawa ke Helidon, sebuah kota kecil di Lockyer Valley dan disuruh menunggu. Makanan yang diberikan sangat sedikit, dan dari bukti di pengadilan federal makanan yang ada disebut “tidak pernah cukup dan tidak tahan lama”.

Bahkan lebih buruk lagi yang menimpa Aru dan teman-temannya saat setelah bekerja di kebun terdekat. Kadang mereka hanya diberi makan satu hari sekali.

Kerja berbulan-bulan tanpa upah, buruh musiman Vanuatu merasa diperbudak 3 i Papua

Di bulan Agustus lalu, mereka di paksa tinggal di kawasan Bundaberg, bekerja sporadis di kebun-kebun. Aru tinggal di hostel para ‘backpacker’ yang disebut “Cellblock”, dan beberapa hari hanya pakan sepotong roti dan air.

Kadang mereka tidur di kursi atau, jika melakukan perjalanan ke kebun yang makan waktu berjam-jam, maka mereka mereka tidur di bis yang diatur Bani.

Saat mereka mulai protes dan bertanya-tanya, Bani mengancam ke polisi dan mendeportasi mereka.

Aru dan rekan-rekannya, oleh Justice Jarrett, disebut berhasil “diselamatkan” di bulan September oleh " South Sea Islander Association. 

Tiga belas dari 22 oprang itu tidak menerima sepeserpun dari kerja mereka, sisanya dibayar total $1100 (masing-masing antara $50 hingga $150) oleh beberapa pemilik kebun dimana mereka sempat bekerja.

Aru telah kembali ke Vanuatu dalam lilitan hutang, setelah dieksploitasi dan diancam.

Menurut abc.net.au awal Februari tahun lalu, dari Juli 2012 sebanyak 8600 visa sudah diberikan bagi program buruh musiman tersebut, dengan sekitar 70 perusahaan pemberi kerja yang disetujui.(*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top