HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Kilas balik kasus kekerasan terkait sihir di PNG

Tomayu Wanaeva diserang setelah tuduhan membunuh anak laki-lakinya sendiri menggunakan sihir. – Oxfam

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Rabu lalu (8/1/2020), mayat dua perempuan dan satu laki-laki ditemukan di tepi Sungai Mendi di Provinsi Southern Highlands. Polisi percaya bahwa jenazah itu adalah korban pembunuhan massal terkait dengan sihir, yang jasadnya dibawa ke hilir dari Karintz. Ketiga mayat itu ditemukan pada 31 Desember, 4 Januari, dan 5 Januari.

Ajun Komisaris Polisi (ACP) Kaiglo Ambane dari Western End telah mendesak masyarakat desa untuk membantu mewaspadai kemungkinan akan ada lebih banyak mayat mengambang di hilir.

Menurut laporan TIME, PBB memperkirakan ada 200 pembunuhan atas ‘penyihir’ di PNG setiap tahunnya, sementara aktivis lokal memperkirakan sekitar 50.000 orang telah diusir dari rumah mereka karena tuduhan sihir.

Dengan tulisan ini, rubrik Flashback surat kabar The National menerbitkan ulang kisah penyintas kekerasan terkait sihir, yang dilaporkan oleh ABC, serta laporan mengenai proses peradilan terbaru untuk memproses perkara terkait kekerasan sihir di PNG.

Seorang perempuan yang selamat dari kekerasan terkait sihir, yang meminta namanya tidak ditulis, dituduh melakukan sihir setelah seorang anak di komunitasnya meninggal.

“Ketika anak itu meninggal, mereka pergi ke tempat saya, saat saya kembali dari kebun dan mereka memukuli saya di jalan,” katanya melalui seorang penerjemah. “Setelah memukuli saya, mereka menggiring saya untuk melihat anak itu terbaring kaku. Mereka berkata kepada saya, bahwa sayalah yang membunuh anak itu, dan mereka berkata saya bukan dari sekitar sini, tidak ada orang-orang yang mengenal saya untuk melindungi saya.”

Loading...
;

Tetapi perempuan itu, yang tidak berasal dari daerah setempat, diselamatkan oleh seseorang yang melarikannya ke rumah sakit untuk menerima perawatan atas luka-lukanya.

Seorang laki-laki yang selamat dari kekerasan terkait sihir berkata ia teralienasi oleh keluarganya setelah kematian seorang sepupu di masyarakatnya. “Kerabat saya berkumpul dan mereka berkata saya telah menggunakan sihir pada anggota keluarga saya untuk membunuhnya,” katanya melalui seorang penerjemah.

Pemimpin-pemimpin masyarakat di PNG mengungkapkan mereka bingung mengapa ada peningkatan drastis dalam kekerasan terkait sihir baru-baru ini yang lebih sering menargetkan perempuan, di beberapa bagian di negara itu. Serangan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh melakukan sihir telah menyebar dari daerah-daerah terpencil di dataran tinggi negara itu ke kota-kota besar, mengkhawatirkan pengambil kebijakan yang mencoba untuk mengatasi persoalan tersebut.

Baca juga  Konsultan ketiga didatangkan pelajari tumpahan limbah Basamuk di Madang

Anton Lutz, seorang misionaris gereja Lutheran di Provinsi Enga di PNG, menerangkan bahwa ada tujuh serangan terhadap perempuan yang dituduh melakukan sihir – atau sanguma dalam bahasa setempat – di provinsi itu dalam lima bulan saja, sejak akhir September 2017 hingga Februari 2018. Enam diantaranya fatal.

“Dalam setiap kasus ini, mereka dipicu oleh kematian atau penyakit yang tidak dapat dijelaskan, dan masyarakat kemudian mencari kambing hitam dan mulai menyerangnya,” jelas Lutz kepada program radio Pacific Beat.

“Dan saat mengalami penyiksaan, perempuan-perempuan ini lalu mengungkapkan hal-hal yang membuat mereka kelihatan bersalah dan memperkuat kepercayaan ini.”

“Salah satu hal yang diyakini orang-orang tentang siapa yang disebut penyihir atau sanguma adalah, ketika mereka tidak disiksa mereka akan berbohong, dan ketika mereka disiksa mereka akan mengungkapkan kebenarannya.”

Pemerintah PNG bekerja dengan kelompok-kelompok masyarakat di seluruh negeri, untuk mengimplementasikan rencana aksi Sorcery National Action mengurangi kekerasan melalui pendidikan, strategi hukum dan kepolisian, dan kesehatan. Bidang yang terakhir ini dilihat sebagai yang paling penting, karena sebagian besar kasus pembunuhan atau kekerasan terkait sihir bertepatan dengan kematian dan penyakit yang tidak dapat dijelaskan dalam suatu masyarakat.

Lutz menambahkan bahkan meningkatnya serangan di Enga terus terjadi meskipun tim tanggap regional sudah dibentuk, untuk mencoba menghentikan serangan-serangan dan pembunuhan. Ia yakin tim ini tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan tugasnya dengan baik.

Lutz berkata pemimpin-pemimpin gereja Lutheran dan kelompok-kelompok Kristen lainnya belum berhasil dalam membuat orang-orang melihat mengapa kekerasan terkait sihir itu salah.

Seorang bocah perempuan belia disiksa di PNG setelah dituduh melakukan praktik sihir pada November 2017. Anak itu, yang diyakini berusia sekitar enam tahun, menerima perawatan di rumah sakit atas luka-luka parah dan luka bakar setelah anggota komunitasnya menganiaya dia dengan pisau panas.

Lutz hadir di kelompok yang menyelamatkan anak itu dari desanya yang terpencil di dekat Sirunki di Enga, di pegunungan tinggi PNG. “Itu adalah pertama kalinya saya harus menghadapi anak kecil seperti ini,” kesah Lutz.

Anak itu diyakini merupakan putri dari Kepari Leniata, perempuan yang dibakar hidup-hidup di Mount Hagen pada 2013, setelah dituduh melakukan sanguma. Kematiannya yang ganas dilaporkan di berita-berita utama di seluruh dunia dan mendorong pemimpin-pemimpin PNG untuk berkomitmen tegas dalam menghentikan apa yang disebut pembunuhan sihir, namun insiden penyiksaan dan pembunuhan terus berlanjut.

Baca juga  Apakah pariwisata di Pasifik berhasil mengukuhkan pembangunan?

Perdana Menteri PNG saat itu, Peter O’Neill mengungkap amarahnya atas kekerasan terhadap bocah itu. “Di era modern, sanguma bukanlah praktik budaya yang nyata. Ini adalah keyakinan yang salah dan melibatkan kekerasan dan penyiksaan terhadap perempuan dan gadis oleh seseorang yang menyedihkan dan sesat,” tambahnya.

O’Neill berkata polisi telah dikirim untuk menyelidiki insiden itu dan “siapa pun yang mencoba menghalangi penyelidikan resmi ini akan ditangkap”.

Gubernur Enga Peter Ipatas mengimbau masyarakat untuk “membantu menghentikan praktik menuduh orang melakukan sihir dan menyiksa dan membunuh orang yang tidak bersalah”.

“Kepercayaan kepada sanguma ini bukan bagian dari hukum kita, keyakinan kita, atau budaya kita,” tegasnya.

Seorang pejabat kesehatan masyarakat tinggi di PNG mengusulkan agar otopsi publik dilakukan dalam kasus-kasus di mana orang menuduh ilmu sihir sebagai penyebab kematian. Kepala Dinas Kesehatan Enga, Dr. Betty Koka, menjadi semakin khawatir melihat jumlah orang yang diserang dan bahkan dibunuh karena tuduhan sihir atau sanguma. Koka menerangkan bahwa mendidik orang-orang dan menghilangkan mitos mengenai sihir, bisa membantu mencegah tuduhan sihir selanjutnya dan mengurangi jumlah serangan.

Desakan Koka diungkapkan ketika serangan terhadap orang-orang yang dituduh melakukan sihir semakin parah di PNG – termasuk pada anak-anak dan pejabat peradilan paling senior di negara itu, Sir Salamo Injia. Sir Salamo, Ketua Mahkamah Agung PNG, disergap oleh massa saat ia dalam perjalanan dari rumahnya di Enga.

Selama 20 tahun terakhir, jumlah rata-rata kematian akibat sihir adalah 30 dan 72 insiden penganiayaan yang dilaporkan di surat kabar lokal setiap tahun, menurut sebuah studi oleh Divine Word University, National Research Institute, dan Australian National University.

Pada 2 Juli 2019 lalu, Hakim David Susame memenjarakan enam laki-laki, masing-masing delapan tahun dipenjara, karena menyiksa tiga perempuan yang mereka curigai melakukan sihir.

Hukuman yang adil setelah lebih dari empat tahun. (the National)

 

Editor : Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa