HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Kipra memperkuat masyarakat adat di Kampung Wembi dengan pelatihan hidroponik 

Suasana sosialisasi dan pelatihan tanaman hidroponik bagi masyarakat Kampung Wembi, Distrik Manem, Keerom, yang digelar Kipra Papua, Rabu (11/2/2020). - Jubi/Timo Marten
Suasana sosialisasi dan pelatihan tanaman hidroponik bagi masyarakat Kampung Wembi, Distrik Manem, Keerom, yang digelar Kipra Papua, Rabu (11/2/2020). – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Untuk memperkuat eksistensi masyarakat adat sebagai wujud pengakuan dan perlindungan untuk mengelola sumber daya alam bagi peningkatan ekonomi, Koordinasi Independen Rakyat (Kipra) Papua melakukan pelatihan menanam dengan media tanah atau hidroponik bagi mama-mama di Kampung Wembi, Distrik Manem, Kabupaten Keerom.

Pelatihan dilakukan selama dua hari, 12-13 Februari 2020 di halaman rumah Kepala Kampung Wembi, Blasius Pien, dan diawali sesi tanya jawab, yang diikuti sekitar 20 mama dari RT 01 dan RT 02.

Peserta pada hari pertama khusyuk mendengarkan penjelasan fasilitator tentang pengetahuan dasar hidroponik, pengenalan media tanam dan sistem-sistem hidroponik, serta nutrisi tanaman.

Setelah itu mereka melakukan praktik menyemai benih hidroponik, membuat sistem sederhana, melarutkan nutrisi dan pembuatan instalasi hidroponik.

Menanam dengan teknik hidroponik dianggap ramah lingkungan karena memanfaatkan barang-barang bekas berupa botol plastik, gelas plastik, dan jeriken. Jenis tanaman sayur yang bisa ditanam dengan cara hidroponik juga beragam, mulai dari kangkung, bayam, sawi, seledri, dan kemangi.

“Hidroponik tanaman yang sehat. Pertumbuhannya juga cepat. Tidak pakai pestisida,” kata Suyono, salah seorang fasilitator.

Loading...
;

Selain itu tanaman sayur sistem hidroponik sekaligus dijadikan tanaman hias di sekitar rumah. Dengan begitu, selain bermanfaat untuk dikonsumsi, sayuran hidroponik bisa dijadikan salah satu alternatif pengganti tanaman hias.

Menurut dia, tidak hanya perawatan mudah, tetapi juga usia panen sayur-sayuran hidroponik hanya membutuhkan waktu sekitar 30-40 hari untuk dipanen atau konsumsi.

Salah satu peserta, Mama Yohana Mekawa mengaku baru mendapat pengetahuan tentang hidroponik. Menurut Mekawa, usaha hidroponik tergolong sederhana karena menggunakan media sederhana dan dibuat di pekarangan atau sekitar rumah, sehingga mudah dikontrol.

“Perawatan mudah dan hasilnya bisa kita jual. Kalau kita jual sendiri hasil baru bagus,” ujarnya.

Secara garis besar, penanaman secara hidroponik ini mampu menghasilkan tanaman yang sehat, tidak membutuhkan banyak air seperti tanaman lainnya.

“Ke depan, semoga bisa dikembangkan pada pekarangan, di kebun-kebun. Ini praktis dan mendekatkan mama-mama dengan produksi,” kata Irianto Yakobus, penanggung jawab Yayasan Kipra Papua.

Irianto mengatakan, staf lapangan akan terus mendampingi masyarakat hingga mereka dapat memproduksi sayur-mayur hidroponik.

“Ini memang tidak bisa dilepas, karena bagi masyarakat, terutama untuk hidroponik, ini hal yang baru. Pendampingan akan dilakukan secara kontinu,” katanya.

Dia juga mengharapkan agar budi daya tanaman hidroponik dapat diusulkan untuk pengembangan dengan memanfaatkan dana desa, dan sayurannya bisa dijual di pasar-pasar terdekat seperti Arso, Koya dan Abepura.

“Keberhasilan pelatihan ini dari kita semua. Kita tidak berhenti pada pelatihan tapi bisa dikembangkan, apalagi dengan dana desa,” ujarnya.

Kepala Kampung Wembi, Blasius Pien (57) mengatakan pelatihan ini sangat membantu masyarakat untuk mengembangkan usaha pertanian.

Namun demikian, dia berharap agar mama-mama terus aktif, mengikuti pelatihan secara terus-menerus dan memerlukan pendampingan dari Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom.

Disinggung soal pemanfaatan dana desa atau kampung untuk mengembangkan hidroponik, dia mengakui bahwa hal itu belum masuk dalam peraturan bupati. Namun, sebagai pimpinan kampung dirinya berjanji akan melanjutkan usulan tersebut kepada pemerintah daerah.

“Barang (usaha) dia jalan dulu baru nanti diusulkan,” kata Blasius.

Dia juga meminta kepada pemerintah daerah setempat dan Kipra Papua agar tidak hanya pengembangan hidroponik tetapi juga menyumbangkan bibit pinang, kakao, dan durian untuk dikembangkan masyarakat Kampung Wembi.

Staf Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Keerom, Wahyu Kuntoro mengatakan pihaknya terus mendorong usaha masyarakat dengan sistem hidroponik.

Dirinya tidak berwenang untuk memastikan pemasaran, pembibitan, dan pendampingan untuk usaha awal masyarakat tersebut. Meski demikian, dia akan melaporkan hal tersebut kepada pimpinan dinasnya untuk ditindaklanjuti. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa