Khawatir dijiplak, Dekranasda Bali minta motif songket dipatenkan

Proses merajut kain tenun, pixabay.com
Khawatir dijiplak, Dekranasda Bali minta motif songket dipatenkan 1 i Papua
Proses merajut kain tenun, pixabay.com

Maraknya produksi kain printing dan bordir yang menduplikasi motif songket dan endek.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Denpasar, Jubi – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Bali, Putri Suastini Koster, meminta motif-motif kain songket yang diproduksi para pengrajin segera dipatenkan agar tidak mudah dijiplak. Permintaan itu terkait maraknya produksi kain printing dan bordir yang menduplikasi motif songket dan endek.

“Jika terus dibiarkan akan sangat merugikan para perajin yang menciptakan motif endek dan songket,” kata Putri Koster saat menerima kunjungan Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian ke pengrajin endek dan songket di Denpasar, Sabtu (8/2/2020) kemarin malam.

Baca juga : Perempuan -perempuan penenun

Pengrajin karawo dibekai ilmu desain

Suara dari anak noken

Loading...
;

Pemerintah Provinsi Bali melalui beberapa regulasi sedang mengintensifkan upaya pelestarian kain tenun ikat tradisional yang merupakan warisan adiluhung seperti songket dan endek.

“Namun, kini dengan alasan tekstur kain lebih ringan, masyarakat cenderung membeli kain bordir atau printing,”  kata Putri menambahkan.

Ia tak memungkiri kehadiran kain bordir dan printing tak bisa dibendung sebagai bentuk inovasi dan kreativita. Namun ia menekankan sebaiknya printing dan bordir harus menciptakan motif sendiri yang berbeda dari motif endek atau songket.

Selain maraknya motif songket dan endek tiruan,  saat ini usaha tenun ikat tradisional Bali juga dihadapkan pada kendala bahan baku benang serta makin surutnya minat tenaga kerja yang mau menekuni ketrampilan menenun.

Putri mencanangkan kampanye pemanfaatan pekarangan atau lahan kosong untuk penanaman pohon kapas atau budidaya ulat sutra untuk memenuhi ketersediaan benang sebagai bahan baku. “Dekranasda Bali juga akan berkolaborasi dengan TP PKK Bali untuk pemanfaatan lahan pekarangan,” katanya.

Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, mengapresiasi langkah yang ditempuh Dekranasda Bali dalam pelestarian tenun ikat tradisional. “Setiap daerah punya kain tenun khas tradisional yang menjadi kekayaan Nusantara,”kata Tri.

Ia mendukung upaya pelestarian yang dilaksanakan di tiap daerah, khususnya Bali. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top