TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Kerusuhan melanda Tunisia usai pemecatan perdana menteri Hichem Mechichi

Papua, kerusuhan
Ilustrasi, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Bentrokan antar-pengunjuk rasa meletus di Tunisia sehari setelah Presiden Kais Saied memecat Perdana Menteri Hichem Mechichi dan membubarkan parlemen. Kerusuhan terjadi di depan gedung parlemen Tunisia pada Senin (26/7/2021). Militer Tunisia memblokade gedung parlemen di Ibu Kota Tunis sejak Senin pagi dan melarang pegawai pemerintah memasuki gedung parlemen.

Ratusan pendukung Saied dan partai terbesar dalam koalisi pemerintahan, Ennahdha, sama-sama menggelar unjuk rasa di depan gedung parlemen. Aksi saling hina, saling dorong dan lempar botol pun terjadi antara kedua kubu. Reuters melaporkan para pendukung Sied melempar tembakan dan batu ke arah pendukung Ennahdha yang melakukan aksi demo dengan duduk di depan gerbang parlemen.

Baca juga : Kerusuhan protes penahanan Jacob Zuma tewaskan 72 warga Afrika Selatan  

Kerusuhan di US Capitol, Uni Eropa tolak kunjungan Menlu Pompeo

Khamenei dukung garda usai kerusuhan jatuhnya pesawat

Tercatat Presiden Saied memecat Mechichi yang menjabat PM sejak 2020 lalu dan memerintahkan penangguhan parlemen selama 30 hari ke depan karena dinilai tak becus menangani pandemi virus Covid-19.

Saied mengatakan dia akan mengambil alih kekuasaan eksekutif “dengan bantuan” pemerintah, yang kepala pemerintahannya pun ditunjuk oleh presiden sendiri.

Pengumuman presiden itu memicu luapan kegembiraan dan rasa lega para pendukungnya. Kerumunan besar turun ke jalanan-jalan ibu kota dan kota besar lainnya pada Minggu (25/7/2021) untuk merayakan sambil mengibarkan bendera nasional.

Klakson kendaraan juga terdengar sepanjang malam dan kembang api menerangi langit Tunis. “Akhirnya beberapa keputusan yang bagus!” kata seorang pengunjuk rasa di Tunis, Maher.

Langkah dramatis Presiden Saied ini dilakukan meski konstitusi Tunisia menerapkan sistem demokrasi parlementer yang sebagian besar membatasi kekuasaan presiden soal isu keamanan dan diplomasi.

Dalam konstitusi Tunisia, presiden merupakan kepala negara sementara, sedangkan perdana menteri duduk sebagai kepala pemerintahan.

Ennahdha mengecam langkah Saied dan menyebut langkah presiden sebagai “kudeta terhadap revolusi dan melawan konstitusi.” Melalui pernyataan yang diunggah di Facebook, Ennahdha memperingatkan bahwa para anggotanya “akan membela revolusi”.

Sebelum pemecatan Mechichi dan pembubaran parlemen, ribuan warga telah berdemo di beberapa kota memprotes kinerja Ennahdha karena kegagalan mereka menangani pandemi Covid-19.

Seorang pejabat senior Ennahda kepada AFP menuduh protes tersebut merupakan rancangan Saied. Sejak Saied terpilih sebagai presiden pada 2019, ia terus berselisih dengan Mechichi dan Ghannouchi yang merupakan ketua parlemen Tunisia.

Persaingan ketiganya telah menghalangi penunjukan menteri kabinet dan mengalihkan segala isu prioritas mulai dari ekonomi hingga sosial untuk ditangani. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us